Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 123 Dipertemukan oleh takdir


__ADS_3

"Nerotouw? Apakah itu perusahaan besar yang kantor pusat nya ada di Paris?" Tanya Leon pada Zein. Tampak Zein menganggukkan kepala.


"Benar," jawab laki-laki yang haru ini berusia tiga puluh satu tahun itu. Ketiganya pun tampak mengobrol santai. Kedua mata Arga tak lepas dari sosok wanita cantik yang kini berambut pendek sebahu itu.


"Alright, silakan nikmati pestanya. Aku ke sana sebentar," ucap Zein saat ia melihat kedatangan temannya yang lain. Ia pun meninggalkan Arga dan juga Angel di sana.


Sepeninggal Zein, Arga dan Angel segera mengambil segelas minuman dan duduk di sofa yang ada di sana. Angel tampak menikmati pesta itu sedangkan Arga masih tak mengalihkan pandangannya dari sosok yang sangat ia rindukan itu.


'Vanya. Akhirnya takdir Tuhan mempertemukan kita kembali,' batin Arga yang sangat bahagia karena malam ini ia bertemu dengan belahan jiwanya.


Beberapa saat kemudian Arga melihat Vanya beranjak dari tempat duduknya. Ia menebak jika wanita itu hendak pergi ke toilet. Setelah ia amati, ternga benar dugaannya. Vanya benar-benar masuk ke dalam toilet yang ada tak jauh dari tempatnya berada.


Melihat hal itu, membuat Arga tak ingin menyia-nyiakan lagi kesempatan emas tersebut. Arga pun beranjak dari tempat duduknya juga. Saat ia hendak melangkah, tangan kanannya dicekal oleh Angel.


"Mau kemana, Kak?" Tanya Angel.


"Ke toilet sebentar," jawab Arga. Akhirnya Angel melepaskan cekalan tangannya dan membiarkan Arga pergi meninggalkan nya disana.


Di dalam toilet


Kedua insan yang kini saling berhadapan masih sama-sama diam membisu. Namun pancaran dari kedua mata mereka mengisyaratkan kerinduan yang sangat mendalam. Arga melihat wajah cantik Vanya semakin membuat dadanya terasa sesak. Setelah sekian tahun dalam kesedihan, kini akhirnya ia bisa bertemu lagi dengan wanita yang ia cintai dan ia inginkan di dunia ini.


Sedangkan Ella pun sama. Sebesar apapun usahanya untuk melupakan sosok laki-laki yang kini berdiri tegap di depan matanya nyatanya tak mampu. Bukannya pudar, malah rasa cintanya semakin besar sebesar rasa rindunya yang menggunung.


"Van?" Panggil Arga.


Tes

__ADS_1


Setetes air mata terjatuh dari kedua sudut mata Ella. Ia tak menyangka jika hari ini adalah hari dimana ia bisa bertemu dengan laki-laki yang masih sangat ia cintai itu. Lidah Ella terasa kelu hanya sekedar untuk menjawab panggilan itu.


Kedua matanya terasa memanas dan detak jantungnya seakan ingin keluar dari tempatnya saking kencangnya berdetak. Tak ada kata yang terucap dari bibir Ella, hanya isakan yang semakin lama semakin terdengar di telinga Arga.


Arga pun juga merasakan hal yang sama. Ingin rasanya ia berteriak sekencang-kencangnya namun tak ada yang bisa keluar dari mulutnya. Hanya satu kata yang masih bisa diucapkan oleh Arga saat ini.


"Van?" hanya nama wanita itu yang dapat Arga ucapkan. Perlahan ia melangkah, menepis jarak yang terbentang di antara keduanya. Jarak yang tak ingin ada lagi untuknya dan Vanya.


Pandangan keduanya masih bertemu satu sama lain, hingga kini Arga berdiri di depan Vanya. Arga bisa melihat wajah cantik wanitanya kini berlinangan air mata. Ia mengulurkan tangan kanannya mengusap kedua pipi mulus Vanya yang basah karena air mata itu.


"I Miss you, baby. I really do miss you. Aku sangat merindukanmu hingga membuat ku merasa seperti mau mati," bisik Arga tepat di depan wajah Vanya.


