Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 31 Semakin Memanas


__ADS_3

Vanya dan Cynthia masih berdiri tegak tak jauh dari pintu ruangan Marcell. Keduanya pun tampak masih saling melemparkan mematikan satu sama lain. Namun bedanya Vanya masih bisa mengendalikan raut wajahnya terlihat santai bahkan terkesan dingin. Sedangkan Cynthia justru sudah memerah dan rahangnya kian mengeras kala mendengar ucapan dari Vanya.


"Pela...cur teriak pela...cur! Nggak pernah ngaca? atau memang loe nggak punya kaca?'' ucap Vanya sesantai mungkin. Ia yakin wanita di depan matanya itu tak akan bertahan lama.


'satu, dua, ti...' belum sempat Vanya selesai dengan hitungannya, suara keras hingga membuat telinganya berdenging sangat kuat.


plak


Sebuah tam...paran keras melayang di pipi kiri Vanya akibat tangan kanan Cynthia. Saking kerasnya hingga membuat wajah Vanya menoleh kesamping. Tak mau dianggap lemah, Vanya mengalihkan pandangannya dan kembali menatap tajam ke arah Cynthia. Walau ia merasakan panas di pipi kirinya, namun sebisa mungkin ia tak memperlihatkan kesakitan nya itu. Bahkan ia tersenyum sinis kepada Cynthia.


''Jaga mulutmu ja...lang! Berani-beraninya loe ngatain gue dengan mulut busukmu itu, hah? Gue nggak akan segan-segan ngancurin karir loe saat ini juga,'' bentak Cynthia sambil mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan mata Vanya. Belum juga Vanya membuka mulutnya, terdengar suara yang begitu nyaring dari arah belakang Vanya.


S-T-O-P


Teriak seorang wanita dari ujung lorong. Baik Vanya dan Cynthia mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara. Tampak Renata diujung sana berjalan tergesa-gesa menghampiri keduanya.

__ADS_1


"Loe apa-apaan, hah? Main pukul sembarangan. Loe itu siapa? Lagak loe udah kayak artis terkenal saja. Dasar rubah sin...ting loe,'' ucap Renata setibanya ia di antara mereka. Lalu ia menarik mundur Vanya dan berdiri di depan Vanya menatap ke arah Cynthia. Seolah ia adalah tameng untuk Vanya.


Sedangkan Cynthia hanya memutar bola matanya jengah melihat kedatangan Renata, sahabat sekaligus orang satu-satunya yang bersikap baik kepada Vanya. Karena memang semua model disana termakan hasutan Cynthia supaya membenci Vanya. Dan itu berhasil, tak ada seorang pun model yang ingin berteman dengannya.


''Loe nggak ada urusannya disini. Ini urusannya gue sama temen pe...rek loe ini,'' sahut Cynthia yang tak terima dengan ucapan Renata yang mengatakan dirinya sin...ting. Ia kembali mengatai Vanya, meski ia tahu ada Renata yang akan membela wanita itu. Namun Cynthia tidak ada rasa takut sedikitpun walau Vanya adalah kekasih dari bosnya sendiri.


''Bang...'' suara Renata tertahan karena mendengar sahutan dari seorang laki-laki.


''CUKUP! APA-APAAN INI, HAH?'' suara berat nan tinggi menginterupsi ketiganya hingga membuat mereka terjingkat. Renata dan Cynthia tampak menelan ludah kasar melihat Marcell yang tahu-tahu sudah berdiri di ambang pintu ruangannya.


'Mam...pus gue! Kenapa gue baru sadar jika sekarang kami masih berada di depan ruangan macan gi...la itu, ya? Dasar bodoh loe, Renata.' umpat Renata dalam hati.


Jika Renata dan Cynthia merasa ketakutan melihat kedatangan Marcell. Lain halnya dengan Vanya. Ia tampak biasa saja melihat laki-laki yang notabene merupakan kekasihnya itu. Bukan karena ia merasa beruntung memiliki Marcell yang terlihat ingin membelanya. Namun justru malas melihat wajahnya yang menjijikkan bagi Vanya. Bahkan tatapan mata Vanya masih dingin terhadap laki-laki itu mengingat kejadian di villa waktu acara ulang tahun sepupunya tersebut.


''Kalian tahu tidak jika kalian ini masih berada di kantor? Kalau kalian memang ingin berkelahi sebaiknya mencari tempat lain, bukannya disini. Kamu, Cynthia. Sejak dulu saya perhatikan kamu selalu mencari gara-gara dengan Vanya. Sebenarnya apa mau kamu, hah? Kamu juga Vanya. Masih saja meladeni ucapan Cynthia yang jelas-jelas hanya memancing amarahmu saja?'' ucap Marcell memarahi Vanya dan Cynthia. Marcell tak habis pikir dengan dua wanita itu. Yang satu adalah wanita yang sejak dulu mengejar-ngejar dirinya. Yang satu adalah kekasihnya.

__ADS_1


Melihat Marcell yang tampak fokus pada Vanya dan Cynthia, Renata perlahan menggeser tubuhnya dan berpindah ke belakang Vanya. Selangkah demi selangkah ia berjalan mundur supaya bisa menjauh dari sana. Namun belum sempat ia melangkah jauh, ia tersedak ludahnya sendiri kala mendengar ucapan Marcell.


''Dan kamu, Renata. Jangan coba-coba untuk lari kali ini,''


*uhuk


uhuk*


Renata yang mencoba kabur dari sana tampak tersenyum cengengesan karena ketahuan oleh Marcell. Sejak dulu Renata mang selalu membela Vanya disaat ia ditindas maupun dibully oleh model lain di agency tersebut. Maka dari itu Marcell tak mau ikut campur mengingat ada Renata di samping Vanya. Namun kali ini Marcell tidak akan membiarkan Renata lari dari kemarahannya seperti yang sudah-sudah.


'Tamat riwayat gue. Si...al sekali hari ini,' batin Renata seraya masih mempertahankan senyum paksanya itu.


''Kalian bertiga, ikut saya,''


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2