Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 68 Arga Mesum


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam di dalam kamar mandi, akhirnya Vanya keluar dengan menggunakan bathrobe hotel.


Dengan berjalan sedikit mengendap-endap, Vanya ingin melihat apakah Arga masih ada di dalam kamar atau tidak.


''Huft. Untung saja dia gak ada.'' ucap Vanya sambil mengelus-elus dadanya.


Lalu ia melangkahkan kakinya menuju ranjang di sana. Hingga pandangannya tertuju pada sebuah paperbag yang berlogo salah satu butik terkenal di kota itu disana. Vanya bisa menebak jika itu adalah pakaiannya yang sudah disiapkan oleh Arga untuk dirinya.


''Let's see,'' ucap Vanya sambil tersenyum melihat ke dalam paperbag itu. Lalu ia mengambil perlahan dress berwarna biru dengan bahan model sabrina tersebut.



Tanpa menunggu waktu lama, Vanya pun mulai menggunakan pakaian dalam yang sudah tersedia di dalam sana berikut dengan dress tersebut. Bahkan ia dibuat geleng-geleng kepala dengan ukuran pakaian dalamnya yang sangat pas di tubuhnya.


''Dasar. Memang Cassanova sejati,'' ucap Vanya sambil berusaha menarik resleting gaunnya yang ada di belakang.


Tampak sedikit susah hingga sebuah tangan mengambil alih dan membantunya menarik resleting itu.


''Kenapa menggerutu sendiri, baby? hm,'' tanya Arga sambil mengendus-endus tengkuk Vanya yang sangat harum aroma sabun hotel tersebut.


''Ck, minggir. Bagaimana kamu tahu ukuran dalamanku, Ar?'' tanya Vanya sambil berjalan menghampiri meja rias dan mengambil kotak aksesoris yang ada di dalam tas miliknya. Sedangkan Arga masih senantiasa mengikuti langkah Vanya lalu memeluk tubuhnya dari belakang. Sejak semalam Vanya sudah kembali memanggil Arga dengan sebutan Ar. Apalagi saat keduanya berada dalam permainan panas mereka, Arga tampak lebih beringas saat Vanya berteriak-teriak menggaungkan namanya itu disertai desahannya.


''Itu sangat mudah sekali, baby. tiga puluh enam B,'' ucap Arga sambil kedua tangannya tiba-tiba menangkup kedua aset milik Vanya itu. Seketika kedua mata Vanya melotot lalu ia langsung memukul kedua punggung tangan Arga yang masih nangkring di sana.


Plak


"Aduh," seketika Arga mengaduh karena pukulan dari Vanya. Sedangkan Vanya langsung berbalik dan menatap tajam ke arah Arga.


'' Jaga tanganmu itu, Ar.'' ucap Vanya sambil menunjuk ke arah wajah Arga. Bukannya takut, justru Arga malah tersenyum manis.


cup


Arga mengecup telunjuk Vanya itu dengan santainya. Vanya hanya bisa geleng-geleng kepala lalu ia kembali berbalik dan duduk di kursi. Ia mulai mengambil peralatan tempurnya dari dalam tas branded nya.

__ADS_1


Sedangkan Arga masih setia berdiri di belakang tubuh Vanya sambil menatapnya dari pantulan cermin. Bahkan hingga saat ini Arga masih menggunakan celana panjangnya saja tanpa atasan. Membuat tatto yang ada di tubuhnya itu terekspos sempurna.


Vanya yang tengah mengoleskan skincare miliknya itu dibuat beberapa kali gagal fokus karena pemandangan seksi Arga. Berulang kali Vanya geleng-geleng kepala, berusaha tak melirik ke arah tubuh Arga. Sedangkan Arga? Dia tampak tak mengetahuinya karena ia kembali fokus melihat ke arah ponselnya. Hingga beberapa saat kemudian pandangan keduanya bertemu lalu Arga tersenyum penuh arti.


''Kamu lihat apa, baby?'' tanya Arga sambil menatap lekat Vanya.


ehem


Vanya hanya berdehem lalu dengan cepat ia mengaplikasikan blush on miliknya dan segera membereskan beberapa peralatan tempurnya itu dan memasukannya kembali.


''Ti-tidak apa-apa kok. Kenapa memangnya?'' tanya Vanya balik. susah payah ia berusaha mengendalikan detak jantungnya yang berdegup kencang karena keberadaan Arga yang saat ini berusaha mendekati tubuhnya.


''Jangan malu-malu, baby. Aku tahu apa yang sejak tadi kamu lihat. Kamu menginginkan ini kan?'' tanya Arga sambil menggesekkan miliknya itu di punggung Vanya.