Hik hik hik


Hanya anggukan yang bisa Vanya berikan pada Arga sebagai balasan. Ia masih tak bisa berkata-kata, hanya Isak tangis yang terdengar dari mulutnya.


"Sssttt, don't cry, baby. Hatiku sangat sakit melihat air mata itu mengalir dari kedua mata indahmu," dengan sabar Arga menenangkan hati Vanya sambil mengelus punggung itu. Keduanya masih larut dalam rindu yang selama lima tahun belakangan ini merajai tubuh dan jiwa mereka. Pelukan erat, seakan tak ingin terlepas lagi nampak di kedua insan tersebut. Hingga sebuah ketukan keras mengganggu kemesraan keduanya.


Tok


Tok


Tok


Arga dan Vanya seketika tersentak dan saling melepaskan pelukan keduanya. Keduanya saling pandang, seolah bertanya siapa gerangan yang saat ini menggedor-gedor pintu kamar mandi tersebut.


"Siapa, Hon?" Tanya Vanya antara penasaran dan takut. Arga tampak menggelengkan kepala. Namun ia sangat bahagia ketika akhirnya ia bisa mendengar lagi suara lembut milik wanita yang merajai hati dan pikirannya tersebut. Apalagi Vanya tak sadar masih memanggilnya dengan sebutan sayangnya pada Arga, semakin membuat Arga berbunga-bunga. Semua beban dan amarah yang tadinya masih tersisa di dalam dirinya lenyap seketika.

__ADS_1


"Entahlah, sebaiknya kita keluar dari sini. Ayo," ucap Arga seraya meraih tangan kanan Vanya dan menggandengnya keluar dari sana.


Clek


Setibanya mereka diluar, terlihat seorang wanita yang tak keduanya kenal berdiri di depan pintu dengan melipat kedua tangannya. Tatapan matanya tajam kearah Arga maupun Vanya. Vanya hanya bisa menundukkan kepala, sedangkan Arga tampak cuek dan memasang wajah dinginnya.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Arga langsung membawa tubuh Vanya untuk berjalan menjauhi pesta di sana.


"Tunggu dulu, Hon. Bagaimana dengan kakakku?" Tanya Vanya yang teringat dengan kakaknya. Ia sudah terlalu lama meninggalkan sang kakak di dalam pesta tersebut.


"Hubungi dia, beritahu jika kamu pergi bersamaku. Masih banyak hal yang harus kita bicarakan, babe," sahut Arga sambil membawa Vanya pergi menuju ke pintu keluar villa tersebut.


Disaat keduanya sudah berada di luar pintu, terdengar suara seorang laki-laki yang membuat langkah Arga dan juga Vanya terhenti.


"Ella?"


Arga dan Vanya seketika berbalik dan menatap ke arah sumber suara. Kedua mata elang milik Arga tampak menelisik ke arah seorang laki-laki yang saat ini tengah berdiri di depannya. Terlihat jelas laki-laki itu nampak tertarik dengan wanitanya yang tak lain adalah Vanya.


Deg


'Mati aku,' batin Vanya saat melihat laki-laki yang satu ini mendatangi dirinya disaat ia tengah bersama Arga, yang notabene adalah seorang laki-laki pencemburu tingkat dewa.


"E-eh, Edward." Meski gugup, tapi Vanya masih membalas sapaan dari anak sahabat Daddy-nya. Setelah ia menyapa laki-laki itu, ia bisa merasakan genggaman tangan Arga semakin mengerat hingga membuatnya sedikit kesakitan.


'Oh, God. Pergilah dari sini, Edward. Tak bisakah kau melihat singa gila di sampingku ini seakan siap menerkam ku hidup-hidup, huh?' maki Vanya dalam hati pada Edward - laki-laki yang beberapa waktu lalu mendatangi rumahnya bersama keluarganya.


"Hi, Ell. Bagaimana kabarmu? Kamu kesini sama siapa? Sama Leon? Setelah pertemuan keluarga kita, Mommy ku selalu bertanya tentang mu..Ia berharap kamu bisa bermain ke rumahku lain waktu. Bagaimana?"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2