Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 41 Lagi


__ADS_3

Mobil yang dikendarai oleh Arga berjalan dengan kecepatan sedang. Saat di persimpangan jalan, Arga menghentikannya dikarenakan lampu lalu lintas yang berwarna merah. Mengingat lampu lalu lintas tersebut baru saja berwarna merah saat mobilnya akan melintas, otomatis membuat mobil Arga berhenti lebih lama.


Melihat hal itu, dimanfaatkan oleh Arga untuk mengutarakan perasaannya pada Vanya. Ia mengendurkan pegangan tangannya di kemudinya, mengalihkan pandangannya pada Vanya yang masih melihat ke luar jendela.


''Van?'' panggil Arga.


''Ya?'' jawab Vanya santai. Ia masih terlihat sibuk melihat ke luar jendela yang tampak ada beberapa gerombolan orang yang memadati sebuah cafe.


''Sepertinya aku menyukaimu, Vanya. Aku tak bisa menghapus bayangmu dari pikiranku,'' ucap Arga. Mendengar ucapan itu membuat Vanya seketika menoleh. Kedua matanya terbelalak mendengar penuturan dari mulut Arga.


*deg


deg*


Detak jantung Vanya berdetak tak karuan. Ia sangat terkejut bahkan hampir tak mempercayainya.


''W-what?'' tanya Vanya sekali lagi. Ia masih berpikir jika bisa saja ia salah dengar.


''it seems that I love you, Vanya. I can't erase your image from my mind (sepertinya aku mencintaimu, Vanya. Aku tak bisa menghapus bayangmu dari pikiranku,)" ucap Arga lagi. Pandangan matanya menatap lekat ke manik mata hazel milik Vanya. Sedangkan Vanya tampak terdiam sambil membalas tatapan mata Arga sama lekatnya. Sejenak keduanya tampak saling berpandangan beberapa saat hingga suara klakson dari mobil di belakang mobil Arga membuyarkan mereka.


*Tin ...


Tin* ...


Arga dan Vanya tampak gugup setelahnya. Namun Arga bisa menyembunyikannya dengan sempurna. Sedangkan Vanya hanya bisa memalingkan wajahnya ke luar jendela.


Hingga beberapa saat kemudian mobil itu tiba di depan sebuah Mansion yang tidak terlalu besar namun cukup mewah. Menandakan jika pemiliknya adalah orang yang berada. Mungkin bisa jadi sekelas dengan Arga atau setingkat dibawahnya.


''Thank, Ar-Arga.'' ucap Vanya. Arga hanya menganggukkan kepala.

__ADS_1


''Mansion siapa?'' tanya Arga saat melihat Vanya sudah berbalik hendak memutar kenop pintu mobil itu.


''Marcell,'' jawab singkat Vanya lalu ia keluar dari mobil itu. Terlihat Vanya menekan bel yang ada di samping gerbang besar disana dan tak lama kemudian nampak seorang laki-laki berpakaian satpam membukakan pintu untuk Vanya.


''Si...al!" umpat Arga sambil memukul kemudinya. Lalu ia pun pergi meninggalkan tempat itu dengan kecepatan tinggi, melampiaskan kekesalan yang ada di dalam dirinya.


Di Mansion Marcell


Setelah panggilan dari Marcell yang tidak diangkat oleh Vanya waktu masih di restoran tadi, Marcell pun mengiriminya pesan yang mengatakan jika ia menyuruh Vanya untuk datang ke rumahnya. Dan di sinilah Vanya berada.


''Dimana Marcell, Bi?'' tanya Vanya kepada salah satu Maid disana.


''A-ada di a-atas, Non.'' jawab Maid itu. Vanya hanya menganggukkan kepalanya lalu melangkahkan kakinya menuju ke kamar milik Marcell.


Marcell memang memiliki sebuah Mansion yang diperuntukkan jika kedua orang tuanya datang kemari. Saat ini kedua orang tuanya berada di Perancis.


Saat Vanya hendak memutar kenop pintu kamar Marcell, ia mendengar kembali suara-suara laknat yang berasal dari dalam kamar tersebut. Tangannya mengepal kuat mencengkeram pegangan pintu itu.


faster baby .... ah ...


terus .... oh .... God ... oh* ...


''Baji...ngan! Dia memang sudah keterlaluan. Aku sudah muak dengan semuanya." Geram Vanya sambil kedua matanya memerah memancarkan amarah yang sangat besar.


