Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 33 Cynthia berulah


__ADS_3

Cynthia yang melihat interaksi keduanya tampak semakin mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.


Tak mau kehilangan momen itu, ia mengambil ponselnya dan mengabadikan momen itu dengan seringaian di bibirnya.


''Kita lihat saja nanti, Vanya. Apa loe masih bisa ketawa seperti sekarang ini lagi, huh,'' gumam Cynthia sambil mengirimkan foto hasil jepretan ponselnya itu kepada seseorang. Ia yakin cepat atau lambat Vanya akan mendapat kejutan hari ini.


''Rasakan itu, ja...lang. Berani-beraninya loe ngrebut mangsa gue,'' batin Cynthia. Ia tersenyum menyeringai sambil menikmati minuman miliknya.


bugh


Dengan kesal Vanya mukul lengan Arga karena merasa dibohongi olehnya. Namun sedetik kemudian ia tersadar dengan perilakunya itu, ia pun meminta maaf kepada Arga.


''Ma-maaf. Habisnya kamu itu keterlaluan. Aku udah khawatir banget tapi kamu ternyata hanya mengerjai ku,'' ucap Vanya sambil menunduk.


''Ha-ha-ha, it's okay. Habisnya wajahmu menggemaskan sekali saat seperti itu,'' sahut Arga. Mendengar bosnya itu tertawa membuat Dinda yang masih senantiasa berdiri di belakang nya itu tersentak. Ia mengerutkan dahinya melihat kelakuan Arga hari ini.


'Ini benar bos Arga, kan? Gila. Ini pertama kalinya selama bekerja disini aku melihat tawanya. Siapa wanita ini? Bagaimana ia bisa membuat Singa gila ini tersenyum, padahal biasanya bos langsung murka saat ada orang yang memukul dirinya. Nah ini? Jangankan marah, bahkan ia malah tertawa lebar bersama wanita ini. Apa jangan-jangan wanita ini adalah penakluk singa gila ini?' batin yang keheranan melihat gelagat sang Presdir yang menurutnya sangat berbeda. jika seperti ini, ia tampak seperti manusia normal lainnya.


''Dasar, gombal.'' ucap Vanya sambil mengalihkan pandangannya. Kalau boleh jujur, ia juga merasakan jantungnya berdetak lebih cepat namun ia tak mau terlihat. Ia hanya berdehem mengurangi kegugupannya.


''By the way, kamu bakal hadir di acar pernikahan Daniel kan?'' tanya Arga kepada Vanya. Ia penasaran dengan Vanya apakah ia akan datang ke pernikahan sahabatnya atau tidak.


''Tentu. Istri Daniel kan sahabtku dan Renata. Mana mungkin kami tidak hadir. Kata Valerie (Adik Daniel) kami juga sudah dikasih dress code buat acara pernikahan mereka.'' jawab Vanya. Memang beberapa hari yang lalu ia dikasih tahu adik perempuan Daniel jika ia dan Renata bakal menjadi Bridesmaids mereka.

__ADS_1


''Oh ya? sepertinya aku, Alvin, dan David juga dikasih setelan jas. Katanya sih biar seragaman dengan mereka.'' ucap Arga.


''Oh, berarti kalian yang akan menjadi groomsmen.'' sahut Vanya.


''Ck, aneh-aneh sekali mereka. Haih,'' ucap Arga menggerutu. Sebenarnya ia sangat tak menyukai acara-acara seperti itu, tapi apa boleh buat. Ia dan teman-temannya tak mungkin bisa menolak permintaan dari Valerie maupun Angel.


Vanya hanya tersenyum menanggapi perkataan yang keluar dari mulut Arga. Ia bisa memahami karena biasanya laki-laki itu sangat sulit diajak bekerjasama dalam sebuah kegiatan acara.


Saat keduanya tengah larut dalam percakapan santai, terdengar suara getaran yang berasal dari ponsel milik Vanya.


*drrrtt


drrrtt


Vanya mengeryitkan dahinya saat melihat nama Marcell terpampang jelas di layar pipih itu. Bahkan Vanya dengan sengaja tak menjawab panggilan itu, namun lagi-lagi Marcell masih berusaha untuk menghubungi dirinya. Mau tak mau ia harus menjawabnya sebelum apa yang tak ia inginkan terjadi.


''Maaf, aku mau angkat telepon dulu,'' ucap Vanya pamit kepada Arga untuk sedikit menyingkir dari sana. Arga hanya menanggapinya dengan anggukan kepala semata. Meski ekor matanya sesekali mencuri-curi pandang kearahnya.


Sesudah Vanya melangkah beberapa langkah dari Arga, ia pun mengangkat panggilan tersebut.


''Ha ...'' belum sempat Vanya berucap, suara Marcell menggelegar dari seberang sana yang memanggil dirinya.


''VANYA. APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN SEKARANG, HUH? LOE MAU DEKETIN PEMILIK PERUSAHAAN ITU? LOE SELINGKUH SAMA DIA, HUH? teriak Marcell dari seberang sana. Seketika Vanya menjauhkan ponsel itu dari telinganya karena suara Marcell yang sangat memekakkan telinganya.

__ADS_1


Vanya mengeryitkan saat mendengar tuduhan - tuduhan yang dilayangkan Marcell padanya. Namun sejurus kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Cynthia. Ia bisa melihat Cynthia mengangkat gelas jusnya sambil menaikkan sebelah alisnya dan juga senyuman kepadanya. Namun Vanya tahu arti dari senyuman Cynthia, senyuman yang mengejek.


''Wanita itu benar-benar..'' geram Vanya tanpa sadar ia meremas ponselnya yang masih melekat di telinga kirinya. Raut wajah Vanya bahkan berubah datar saat ini.


Tentu perubahan itu tak lepas dari pengamatan Arga. Arga bisa melihat tatapan tajam Vanya mengarah kepada teman sesama modelnya itu.


''Ada apa ini?'' tanya Arga dalam hati. Ia mempunyai firasat tak baik pada Vanya.


Kemudian Arga memiringkan kepalanya dan memanggil Dinda.


''Din, aku ingin kamu menyelidiki ada apa dengan Vanya dan juga temannya itu,'' ucap Arga sambil menunjuk ke arah Cynthia dengan gerakan dagunya.


Dinda yang mendapat perintah itu tentu saja hanya bisa menuruti dan sesegera mungkin menjalankan perintah dari atasannya tersebut.


''Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu,''


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


(Karena cerita ini ada kaitannya dengan cerita aku sebelumnya. Jadi buat yang ingin mengenal siapa itu Valerie, bisa baca 'Sang Penguasa' biar afdol. Tapi jika tidak ingin, kalian bisa membaca sekilas saja supaya agar tahu siapa mereka.


Karena ada beberapa part yang ada di cerita 'Sang Penguasa' itu ada kaitannya dengan cerita Vanya dan Arga ini.


Memang aku merencanakan bikin cerita yang saling bersangkutan satu tokoh dengan yang lain)

__ADS_1


__ADS_2