
Arga terus melangkah, membawa Vanya keluar dari ballroom hotel tempat resepsi pernikahan sahabat mereka berlangsung.
Langkah Arga menuju ke arah resepsionis hotel tersebut. Vanya hanya bisa diam, memperhatikan apa yang tengah dilakukan oleh Arga.
''Ada yang bisa saya bantu, Tuan Arga?'' tanya salah satu resepsionis yang sudah mengenal Arga yang merupakan sahabat dari pemilik hotel tersebut.
''Satu kamar residensuit,'' ucap Arga yang seketika membuat Vanya mendongak. Tentu ia tahu maksud dari perkataan Arga pada resepsionis itu. Namun apa yang akan dilakukan oleh Arga padanya karena memesan sebuah kamar disana.
'Wait, wait. Kenapa harus pesan kamar? Tidak mungkin, bukan?' batin Vanya bertanya-tanya. Dalam hati Vanya sudah was-was dengan sikap Arga, apalagi dengan perangainya yang tak bisa diganggu gugat jika sudah memiliki tekad.
''Ini, Tuan.'' sahut resepsionis itu dengan memberikan sebuah kartu gold yang menandakan kartu untuk kamar mewah yang ada di hotel tersebut.
Setelah mendapatkan kartunya, Arga bergegas meninggalkan meja resepsionis itu.
''Ayo,'' ajak Arga pada Vanya.
Vanya hanya bisa diam sambil mengikuti langkah Arga yang kini menuju ke arah lift yang terletak tak jauh dari meja resepsionis itu.
Ting
Pintu lift terbuka. Arga dan Vanya segera memasuki ruangan sempit tersebut. Tak ada obrolan dari keduanya. Hanya hening yang ada di dalam ruangan itu.
''Kenapa harus ke kamar? Apa yang ingin kau pastikan, Ar-Arga?'' suara lembut Vanya memecah keheningan mereka. Arga yang masih diam sambil memegang erat tangan Vanya seketika menoleh.
Ia bisa melihat wajah Vanya yang terlihat nervous, apalagi ia tak mau melihat kearahnya. Seakan menghindari tatapan mata dengannya.
''Nanti kamu juga bakal tahu,'' jawab Arga. Vanya yang mendengarnya hanya bisa mendengus kesal karena ucapan yang diberikan Arga sangat tidak bisa menjawab pertanyaan yang ia berikan.
Ting
Setelah beberapa lama kemudian terdengar suara pintu lift terbuka lagi. Kini mereka telah sampai di lantai enam puluh lima. Walau bukan lantai paling atas, namun lantai enam puluh lima tersebut merupakan lantai dimana kamar yang biasa ia tempati jika tengah menginap disana.
Klik
Suara kunci kamar terbuka setelah Arga menempelkan kartu akses. Arga mendorong pintu tersebut lalu bersandar disana.
''Masuklah,'' titah Arga.
__ADS_1
Mendengar perintah itu Vanya masih terdiam di tempatnya. Dari tempatnya berdiri ia bisa melihat kemewahan yang terdapat di dalam kamar mewah tersebut. Kamar mewah yang bisa menghabiskan kocek hingga tiga digit dalam satu malam.
Arga yang melihat Vanya masih terdiam, langsung menarik lembut pergelangan tangan kanannya dan menariknya masuk ke dalam kamar tersebut.
Ceklek
Pintu kamar itu seketika menutup sendiri setelah kedua insan tersebut memasuki kamar. Arga menggiring Vanya untuk duduk di sofa yang ada di sana. Vanya hanya bisa menurut dan kini ia duduk disana.
Setelah memastikan Vanya telah duduk disana, Arga beranjak dari sana dan berjalan menuju dapur yang letaknya tak jauh dari ruang tamu itu.
Mengambil sebotol wine koleksinya, dan dua buah gelas kaca lalu membawanya menghampiri Vanya. Arga meletakkan salah satu gelasnya di depan Vanya kemudian menuangkan wine itu ke dalam gelas miliknya dan Vanya.
Setelah terisi, Arga meletakkan botol itu dan mengambil gelas miliknya. Ia mengarahkan gelasnya kepada Vanya.
''Cheers?'' ucap Arga kepada Vanya.