*ah .... ah ...


ayo terus .... dorong ...


aku hampir sampai ... ah

__ADS_1


sh...it .... oh* ...


Vanya melihat di sekitarnya. Pandangan matanya tertuju pada sebuah guci yang berada di samping pintu itu. Guci yang tidak terlalu besar namun cukup berat di tangannya.


Ia mengambil guci antik itu dan segera memasuki kamar Marcell. Ia melihat dengan kedua matanya sendiri Marcell tengah mengga...gahi seorang wanita dari arah belakang. Tampak kedua manusia itu tak menyadari jika sudah ada orang lain yang menyaksikan aksi bejat keduanya. Dengan amarah yang sudah membara, Vanya melemparkan guci tersebut ke dinding tepat di atas kepala Marcell dan wanita itu.


*Brakk....


aaaaaa*......


Suara pecahan guci itu begitu nyaring. Bahkan pecahan-pecahan dari guci itu mengenai tubuh po...los mereka. Sontak mereka berdua terkejut dan membalikkan badan mereka.


Marcell dan wanita itu tampak terkejut melihat kedatangan Vanya.


Vanya hanya tersenyum miring melihat wanita yang di tunggangi oleh Marcell adalah Laura Allison. Dia merupakan salah satu model yang baru-baru ini tergabung dalam agency Marcell. Vanya semakin yakin jika mereka berdua juga memiliki hubungan asmara seperti dirinya dan Marcell. Namun bedanya hubungan mereka dilakukan secara diam-diam. Mungkin itu karena Laura yang juga tak menyukai hubungan seperti itu. Wanita itu selalu menjadikan tubuhnya untuk mempermulus kiprahnya dalam dunia modeling maupun akting. Mungkin itu juga yang dilakukan Laura agar bisa masuk kedalam agency milik Marcell. Apalagi mengingat Marcell yang merupakan seorang pemain wanita. Jelas saja tak mungkin membiarkan kenik..matan itu pergi begitu saja.


Vanya bisa melihat Marcell membeku melihat kedatangannya. Sedangkan Laura tampak begitu tenang sambil mempererat pegangan pada selimut untuk menutupi tubuhnya.


''Van-Vanya? Ba-bagaimana kamu bisa datang kemari?'' tanya Marcell sambil mengambil kolor miliknya dan memakainya begitu saja. Bahkan ia melupakan naf...su yang tadinya sudah berada di puncak tertinggi kini lenyap begitu saja melihat kedatangan Vanya.


''Kau bertanya pada ku, Marcell? Bukankah kamu sendiri yang memintaku untuk datang kemari, hm?'' tanya Vanya yang berusaha menahan dirinya. Marcell masih tampak seperti orang kebingungan mendengar ucapan dari Vanya. Lalu Vanya merogoh ponselnya dan memperlihatkan bukti panggilan tak terjawab dari nomor Marcell dan sebuah pesan yang juga dikirim dari nomor Marcell.


''Aku belum mengirimi pesan padamu.'' ucap Marcell lalu sedetik kemudian ia menoleh kearah Laura. Tampak Laura menelan ludah kasarnya melihat tatapan tajam dari Marcell.


'' Oh begitu. Berarti yang mengirimiku pesan bukan kamu? Itu pasti kerjaan WANITAMU itu. iya kan, Laura?'' tanya Vanya sambil masih memasang senyum terpaksa nya. Kedua tangannya bersedekap di depan da..danya sambil menatap keduanya.


''Kenapa Laura? Kamu ingin memperlihatkan kelakuanmu dengan Marcell di depanku,huh? Ha-ha-ha. Laura, Laura. Kamu pikir aku akan seperti apa jika melihat kelakuan kalian? Sedih?Marah? No no no. Aku tak kan terprovokasi olehmu. Asal kamu tahu Laura, Marcell itu tidak akan bertahan dengan satu wanita. Bahkan sebelum bersamamu, aku sudah berulang kali memergokinya dengan wanita-wanita lain diluaran sana. Ck,ck,ck. Kamu salah besar jika mengharapkan laki-laki seperti Marcell, Laura.'' ucap Vanya panjang lebar kepada Laura. Tampak wajah Laura tampak memerah menahan amarah serta malu akibat Vanya. Namun ia terlanjur menaruh hati pada Marcell. Baginya Marcell bisa menjadi ATM baginya.


Sedangkan Marcell tampak diam seribu bahasa mendengar ucapan dari Vanya.

__ADS_1


''Van?''


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2