
''Bisakah kita keluar sekarang?'' suara berat Arga seketika membuyarkan lamunan Vanya untuk kedua kalinya.
'Sh...it! Aku lupa jika masih ada orang disini,' batin Vanya yang meruntuki kebodohannya karena tidak melihat sekitarnya.
''E-eh. Iya. Sorry, aku melamun tadi.'' ucap Vanya sedikit canggung. Ia tahu jika Arga pasti juga mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulutnya dan juga Marcell saat dalam panggilan tadi. Setelah memastikan mobil Vanya terkunci sempurna, Arga mengulurkan tangannya yang berisi kunci mobil kepada Vanya.
''Thank, Ar. Udah nganterin sampe sini.'' ucap Vanya sambil menerima kunci mobilnya. Namun saat tangannya ingin mengambil kunci itu dari tangan Arga, ternyata tangan Arga meraih tangan Vanya dan menggenggamnya bersama dengan kunci mobil itu.
''Ar?'' tanya Arga singkat. Tatapan mata elang Arga menusuk ke dalam jantung Vanya hingga membuat gadis itu tampak kikuk dibuatnya.
*deg
deg*
Suara detak jantung Vanya terdengar lebih nyaring dari biasanya akibat tatapan mata Arga dan juga remasan dalam genggaman tangannya.
'Lah, kenapa juga mulutku ini. Dengan kurang a..jarnya manggil orang sembarangan. Aduh,' batin Vanya yang meruntuki mulut si...alannya yang refleks memanggil nama Arga dengan nama depannya saja. Akibat ulahnya itu sendiri, membuat Vanya kebingungan mencari sebuah alasan untuk Arga.
''E-eh, Sorry Ar. Eh, maksud ku Arga. Aku kebiasaan manggil orang dengan nama depannya sih. Hehe,'' ucap Vanya diiringi cengengesan si akhir ucapannya. Namun tak ada sahutan dari Arga, hanya tatapan matanya yang masih saja menatapnya tajam.
__ADS_1
Vanya berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan kekar Arga.
''Em, bisa lepaskan ini gak? A-aku mau masuk ke dalam, soalnya.'' ucap Vanya kepada Arga. Perlahan Arga pun melepaskan genggamannya, membuat Vanya bisa bernapas lega sekarang.
''Thanks ya. Kalau begitu pulanglah. Aku masuk dulu, bye,'' ucap Vanya kepada Arga seraya melambaikan tangan kanannya di depan Arga. Lalu ia membalikkan tubuhnya ingin segera meninggalkan tempat itu.
Namun belum sempat kakinya melangkah, tangan kanannya diraih oleh Arga dari belakang hingga membuatnya kembali membalikkan tubuhnya menghadap Arga.
''Eh?''
''Siapa yang mau pulang? Sudah ku katakan kan, aku akan membantumu mengobati luka-luka yang ada di wajahmu itu?'' tanya Arga seketika membuat Vanya membulatkan kedua matanya. Ia tersentak saat menyadari jika ucapan yang Arga katakan tadi di depan apotek benar-benar akan ia lakukan. Tentu itu membuatnya takut, apalagi saat ini ia dan Marcell tengah dalam keadaan panas akibat pertengkaran mereka tadi. Ia tak mau menambah masalah lagi jika nanti Marcell tahu jika ia masukkan laki-laki lain di apartemen miliknya.
Arga tampak memikirkan sesuatu. Dengan cepat ia mengeluarkan ponselnya dan mencari sebuah nama disana. Setelah menemukannya ia segera memanggilnya.
"Halo, Tuan Arga. Ada yang bisa saya bantu?"
"Aku ingin satu unit yang ada di La'venus. Sekarang,'' ucap Arga santai. Sedangkan Vanya yang masih berdiri di depannya itu seketika melotot dibuatnya. Ia tak habis pikir dengan Arga saat ini.
''Mau apa?'' gerakan bibir Vanya tanpa suara itu ditujukan oleh Arga padanya. Ia seakan penasaran dengan apa yang diinginkan laki-laki dihadapannya saat ini. Sedangkan Arga hanya diam tanpa membalas atau mengatakan sesuatu padanya.
__ADS_1
"Baik, Tuan. Saya akan memerintahkan anak buah saya untuk menemui Tuan sebentar lagi. Anda akan menempati unit paling atas gedung La'venus itu, Tuan. Saya yakin Tuan akan puas dengan unitnya."
''Hm,'' jawab singkat Arga lalu ia mematikan panggilan tersebut.
''Apa yang mau kamu lakukan, Ga? Kamu menelepon pihak Apartemen?'' tanya Vanya kepada Arga. Ia masih tidak bisa berpikir jernih saat ini. Mungkin karena memang ia belum mengenal jelas kepribadian Arga.
''Kalau kau takut pacarmu mengetahui aku datang ke apartemen mu, lebih baik kamu yang datang ke apartemen milikku.'' Ucap Arga santai. Lalu ia mendudukkan bo...kongnya di kap mobil depan. Vanya dibuat melotot sempurna dengan ucapan Arga.
Dengan mudahnya Arga bisa membeli sesuatu dalam hitungan detik tanpa pikir panjang. Apalagi tadi ia juga mendengar ucapan dari pihak Apartemen yang mengatakan jika Arga akan menempati apartemen paling atas. Which is itu adalah apartemen dengan harga yang paling tinggi di sana. Di dalam benak Vanya kini sedang memikirkan kira-kira berapa nominal yang dikeluarkan oleh Arga dalam beberapa menit ini.
'Oh, God. Ini orang kaya banget yah? Sampai-sampai dengan gampangnya dia membeli satu unit apartemen disini,' batin Vanya. Bahkan apartemen miliknya saja, ia merasa sudah mahal. Apalagi dengan yang paling atas sana? Otak kecil Vanya tidak bisa memikirkannya.
''Ta-tapi tidak usah sampai seperti ini, Ga. Please, batalin saja, ya?'' ucap Vanya memohon kepada Arga. Ia merasa tak enak karena penolakannya malah membuat Arga merogoh koceknya untuk membeli sebuah unit disana.
Belum sempat Arga menyahuti ucapan Vanya, terdengar suara seorang laki-laki yang menginterupsi keduanya.
''Tuan?''
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1