Vanya yang merasakan sesuatu yang sedikit keras berada di punggungnya itu seketika tersedak ludahnya sendiri.


uhuk uhuk


Ia tak menyangka jika Arga ternyata sangat mesum. Ia meruntuki kebodohannya sendiri karena kepergok melihat ke arah senjata tempur milik sang Cassanova itu.


''A-apa maksud mu? A-aku tak melihat apa-apa kok,'' elak Vanya sambil berdiri dari duduknya. Setelah ia menyemprotkan parfum di beberapa bagian tubuhnya, Vanya segera berjalan meninggalkan Arga.


Ia ingin segera keluar dari kamar laknat itu sebelum kembali di terjang oleh singa kelaparan itu.


''Mau kemana, baby?'' ucap Arga sambil menarik pinggang Vanya dan memeluknya dari belakang saat Vanya berjalan melewatinya.


''Ck, cepatlah mandi. Aku harus segera pulang, mau istirahat. Badanku rasanya remuk semuanya gara-gara kamu,'' ucap Vanya sambil mencebik. Arga Terkekeh mendengarnya.


cup


Arga mengecup pundak mulus Vanya yang terbuka. Kini hidupnya terasa lebih berwarna setelah ia berhasil mendapatkan Vanya, wanita yang sejak lima tahun lalu ia cari-cari.


''Jangan cium-cium. Cepetan mandi sana,'' ucap Vanya sambil berusaha melepaskan pelukan Arga.

__ADS_1


''Ck, aku masih ingin seperti ini sama kamu, baby. Bisakah kita ulangi lagi, hm? Rasakan. Dia sudah bangun lagi,'' ucap Arga sambil menempelkan miliknya yang sudah mengeras itu di pantat Vanya. Vanya seketika dibuat melotot karenanya.


Dengan cepat Vanya menginjak kaki kiri Arga dengan menggunakan kakinya hingga membuat Arga mengumpat.


''Oh, sh**. Kamu sangat kejam, baby.'' keluh Arga sambil melepaskan pelukannya pada Vanya. Vanya hanya mengendikkan bahu lalu mengambil sepasang heelsnya semalam dan berjalan meninggalkan kamar itu.


''Jangan keluar dulu, baby. Tunggu aku.'' ucap Arga sedikit berteriak karena Vanya sudah berada di ambang pintu. Setelah mengatakan itu, Arga langsung bergegas membersihkan tubuhnya.


Sedangkan Vanya kini berjalan menuju dapur. Ia melihat-lihat disana. Membuka kulkas lalu mengambil sebuah apel dan memakannya. Ia merasa lapar sekali sejak tadi.


''Ck, aku lapar sekali. Tapi tak ada makanan sama sekali.'' gerutu Vanya sambil menikmati apel merah tersebut.


Lalu ia mengalihkan pandangannya pada ponselnya. Saat beberapa lama kemudian terdengar suara bel berbunyi.


Ting tong


Vanya menghentikan aktivitas nya. Ia masih tak bergeming di tempatnya. Menerka - neraka siapa gerangan yang datangi kamar ini.


'Mungkinkah pacarnya Arga datang ke sini? Atau jangan-jangan salah satu partner ranjangnya? Buka gak ya? Nggak ah. Kepergok sama orang lain bisa bahaya nanti,' batin Vanya sambil terus menimbang - nimbang mau buka pintu itu atau tidak.


Ting tong


Bel kamar kembali berbunyi. Bahkan saking seriusnya membuat Vanya hanyut dalam lamunan. Hingga sebuah suara mengejutkan dirinya.


''Kenapa gak dibuka pintunya, baby? Tadi sebelum aku masuk kamar, aku pesan makanan untuk sarapan kita berdua.'' ucap Arga sambil berjalan menuju pintu kamar. Penampilannya yang masih menggunakan handuk yang dililitkan di pinggang membuat dada Vanya berdesir.


'Oh, God. Maha sempurna Tuhan menciptakan dirinya,' batin Vanya yang memuji kegagahan tubuh laki-laki itu. Tanpa ia sadari Vanya menatap gerak-gerik Arga hingga tak berkedip.


Bahkan hingga saat Arga berjalan menghampiri dirinya sambil mendorong troli makanan, Vanya masih senantiasa menatap ke arah tubuh sixpack Arga. Arga yang melihatnya hanya bisa tersenyum tipis lalu ia langsung menghadiahi Vanya dengan sebuah kecupan manis di bibirnya.


Cup


__ADS_1


(Anggap saja tempatnya di dalam kamar hotel mewah dan masih menggunakan handuk ya gaes ... tapi tubuhnya ya begini nih ... uuuuhhhuuuyyy)


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2