Melihat Arga yang mengajaknya bersulang, mau tak mau Vanya juga mengangkat gelas itu lalu menyatukan gelasnya pada gelas Arga hingga menimbulkan suara nyaring.
cring
Suara dua gelas beradu. Baik Arga dan Vanya mulai menyesap wine tersebut. Arga yang memang sangat menyukai minuman itu seketika tersenyum setelah menyesapnya.
''Hm, ini sangat enak. Apa ini salah satu koleksimu?'' tanya Vanya pada Arga. Ia terlihat sangat menikmati minuman itu hingga tanpa sadar ia berulangkali menyesapnya.
Arga tersenyum melihatnya.
''Hm, aku sangat menyukai minuman jenis ini. Aku sudah mencoba berbagai minuman di berbagai negara. Dan ini salah satu koleksi terbaikku yang aku dapatkan dari salah satu temanku di Perancis.'' jawab Arga sambil menggoyang-goyangkan gelasnya.
Kedua matanya tampak menatap ke arah manik mata Vanya yang sampai saat ini masih menikmati minumannya.
''Jangan minum terlalu banyak, kamu bisa mabuk.'' ucap Arga mengingatkan. Minuman itu memang sangat manis di lidah, walau ada pahitnya namun bagi para pecinta minuman keras, itu sudah biasa.
''Hm, aku sudah biasa. Château Gruaud Larose?'' ucap Vanya sambil membaca nama wine yang terdapat di botol itu.
''Hm,'' Arga hanya berdehem menjawabnya.
Keduanya kembali terdiam sambil menikmati minuman masing-masing.
__ADS_1
Arga menikmati minumannya sambil menatap ke arah Vanya. Sedangkan Vanya hanya bisa menghindarinya dengan mengalihkan pandangannya ke berbagai arah melihat interior dari kamar hotel tersebut.
''Can i ask you something, Van?'' tanya Arga memecah keheningan mereka.
''Hm, tanyalah.'' jawab Vanya. Ia masih menikmati minumannya yang kini sudah berkurang separuh. Ia merasakan dirinya sudah mulai menghangat akibat minuman yang ada di tangannya itu.
''Apa kamu sangat menyukai tatto? Aku ingat dengan tatto mawar milikmu. Kapan kamu memilikinya?'' tanya Arga.
Mendengar kata tatto seketika Vanya menoleh. Kemudian ia mengingat-ingat kenangannya.
''Aku membuatnya saat aku lulus SMA. Pertama kali mencoba, ternyata lumayan sakit juga. hahaha,'' jawab Vanya disertai tawa di belakangnya.
Saat ingat dirinya dimasa lalu ia merasa geli sendiri. Apalagi mencoba hal-hal ekstrim seperti tatto.
''Aku menyukai tattomu, sangat indah. Mengingatkanku dengan seseorang,'' ucap Arga. Vanya hanya diam mendengarkan.
''Apa dulu kamu pernah ke Bali, Van?'' tanya Arga lagi.
''Tentu. Aku beberapa kali ke Bali karena pekerjaanku. Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan itu?'' tanya Vanya yang kini penasaran dengan Arga.
''Karena kamu mengingatkanku dengan seseorang yang selama ini kucari, Vanya.'' ucap Arga sambil menatap lekat kedua mata Vanya. Vanya mengeryitkan dahinya mendengar ucapan Arga.
''Apa maksud mu? Aku tak mengerti,'' ucap Vanya. Kini ia memberanikan dirinya menatap ke arah Arga.
''Apa kamu pernah menghabiskan malam dengan seorang laki-laki lima tahun lalu?'' tak memberi jawaban, justru Arga melemparkan pertanyaan lagi kepada Vanya.
Namun pertanyaan Arga kali ini membuat Vanya membeku. Membawa ingatannya pada peristiwa dimalam perayaan kelulusannya saat ia berhasil lulus dari salah satu Universitas bergengsi di kota Surabaya.
deg
Tak bisa menjawab pertanyaan Arga, kedua mata Vanya menatap tajam ke arah Arga. Seolah bertanya apakah benar seperti yang kini ada dipikirannya.
Melihat Vanya yang terdiam, Arga langsung merogoh sakunya dan mengambil dompet miliknya.
Dari dalam sana ia mengambil sesuatu yang berkilau. Semua gerak-gerik Arga tak luput dari pandangan Vanya.
''Apakah kamu mengenali ini, Van?''
__ADS_1
*pyarr
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...