Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 121 Laki-laki tak pernah kesepian


__ADS_3

Hari dimana Ulang tahun dari salah satu rekan kerja Leon yang bernama Zein Hamid telah tiba. Sejak kemarin Ella sudah berada di kota Rennes - kota tempat perusahaan cabang yang dipegang oleh Leon.


Leon membawa sang adik tinggal di apartemen mewah miliknya. Apartemen yang berada di tengah-tengah kota membuat Ella bisa menikmati waktu malamnya dengan berada di balkon kamarnya, melihat pemandangan di bawah sana. Karena memang Leon membeli apartemen yang berada di lantai paling atas.


Tok


Tok


Tok


Terdengar suara ketukan dari luar pintu kamar. Ella yang tengah memoles wajahnya seketika berhenti. Ia beranjak dari sana dan menuju ke pintu.


Clek


Ella bisa melihat wajah tampan sang Kakak yang sudah siap dengan setelan formalnya yang mempunyai warna hampir menyerupai warna gaunnya itu. Ella tersenyum melihat Leon dan mempersilakan laki-laki itu masuk ke dalam kamarnya.


"Belum selesai?" Tanya Leon seraya duduk di pinggir ranjang Ella.


"Sebentar lagi, Kak. Memang acaranya jam berapa?" Tanya Ella sambil mengaplikasikan blush on di kedua pipinya.


Leon tampak melihat ke arah jam tangannya saat mendengar pertanyaan dari sang adik.


"Hm, sudah mulai lima belas menit yang lalu sepertinya." Ucap Leon dengan santainya. Ella yang mendengarnya seketika terkejut dan melototkan kedua matanya.

__ADS_1


"What? Are you kidding me, Kak? Kenapa Kakak baru bilang sekarang, huh," merasa sudah telat, dengan cepat Ella menyempurnakan penampilannya. Setelah dirasa sudah, ia beranjak dari sana dan bergegas memakai heelsnya dan mengambil tas kecil miliknya. Tak lupa juga ia mengambil Coat nya yang berwarna cokelat.


"Ayo, Kak." Ajak Ella seraya memakai coatnya itu. Leon yang melihat kearah Coat Ella yang belum rapi seketika tersenyum tipis. Leon mendekati Ella lalu membantunya memperbaiki penampilan sang adik.


"Lihatlah. Karena terburu-buru, kamu tidak memakai coatmu dengan benar." Ucap Leon. Ella yang mendengarnya seketika meringis lalu ia memeluk tubuh sang kakak tercinta.


"Kan ada kakakku yang paling the best ini. Thank's for everything, Kak. I love you," ujar Ella dengan memeluk erat tubuh kekar Leon. Leon tampak tersenyum bahagia lalu ia dengan perasaan yang sangat bahagia membalas pelukan itu tak kalah erat.


"I love you so much, baby. Everything for you, sweet heart," sahut Leon sambil melepaskan pelukannya. Tak lupa ia mencubit gemas hidung mancung Ella. Ella hanya bisa mencebik saat mendapatkan perlakuan itu. Meski gemas, tapi tetap saja sakit bagi Ella.


"It's hurt, Kak. huh," keluh Ella sambil menghentakkan kakinya. Leon hanya terkekeh melihat tingkah Ella yang seperti anak kecil baginya.


"Come on, baby. Let's go to the party," ucap Leon dengan semangatnya. Ia juga mengalungkan tangan kirinya di leher Ella.


Bukannya ikut semangat, justru Ella dibuat kesal akibat hal itu. Tatanan rambutnya kini menjadi tak Serapi sebelumnya.


Tak ada akur-akurnya antara Leon dan juga Ella. Kini keduanya seperti kakak adik pada umumnya. Leon yang sangat senang mempunyai adik seperti Ella, selalu saja menggoda dan mengganggunya. Bahkan sampai Chris dan Avril geleng-geleng kepala jika kedua anak mereka itu sudah terlibat perkelahian.


Meski dengan wajah yang ditekuk, tapi Ella masih menuruti semua perkataan sang Kakak. Dengan menggunakan mobil milik Leon, keduanya kini bergegas meninggalkan apartemen itu menuju ke tempat acara.


