
Vanya melihat sepasang sepatu yang memasuki lift itu sama persis dengan sepasang sepatu yang tadinya berpapasan dengan dirinya tadi. Jadi ia berpikir jika orang itu ingin kembali naik mungkin karena kelupaan sesuatu. Karena penasaran Vanya mulai menaikkan arah pandangnya. Semakin lama semakin naik hingga berakhir pada wajah tampan laki-laki itu. Seketika kedua mata hazel Vanya terbelalak melihat sosok familiar di depannya itu.
''Oh sh ..it,'' umpat Vanya saat melihat sosok Arga yang ternyata ikut masuk ke dalam lift itu.
Ting
Pintu lift itu kembali tertutup. Suasana di dalam ruangan sempit itu tampak hening. Tak ada orang lain selain Vanya dan Arga. Vanya berdiri di tengah-tengah lift, sedangkan Arga berdiri di belakang Vanya agak kesamping kiri.
Tampak dari sudut mata Vanya ia melirik kearah belakang. Kedua tangannya tampak bergetar gugup. Lalu ia segera membawa kedua tangannya untuk saling bertautan di depan tubuhnya.
Sudut bibir Arga tampak berkedut kala melihat pantulan wajah Vanya saat meliriknya dari dinding kaca depan Vanya. Mungkin karena dinding kaca itu berwarna hitam, jadi Vanya tidak menyadari jika ekspresi wajahnya bisa dilihat oleh Arga.
'Menggemaskan,' batin Arga melihat kelakuan Vanya.
Sedangkan Vanya tampak semakin gugup karena menyadari jika Arga tidak memencet nomor lantai yang akan ia tuju.
'Kenapa tidak pencet nomornya?' batin Vanya bingung.
__ADS_1
Kini jantungnya mulai berdetak lebih cepat karena berada di dalam ruangan bersama dengan Arga. Ia berspekulasi sendiri mengingat Arga adalah orang yang sama keras kepala seperti dirinya.
Vanya merasakan jika saat ini lift itu berjalan lebih lambat dari biasanya. Dalam hati ia berdoa agar Arga tidak kembali mendekatinya, walau sebenarnya dalam lubuk hatinya yang paling dalam Vanya juga menaruh hati pada laki-laki itu. Namun saat ia kembali mengingat bagaimana Marcell, ia mengubur perasaan itu dalam-dalam.
'Stop, Vanya. Jangan lagi memikirkannya. Lupakan semua ucapan laki-laki dibelakang mu tadi siang itu. Anggap saja angin lalu. Ya, aku akan menganggap dia tidak pernah mengatakan itu,' batin Vanya.
Ting
suara pintu lift yang terbuka mengejutkan Vanya. Namun sedetik kemudian ia lega lalu tanpa berkata-kata lagi ia berjalan keluar pintu lift. Tepat saat tubuhnya melewati pintu lift itu, tubuhnya seketika berhenti kala mendengar suara Arga yang membuat tubuhnya membeku.
''I love you, Vanya.'' ucap Arga sambil menatap lekat punggung wanita yang telah mencuri hatinya tersebut.
Arga dan Vanya kini sudah saling berhadap-hadapan. Arga berada di dalam lift sedangkan Vanya berada di luar lift. Tampak keduanya saling diam sejenak hingga pintu lift itu kembali tertutup.
*deg
deg*
__ADS_1
Tubuh Vanya lemas setelah itu. Ia sampai menyandarkan tubuhnya pada dinding apartemen disana. Ia mencoba mengatur ulang deru napasnya agar bisa kembali normal seperti sedia kala.
''Laki-laki itu benar-benar ya,'' gerutu Vanya lalu ia kembali berjalan menuju apartemen miliknya.
Sedangkan Arga yang masih di dalam lift kemudian memencet tombol basemen. Sebenarnya ia hanya ingin melihat Vanya saja. Apalagi melihat Vanya yang tadi menggunakan masker, ia yakin jika wajah Vanya kembali mengalami memar seperti beberapa waktu yang lalu dan diakibatkan oleh Marcell.
'Baji...ngan itu! Rasanya aku ingin memusnahkannya,' ucap Arga dalam hati.
'Dan wanita itu, haih. Kenapa aku selalu terbayang wajahnya setiap saat. Sikapnya yang dingin membuatku semakin bergairah saat melihatnya. Apalagi saat melihat tawanya, Oh God. Aku benar-benar dibuat gila olehnya.' imbuhnya sambil mengacak gemas rambutnya. Ia terlihat frustasi namun masih dengan senyuman di bibirnya saat kembali mengingat Vanya. Wanita yang merupakan sahabat dari istri sahabatnya.
'Gara-gara dia aku tak bisa lagi menikmati kesenangan ku. Haih, sepertinya aku harus melakukan sesuatu agar dia bisa menjadi milikku,' batin Arga sambil menyeringai memikirkan strategi untuk menjerat Vanya agar jatuh dalam pelukannya.
Ting
Pintu lift itu kembali terbuka lalu dengan langkah besarnya ia berjalan menuju mobil yang terparkir di basemen tersebut. Hari ini ia memiliki janji temu dengan rekan koleganya di salah satu restoran untuk membahas rencana kerjasama mereka.
*Vroom
__ADS_1
Vroom
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...