Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 97 Masih di Rumah Sakit


__ADS_3

Setelah kepergian Roy, kelima orang yang ada di dalam ruangan itu masih diam. Arya masih seakan tak percaya dengan informasi penemuan dari Roy. Tapi ia juga yakin jika orang suruhannya itu tak mungkin salah dalam menyampaikan sesuatu dan berani melaporkan padanya.


''Apa kalian mengetahui tentang wanita itu?'' suara berat Arya Wijaya memecah keheningan di antara mereka.


Daniel, Alex, dan David tampak saling lempar pandang karena memang tidak mengetahui apa-apa mengenai hal itu. Sedangkan Alvin masih diam beberapa saat sebelum ia akhirnya mengeluarkan suara emasnya.


''Sa-saya tahu, Om. Sebenarnya beberapa waktu yang lalu Marcell juga sempat mendatangi kantor Arga dan berani menyerangnya. Saya pun tahunya dari Dinda.'' sahut Alvin.


Mendengar ucapannya, semua mata pun kini tertuju padanya.


.glek


Alvin merasa kesusahan menelan ludahnya saat mendapatkan tatapan mata dari kelima orang yang ada di sana. Apalagi Arya Wijaya, laki-laki itu tampak menatap tajam kearah Alvin seolah-olah ingin melahapnya hidup-hidup.


'Mati aku. Om Arya seperti ingin memakan ku hidup-hidup. Tolonglah sahabat mu ini Arga,' batin Alvin yang berdoa pada Tuhan agar segera menyadarkan Arga dari pingsannya agar ia terbebas dari cercaan Papanya.


''Apa maksud mu, Alvin. Coba katakan apa yang sudah kau ketahui tentang Arga dan wanita itu.'' ucap Arya Wijaya pada Alvin.


Eugh

__ADS_1


Belum juga Alvin mengatakan hal itu, terdengar suara lenguhan yang berasal dari Arga. Sontak membuat semua orang terutama Arya Wijaya segera menghampiri ranjang putranya itu.


'Selamat-selamat nyawaku,' batin Alvin yang berterimakasih kepada Arga yang kini sudah sarad dari pingsannya.


Arya segera memencet tombol panggil dokter untuk mengetahui bagaimana keadaan putranya itu. Tak beberapa lama kemudian terlihat seorang dokter ditemani perawat memasuki kamar itu. Setelah diperiksa, dokter tersebut mengatakan jika tak ada hal serius yang terjadi pada tubuh Arga. Hanya beberapa luka memar yang ada pada tubuh luarnya saja yang harus mendapatkan perawatan agar bisa kembali seperti semula. Setelah beberapa saat kemudian, dokter dan perawat itu pun meninggalkan ruangan VVIP tersebut.


''Kamu tak apa-apa, Nak? Mana yang sakit? Papa akan panggilkan dokter untukmu,'' ucap Arya dengan nada khawatir nya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jika putranya itu sampai kenapa-napa mengingat hanya Arga-lah yang ia miliki.


''Aku tidak apa-apa, Pa. Hanya luka kecil saja kok. Kenapa Papa ada di sini? Bagaimana aku bisa sampai disini? Seingat ku aku tadi aku sedang berada di rumah si brengsek itu.'' ucap Arga sambil sesekali memejamkan mata. Ia merasakan sakit dibeberapa bagian tubuhnya saat ini.


''Kamu sekarang ada di rumah sakit. Tadi Dinda menelepon Papa katanya dia menemukanmu tergeletak di basemen kantor. Sudah, istirahatlah dulu sekarang. Besok kita bicarakan lagi.'' ucap Arya. Arga pun hanya bisa mengangguk lalu ia kembali memejamkan mata. Ia pun juga merasa sangat lelah dan juga mengantuk. Mungkin saja karena efek obat yang dimasukkan ke dalam tubuhnya.


''Baiklah, Om pulang dulu. Beberapa hari belakangan ini tubuh Om juga tidak enak.'' sahut Arya seraya mengambil Coat yang ia letakkan di sofa.


''Biar saya antar ya Om. Rumah Om searah dengan rumah saya. Kebetulan saya juga mau pulang mengingat istri saya sedang hamil. Jadi saya tidak bisa meninggalkannya,'' ucap Daniel. Semua yang ada di sana pun bisa memakluminya.


''Tidak usah. Sudah ada sopir yang menunggu Om di bawah. Kalau begitu Om pergi dulu ya,'' pamit Arya kemudian ia pun pergi meninggalkan ruang rawat sang Anak.


"So, ceritakan apa yang kau tahu, Vin." ucap David setelah Om Arya dan Daniel meninggalkan kamar itu. Terdengar helaan napas yang berasal dari Alvin .

__ADS_1


"Beberapa hari yang lalu aku mendapatkan telepon dari Dinda jika Arga di datangi Marcell. Aku melihat keduanya saling jotos di dalam ruangan kerja Arga. Setelah laki-laki itu diseret keluar oleh para penjaga kantor, akhirnya Arga pun menceritakan duduk permasalahannya. Semuanya." ujar Alvin.


"Arga berkata jika ia memang menjalin hubungan dengan Vanya yang merupakan kekasih dari laki-laki itu. Kalian pasti sudah mengenalkan wanita itu? Dia sahabat Anisa - istri Daniel." imbuhnya.


"Tapi bagaimana bisa? Secara kita tahu kan bagaimana Arga selama ini? Dia bahkan tidak tertarik menjalin hubungan serius dengan seorang wanita. Kenapa sekarang malah ia menjalin hubungan dengan wanita yang jelas-jelas memiliki kekasih. Sepertinya otak anak ini udah gesrek," sahut David heran. Ia bahkan sampai melongo saat mendengar laporan yang disampaikan oleh orang suruhan Arya tadi.


"Nothing impossible, kau tahu pepatah itu bukan? Em, kau ingat Vid? beberapa waktu yang lalu Arga sempat cerita jika ia pernah meniduri seorang gadis perawan di Bali?" tanya Alvin yang kemudian diangguki meski samar oleh David. David memang masih diambang rasa samar akan ingatannya.


"Ck, intinya. Wanita yang dicari Arga itu adalah Vanya. Gue juga gak tau, apakah itu jodoh atau karena terkena virgin effect. Karena memang itu adalah pengalaman pertama Arga. Gue kan dekat sama nih anak, jadi gue tahu luar dalamnya," ucap Alvin dengan nada sombongnya. Alex dan David tampak menganggukkan kepala mendengar ucapan dari Alvin.


"Lalu, menurut loe kita harus bagaimana sekarang? Lo dengar sendiri kan apa kata Om Roy tadi? Arga sampai mendatangi rumah Marcell hanya untuk bertemu dengan Vanya." tanya David.


"Kita tak bisa berbuat apa-apa. Karena itu ranah pribadi Arga. Setidaknya kita harus menunggunya sadar terlebih dahulu. Lalu kita bisa mengatur rencana bagaimana bisa membebaskan Vanya dari tangan laki-laki brengsek itu." jawab Alvin .


"Gue setuju sih apa kata Alvin ." suara Alex akhirnya terdengar setelah sejak tadi ia menutup rapat mulutnya.


"Baiklah, kalau begitu kita istirahat aja sekarang. Lagipula sudah hampir dini hari. Besok pagi jika Arga sudah bangun, kita bisa bicarakan nya lagi," ucap Alvin.


Lalu ketiganya pun segera mengistirahatkan tubuh mereka di sofa bed yang diperuntukkan bagi keluarga pasien yang sedang menunggu pasien.

__ADS_1


__ADS_2