
Melihat Bos-nya tergeletak di lantai, Dinda dengan sigap segera menelepon dua bodyguard yang selalu standby di lantai bawah. Setelah menunggu beberapa menit, terlihat dua orang laki-laki bertubuh besar memasuki ruang kerja tersebut.
"Cepat. Angkat Tuan Arga, letakkan di dalam kamar." Titah Dinda kepada kedua orang itu.
"Baik, Nona." Secara bersamaan, kedua bodyguard itu segera mengangkat tubuh tak berdaya Arga. Dinda pun tak tinggal diam. Wanita itu segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang untuk meminta bantuan.
"Halo," terdengar suara seorang laki-laki di seberang sana.
"Halo, Tuan. Cepat datang ke kantor, Tuan. Tuan Arga tidak sadarkan diri. Tolong, Tuan." Pinta Dinda dengan suaranya yang kini sudah bergetar. Ia sangat khawatir dengan keadaan Bos-nya yang terlihat sangat mengenaskan tersebut.
"Oke. Aku akan kesana sekarang juga,"
Dinda hanya bisa berdoa dalam hati agar Tuan-nya itu tak kenapa-kenapa. Ia juga memerintahkan salah satu bodyguardnya untuk memanggil seorang office boy untuk membersihkan ruang kerja tersebut.
'Kenapa kamu jadi seperti ini, Ga? Ini bukan Arga yang ku kenal dulu. Kemana Arga yang dulu? Lebih baik Arga pemain wanita daripada Arga yang tak berdaya seperti ini. Kembalikan Arga yang dulu, Vanya. Kamu telah membuatnya menjadi seperti ini.' batin Dinda yang sangat menyayangkan kondisi Bos-nya itu. Karena ditinggal pergi oleh seorang wanita membuatnya seakan kehilangan dunianya.
Tak lama seorang office boy masuk ke dalam ruang kerja itu dan mulai membersihkan pecahan kaca yang terdapat di bawah sofa dan juga dibawah meja tadi. Dinda hanya bisa menghela napas panjangnya sambil menyenderkan tubuhnya pada dinding pintu kamar pribadi Arga.
Ia menunggu kedatangan Alvin - sahabat Arga di luar kamar. Sebagai seorang wanita dan juga istri orang, Dinda selalu menjaga sikapnya. Ia tak ingin sampai ada gosip yang nantinya akan berdampak buruk pada dirinya.
"Dimana dia?" Karena melamun, membuat Dinda tak menyadari jika Alvin kini sudah berada di depan wajahnya dengan membawa sebuah tas hitam di tangan kanannya. Dinda gelagapan lalu ia membungkukkan badannya pada Alvin. Ia pun segera mengantar Alvin menuju kamar tidur Arga.
Setibanya di dalam, Alvin segera mengeluarkan peralatan medianya dan mulai memeriksa keadaan Arga. Terlihat Alvin sampai geleng-geleng kepala saat memeriksa tubuh kekar sang CEO.
"Bagaimana, Tuan?' tanya Dinda khawatir.
__ADS_1
"Tenang saja, Mbak. Tak ada yang serius. Hanya kurang tidur serta terlalu banyak mengkonsumsi minuman keras. Membuat tubuhnya tak bisa bertahan lama. O ya, apa semalam ia belum makan?" Tanya Alvin yang curiga pada Arga. Pasalnya selama keduanya bersahabat, ini kali pertama Arga sampai pingsan akibat minuman. Padahal biasanya yang tidak kuat dengan alkohol adalah dirinya. Arga-lah orang satu-satunya yang ada di gengnya yang mampu menghabiskan banyak alkohol tanpa mabuk.
Dinda tampak berpikir sejenak hingga sepersekian detik kemudian kedua matanya terbelalak saat mengingat bahwa Tuan-nya itu belum makan malam saat ia meninggalkan kantor.
"Astaga. Kemarin memang saya pulang lebih awal, Tuan. Dan setahu saya Tuan Belum makan malam waktu itu. Saya juga tak menyangka jika Tuan Arga tidak memesan makan Jika beliau menginap disini. Padahal biasanya jika Tuan Arga menginap disini, Tuan selalu menelepon saya untuk memesankan makanan untuk beliau," ucap Dinda. Ia tidak menyangka jika majikannya itu sampai melewatkan makan malamnya. Alvin menghela napasnya, dugaannya benar.
"Baiklah, aku akan memasang infus untuk pengganti cairan yang tak terpenuhi untuk tubuhnya. Pastikan orang ini harus menghabiskannya." Ucap Alvin pada Dinda. Dinda yang mendengarnya langsung mengangguk paham.
"Baik, Tuan."
"Kalau begitu, aku pergi dulu, Mbak. Panggil perawat yang ada di poli kesehatan yang ada di kantor ini untuk membantu melepas selang infus jika memang sudah habis nanti." Imbuhnya yang langsung diangguki oleh Dinda. Alvin dan Dinda pun segera pergi meninggalkan kamar itu guna membiarkan Arga beristirahat.
