Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 65 Can I?


__ADS_3

''Awas kau, Vanya.'' sambil menahan sakit yang teramat sangat di kaki kirinya, Arga melangkahkan kakinya meninggalkan balkon kamarnya. Langkah besarnya menyusul Vanya yang kini sudah berada di dalam sana.


Wlekk


Setibanya di dalam, Arga bisa melihat bagaimana wajah Vanya yang menyebalkan di ujung sofa sana. Dia menjulurkan lidahnya kepada Arga, mengejeknya sambil memperlihatkan bagaimana ia meminum wine itu langsung dari botolnya. Seperti ia meminum air putih pada umumnya. Arga dibuat geleng-geleng kepala melihatnya.


'Oh, God! Lihatlah wajahnya yang menyebalkan itu. Tapi sialnya juga sangat cantik,' batin Arga yang masih saja terpesona dengan wajah Vanya yang kini berubah menjengkelkan itu.


''Tangkap aku, wlek.'' ucap Vanya kepada Arga. Wajahnya terlihat sangat bahagia saat ini.


Arga yang melihatnya tampak tersenyum tipis lalu ia mengendurkan tali dasinya dan melingkar lengan bajunya hingga ke siku. Tak lupa juga ia melepas jam tangannya yang masih bertengger di pergelangan tangan kirinya dan meletakkannya di meja yang tak jauh dari tempatnya. Setelah itu ia berjalan santai kearah Vanya. Tatapan matanya menyeringai melihat ke arah Vanya yang terus berusaha menghindar darinya. Vanya yang melihat Arga mulai bergerak kearahnya seketika berteriak dan berlari menjauhi Arga.


Alhasil aksi kejar-kejaran antara keduanya pun tak terelakkan. Vanya yang mempunyai tubuh ringan sangat lihai dalam pelariannya. Bahkan Arga tak menyangka jika Vanya sangat gesit sekali. Berulang kali Vanya bisa menghindari tangan Arga saat ia hampir saja ditangkap olehnya.


''Ha-ha-ha. Kejar aku, Arga. Ha-ha-ha. Wlek,' ucap Vanya sambilengacungkan jari tengahnya kepada Arga. Arga seketika dibuat melotot melihat hal itu.


Karena sudah terlalu gemas karena berulang kali Vanya mengejek Arga dengan mengacungkan jari tengahnya kepadanya, membuat Arga mau tak mau melompati sofa yang ada disana lalu dengan cepat ia menangkap tangan Vanya. Dan akhirnya Vanya pun berteriak. Untung saja kamar tersebut kedap suara. Bayangkan saja jika sampai ada orang diluar sana bisa mendengar suara keduanya.


Akh


''I got you, baby. See, I am the winner,'' ucap Arga sambil memeluk erat pinggang Vanya. Ia membawa tubuh ramping Vanya berputar-putar disana. Vanya tertawa lepas dibuatnya.


''Ha-ha-ha. Oke-oke. Lepaskan aku, Arga. Aku capek,'' ucap Vanya dengan napas yang masih ngos-ngosan. Begitu pula dengan Arga, ia juga masih berupaya mengontrol deru napasnya yang masih memburu karena aksi kejar-kejaran tadi. Namun pelukannya masih bertahan hingga sekarang.


Namun dalam hati ia cukup merasa senang karena bisa melihat tawa Vanya yang cantik karena tingkah keduanya tadi. Tak masalah jika harus berbuat seperti anak kecil asalkan bisa menciptakan tawa indah Vanya. Arga bersedia melakukannya, hanya demi Vanya - wanitanya. Memang dari awal ia tak terlalu serius berlari menangkap Vanya. Ia hanya ingin lebih lama melihat tawa kebahagiaan dari wanita yang dicintainya itu. Namun lama kelamaan ia dibuat kesal karena Vanya selalu mengejeknya.


Ini juga merupakan pertama kalinya ia melihat Vanya mengeluarkan tawanya yang lepas, seakan tak ada beban di dalamnya. Ia bertekad agar nanti dirinya bisa terus membuat tawa Vanya selalu seperti saat ini kedepannya.


''No, baby. Aku tak ingin kecolongan lagi. Aku akan memberimu pelajaran. Rasakan ini,'' ucap Arga lalu ia membawa dan menghempaskan tubuh Vanya di sofa. Dengan cepat ia naik ke atas sofa, mengungkung tubuh ramping itu dan menggelitiknya.

__ADS_1


Aaaa


''Ampun. Ha-ha-ha, ampun. Geli sekali, Arga. Ha-ha-ha, ampun,'' ucap Vanya kegelian akibat ulah tangan Arga yang menggelitik di bagian pinggangnya. Tubuh Vanya menggeliat dibawah tubuh Arga hingga setengah beberapa lama kemudian Arga menangkap kedua tangan Vanya dan menguncinya diatas kepala Vanya. Keduanya merasa lelah akibat aksi kejar-kejaran tadi.


*hah ..


hah ..


hah* ..


