
''Menurut hasil keputusan bersama, agency yang terpilih menjadi bagian dari Brand Ambassador hotel kami jatuh kepada agency M.D Entertainment. Selamat untuk Tuan Marcell,'' ucap Dinda seraya mengulurkan tangannya kepada Marcell. Tentu dengan bangga dan bahagia, Marcell menyambut uluran tangan itu dan berterimakasih kepada Dinda.
''Terimakasih, Nona. Terimakasih sudah mempercayakan tanggung jawab yang besar ini kepada agency kami. Model-model kami juga sangat profesional dan nama mereka sudah bisa disandingkan dengan nama beberapa model dari luar negeri.'' ucap Marcell dengan bangga memberitahukan tentang kualitas para modelnya. Dinda yang mendengarnya hanya bisa tersenyum.
''Baiklah kalau begitu, untuk Tuan Marcell jangan dulu pergi dari sini karena nanti kita akan membahas kontrak kerja yang akan kita bahas. Sedangkan untuk Starmedia dan H.M Entertainment, terimakasih sudah meluangkan waktunya untuk mengikuti meeting hari ini. Kami mohon maaf karena dikesempatan ini kalian belum terpilih. Semoga kita bisa dipertemukan kembali dilain kesempatan. Sekali lagi kami mohon maaf, Tuan-tuan,'' ucap Dinda dengan tulus kepada perwakilan kedua agency yang tidak terpilih itu.
Setelah kepergian kedua agency tadi, kini tinggal Marcell, asistennya, Dinda, dan dua orang bawahannya yang ada di dalam ruang meeting, yang tersebut. Mereka melanjutkan pembahasan mereka mengenai kontrak kerja yang akan mereka tanda tangani. Senyum yang merekah menghiasi wajah tampan Marcell saat ia keluar dari ruangan meeting tersebut.
''Akhirnya gue menang,'' gumam Marcell. Ia dan asistennya pun meninggalkan Wijaya group dengan perasaan senang sekaligus bangga. Sudah tak sabar baginya untuk memberitahukan kabar bahagia ini kepada seluruh karyawannya. Tak lupa juga ia akan memanggil model-model yang terpilih untuk menjadi Brand Ambassador hotel Wijaya.
*tok
tok
tok*
__ADS_1
"Masuk,'' terdengar suara berat dari dalam ruangan saat Dinda mengetuk pintu atasannya.
Ceklek
"Bagaimana dengan tadi, Din?'' tanya Arga sambil mengerjakan kerajaannya.
''Beres, Tuan. Sesuai dengan perintah Tuan. Nona Vanya dan Nona Cynthia yang akan menjadi modelnya.'' jawab Dinda. Ia bisa melihat kedua sudut bibir atasannya itu tampak menyungging kala mendengar ucapan dari nya.
''Good. Aku ingin kamu yang akan turun langsung mengawasi jalannya pemotretan itu. Jangan sampai ada kendala maupun sesuatu yang nantinya bisa menghambat jalannya pemotretan. Aku juga akan datang untuk melihat-lihat jalannya pemotretan itu,'' ucap Arga seraya beralih melihat ke arah Dinda.
'Mungkin hanya perasaan ku saja,' imbuhnya.
''Baik, Tuan. Saya yang akan menjadi penanggung jawab tugas kali ini.'' Arga menganggukkan kepala mendengar ucapan tegas dari sang asisten pribadinya itu.
''Kapan mulai jalannya pemotretan ?'' tanya Arga.
__ADS_1
''Untuk pemotretan nya sendiri akan dilaksanakan mulai tanggal sepuluh bulan depan, Tuan. Itu dikarenakan memang Nona Vanya masih ada kerjaan hingga tanggal sembilan nanti. Tidak apa-apa kan, Tuan?'' ucap Dinda menjelaskan. Arga tampak memikirkannya sejenak, setelah itu ia mengangguk paham.
''Oke, aku mengerti. Keluarlah ,'' ucap Arga mengusir asistennya tersebut.
Dinda pun mengangguk lalu pergi meninggalkan ruangan Arga. Sepeninggal Dinda, Arga menghentikan aktivitas nya di atas meja lalu beranjak dan berjalan membelakangi meja kerjanya menuju jendela besar yang ada di sana.
Tepat di depan jendela ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan pandangannya tertuju pada pemandangan yang ada di depan kedua matanya.
''Kau berhasil menarik perhatian ku, Vanya. Beberapa kali kita dipertemukan dengan tidak sengaja. Karena ketidaksengajaan itu juga membuatku merasa ada perasaan aneh yang terlintas dalam diriku yang tak pernah aku rasakan saat bersama dengan wanita lain. Siapa kamu sebenarnya, Vanya?'' gumam Arga sambil pikirannya melayang jauh disana, membayangkan wajah cantik Vanya yang tak pernah ia lihat tawanya. Bagi Arga, Vanya merupakan wanita misterius. Bahkan belum pernah sekalipun ia melihat wanita itu tertawa. Yang ada hanya senyuman tipis di bibirnya. Disaat semua wanita diluaran sana berusaha menarik perhatiannya dengan cara bersikap lemah lembut, tawa yang dibuat-buat, tapi tidak dengan Vanya. Hanya dengan ia berdiam saja mampu membuat seorang cassanova sekelas Arga tertarik. Walau Arga tidak memperlihatkannya, namun diam-diam ia selalu melihat pergerakan wanita itu disaat mereka bertemu.
''Haruskah aku buat perangkap untuknya agar terjebak bersamaku? Tidak-tidak. Itu bukan pilihan yang bagus. Haruskah aku menyingkirkan kekasihnya itu? Agar aku bisa dengan bebas mendekatinya? No-no-no. Ayolah, Arga. Itu sama sekali bukan gayamu,'' Arga terus saja berperang dengan dirinya sendiri. Di Satu sisi ia ingin mendekati Vanya, tapi disisi lain ia kehabisan akal karena Vanya memiliki seorang kekasih.
''We'll see... Akankah takdir akan menyatukan kita? Jikapun tidak, aku sendiri yang akan membuat takdir itu,'' ucap Arga dengan seringaian di wajah tampannya.
''Sampai bertemu lagi, Vanya.''
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...