Dinda mengantar kepergian Alvin sampai depan lift khusus. Setelah kepergian Alvin, Dinda segera menuju meja kerjanya dan mengambil gagang telepon, menghubungi seseorang untuk mengabarkan kondisi majikannya saat ini.
"Halo, Tuan. Ini saya, Dinda." Ucap Dinda memberanikan diri.
"Ya. Ada apa, Din? Ada masalah di kantor?" Tanya laki-laki itu.
"Ti-tidak, Tuan. Saya ingin memberi tahu kalau saat ini Tuan Arga tengah pingsan di kantor. Tapi saya sudah menghubungi Tuan Alvin. Beliau juga sudah datang dan memberikan infus untuk Tuan Arga." Jawab Dinda. Bahkan raut wajah Dinda kini ikut memancarkan aura ketakutannya. Mengingat laki-laki itu sangat galak dan juga tegas. Karena memang dirinya sudah pernah bekerja di bawahnya sebelum Arga menggantikannya sebagai pemimpin perusahaan tersebut.
"Apa? Bagaimana bisa? Baiklah, aku akan segera kesana." Sembur laki-laki itu pada Dinda. mengatakan itu, penerima telepon di seberang sana langsung mematikan sambungan telepon itu secara sepihak.
'Kuatkan saya, Tuhan. Padahal sudah jadi mantan Bos tapi aku masih saja takut,' ucap Dinda dalam hati.
Sambil menunggu kedatangan beliau, Dinda segera memulai pekerjaannya yang hari ini semuanya dikerjakan olehnya mengingat Arga yang tak mungkin bisa bekerja dengan kondisi yang seperti itu.
__ADS_1
Saking fokusnya Dinda memeriksa beberapa laporan, ia sampai tak mendengar suara pantofel seorang pria yang saling beradu di marmer yang sama di injaki olehnya. Hingga sebuah suara berat seorang laki-laki mampu membuat Dinda terjingkat.
"Dimana, dia?" Tanya laki-laki itu to the point'. Raut wajahnya yang sudah mulai keriput tampak tengah menahan kekhawatiran yang melandanya saat mendengar semata wayangnya yang ditemukan pingsan di kantornya.
"E-eh, Tuan. Selamat pagi, Tuan Arya. Tuan Arga sedang istirahat di kamar pribadinya yang ada di dalam ruang kerjanya, Tuan." Jawab Dinda dengan jantung yang kini sudah deg-degan tidak karuan.
Tanpa menunggu waktu lama lagi, Arya Wijaya tersebut langsung berjalan meninggalkan meja kerja milik Dinda - mantan asistennya dulu saat dirinya masih menjabat sebagai pemimpin dan pemberi keputusan dalam semua tindakannya.
'Meski sekarang sudah bukan bosku lagi, tapi rasanya masih sama. Masih menyeramkan seperti dulu. Hihihi,' ucap Dinda dalam hati sambil cekikikan sendirian.
Sesampainya di dalam kamar pribadi Arga, Arya langsung mendudukkan dirinya di pinggir ranjang samping tubuh lemah sang putra tercinta.
"Mengapa selalu seperti ini, Nak? Begitu besar pengaruh wanita itu dalam hidupmu hingga membuatmu menjadi seperti ini. Bahkan wanita itu juga yang mampu membuatmu berhenti dari kebiasaan buruk mu selama ini. Menjadikanmu pribadi yang lebih baik dibanding sebelumnya. Menjadikan dirimu seorang laki-laki yang bisa menghargai seorang wanita lagi." Gumam Arya yang sangat prihatin dengan kondisi kesehatan putranya. Ia tak menyangka jika wanita bernama Vanya Avriella itu mampu mengubah Arga menjadi manusia yang lebih baik. Yang tadinya seorang Cassanova sejati, semenjak kedekatan keduanya Arga tak pernah lagi berulah diluaran sana.
Arga tentu tahu segala tindak tanduk sang penerusnya itu diluaran sana. Diam-diam Arya selalu mengawasi pergerakan Arga tanpa ia ketahui. Arya hanya takut jika Arga sampai melakukan kejahatan yang bisa berakibat fatal untuk dirinya sendiri.
"Papa hanya berdoa yang terbaik untukmu, Nak. Apapun pilihanmu, Papa akan menghargai dan menyetujuinya asal kamu bahagia." Ucap Arya dengan tulus mendoakan Arga supaya memiliki kehidupan percintaan yang lebih baik darinya.
Arya Wijaya merupakan seorang duda semenjak dua puluh tahun yang lalu. Istrinya yang bernama Grace meninggalkan dirinya saat dirinya masih dalam masa perjuangan membangun bisnisnya. Arga yang dulu masih kecil tak mengerti apa-apa.
Seingat Arga, Ibunya pergi bersama seorang pria yang menjemputnya di kontrakan mereka dulu. Bahkan tangis pilu Arga tak mampu membuat puluh hati sang Ibu dan tetap berjalan tanpa menengok kebelakang.
"Semuanya akan baik-baik saja, Ga. Semua akan baik-baik saja," dengan mengelus punggung tangan kiri Arga, Arya mengucapkan kata-kata tersebut. Tak ada lebih penting dari pada kesembuhan Arga dan juga kebahagiannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1