Setelah mengendarai sekitar empat puluh menit, keduanya kini sudah tiba di sebuah villa yang tampak dari luar sudah banyak mobil yang berdatangan. Suasana ramai terlihat jelas Dimata Ella saat ia masih di dalam mobil hendak mencari tempat parkir.


"Sepertinya ramai sekali, Kak." Ucap Ella memberitahu Leon.

__ADS_1


"Tentu saja. Zein Hamid Karzai adalah salah satu rekan kerjaku yang sukses di kota ini. Keluarganya merupakan pemegang nomor satu keluarga paling kaya di negara Perancis ini." Ucap Leon memberitahu sang adik. Ella yang mendengarnya hanya bisa mengangguk paham.


"Berarti Daddy masih kalah dong sama keluarganya?" Tanya Ella. Leon terlihat mengangguk tanpa ragu. Jelas kekayaan yang dimiliki oleh keluarganya tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekayaan milik Zein tersebut.


"Of course. Bahkan dengar-dengar kekayaan keluarganya tak akan habis meski sampai kegenerasi mereka yang kesepuluh sekalipun. Apalagi dia masih seumuran denganku dan satu-satunya pewaris di keluarga Karzai. Bisa dipastikan seluruh anggota keluarganya mandi emas setiap hari. Haha," meski Leon mengatakannya dengan tertawa, tapi Ella bisa pasti tahu bagaimana rasanya tak memiliki saudara. Pastinya sepi.


"Pasti dia kesepian," celetuk Ella yang seketika membuat Leon tak mampu menahan diri untuk tak tertawa terbahak-bahak. Ia baru tahu jika sang adik sangatlah polos. Kedua mata Leon sampai mengeluarkan air mata saking banyaknya ia tertawa.


"Kenapa kakak tertawa?" Tanya Ella heran. Karena memang itulah yang ia rasakan selama ia belum bertemu dengan keluarganya. Meski ia tinggal di panti asuhan, tapi di dalam lubuk hatinya yang terdalam ia merasakan sepi sekali.


''Kamu masih terlalu polos, baby. Laki-laki manapun di dunia ini tidak akan pernah merasa kesepian meskipun ia hanya tinggal seorang diri. Karena begitu banyak hiburan dan wanita di luar sana yang dengan senang hati bersedia menemani.'' Tanpa Leon sadari, ucapannya membuat sang adik berpikir ulang dengan kelakuan Kakaknya selama ini. Kedua mata Ella memicing kepada Leon.


Karena Leon masih serius memarkirkan mobilnya, jadi ia tak tahu jika adik tercinta nya itu tengah menatapnya dengan tajam. Saat melihat sang Kakak melepaskan seat belt nya, dengan cepat menarik telinga sang kakak dengan tangan kirinya. Apalagi sang kakak mengemudi di sebelah kirinya, hingga membuatnya lebih mudah untuk menarik telinganya.


"Aw,aw,aw"


"Lepaskan, Ell. Oh, God. Ini sangat menyakitkan," keluh Leon sambil memegang lengan Ella yang masih nangkring di telinganya.


"Jadi selama ini kakak juga seringkali bermain wanita diluaran sana? Iya? Huh," dengan penuh perasaan Ella menarik telinga Leon hingga membuat laki-laki itu setengah berteriak. Leon seketika melototkan kedua matanya mendengar ucapan sang adik. Ia tak menyangka jika ucapannya tentang rekan kerjanya itu membuat Ella menjadi berpikiran buruk tentangnya.


"Bukan, Ell. Mana mungkin aku seperti itu. Kamu sudah salah paham pada kakak," ucap Leon membela diri.


"Salah paham? Jelas-jelas kakak tadi berkata jika semua laki-laki itu tidak pernah kesepian. Aku belum tuli kak, jadi aku masih dengan jelas mendengar semua perkataan dari kakak tadi," ucap Ella yang tak mau kalah.

__ADS_1


'Sial. Kenapa jadi aku yang kena. Oh, God. Semakin lama adikku berubah menjadi seperti singa betina. Betapa kasihan nya yang menjad Li suaminya kelak,'


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2