Napas keduanya saling memburu. Apalagi posisi Arga yang kini masih diatas Vanya membuat Vanya bisa merasakan napas hangat Arga. Tubuh Vanya sendiri dikunci oleh Arga hingga membuat dirinya tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah.


*deg


deg*


Perlahan Arga mendekatkan wajahnya ke wajah Vanya. Semakin lama semakin dekat hingga hidung mancung keduanya saling bersentuhan. Seakan tak mau terburu-buru Arga melihat ke arah mata Vanya. Ia berusaha melihat apakah ada penolakan di dalam mata Vanya, namun tak ada. Ia melemparkan kode kepada Vanya, seolah bertanya apakah boleh ia melakukannya atau tidak.


''Can I?'' tanya Arga tepat di depan bibir Vanya. Entah apa yang ada di pikiran Vanya, ia pun hanya menganggukkan kepalanya.


Melihat hal itu membuat Arga tersenyum lalu ia pun mencium bibir itu.


Cup


''I love you, baby.'' ucap Arga disela-sela ciumannya. Arga pun melepaskan genggamannya pada kedua tangan Vanya. Vanya tak membalasnya hanya senyuman yang diberikan kepada Arga. Tangan kanan Arga meraih tengkukVanya dan menekannya. Sedangkan tangan kirinya menyelip di pinggang ramping Vanya dan sesekali meremasnya.


''Thank you,'' ucap Vanya sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Arga. Arga pun tak mempermasalahkan hal itu, cukup Vanya mau menerimanya ia sudah bahagia untuk saat ini. Paling tidak Vanya sudah sedikit membuka hatinya untuk dirinya. Untuk kedepannya, pasti Arga bisa membuat Vanya membalas perasaannya.


Tentu sebagai seorang Cassanova sejati, Arga tahu bagaimana memperlakukan seorang wanita apalagi wanita itu seperti Vanya. Cukup dengan kelembutan dan kehangatan dalam bertindak pasti bisa membuat Vanya jatuh dalam pelukannya.

__ADS_1


'Kelak aku pastikan kamu hanya untuk diriku, baby. Aku pastikan itu. Dan aku akan menggunakan berbagai cara agar bisa memisahkan kamu dengan laki-laki brengsek itu,' batin Arga.


Kini keduanya sama-sama menikmati ciuman itu. Karena lelah dengan posisi itu, Arga menarik tubuh Vanya untuk duduk hingga kini berada dipangkuan Arga. Arga memeluk pinggang ramping Vanya. Sedangkan Vanya memegang kedua bahu kekar Arga.


Tangan kanan Arga mulai terulur menyentuh wajah cantik Vanya. Vanya pun memejamkan mata menikmati sentuhan lembut itu.


Tak beberapa lama kemudian ia merasakan sebuah kecupan di keningnya. Vanya tersenyum. Ini pertama kalinya ia diperlakukan sehalus itu oleh seorang laki-laki. Bahkan ia kini sangat menyukai aroma maskulin yang menguat dari tubuh Arga. Aroma yang sangat memabukkan namun juga membuatnya nyaman jika berada di dekatnya.


Bahkan jika dibandingkan dengan Marcell dulu, Vanya tidak merasakan kelembutan itu. Sejak pertama kali Marcell melakukannya dengan dirinya, laki-laki itu sangat menggebu-gebu sehingga membuat Vanya tidak mendapatkan kesan baik saat pertama kali berhubungan dengan nya.


''Matamu sangat indah, baby. Aku sangat menyukainya,'' usai mengucapkan itu, Arga menghadiahi kecupan di kedua mata Vanya. Vanya tersenyum manis.


''Pipimu juga indah. And i love it,'' lanjut Arga dan juga mencium kedua pipinya.


''Hidungmu mancung, membuatmu semakin cantik. Aku terpesona melihatnya,'' lagi. Kecupan dengan sedikit hisapan disana. Vanya dibuat meleleh akibat perlakuan Arga padanya.


'Oh, God! Bagaimana aku tak jatuh cinta padanya jika perlakuannya seperti ini kepadaku,' batin Vanya yang sangat terlena dengan perlakuan manis Arga.


''Dagumu juga runcing, baby. Membuatku ingin menggigitnya,'' ucap Arga lalu ia menggigit kecil dagu itu. Vanya terkekeh melihatnya.


Setelah itu Arga kembali menatap ke arah manik mata Vanya. Vanya dibuat heran karena Arga melupakan bibirnya.


''How about my lips? Don't you like it? (Bagaimana dengan bibirku? Apa kamu tidak menyukainya?)" tanya Vanya heran.


Arga mendekatkan wajahnya ke wajah Vanya. Saat wajahnya berada tepat di depan wajah Vanya, Arga membisikkan sesuatu padanya.


"No longer like. But I'm so crazy about your beautiful lips, baby.(Bukan lagi suka. Tapi aku sangat tergila-gila dengan bibir indah mu, baby.)"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2