Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 80 My first time, Ar


__ADS_3

Oh sh**


''Argh... Wanita ini benar-benar mengujiku,'' gerutu Arga saat melihat sebuah pesan yang dikirimkan oleh Vanya pada dirinya.


Bagaimana tidak frustasi saat Vanya mengiriminya sebuah foto dimana dirinya berselfie tanpa menggunakan apapun. Vanya menutupi puncak dadanya menggunakan kedua tangannya. Sedangkan bawahnya ia merapatkan kaki dan duduk sedikit menyamping.


''Fu**ing sh**. Kau sangat nakal, baby.'' ucap Arga sambil kembali menghubungi Vanya. Namun kali ini ia beralih menghubunginya via video call.


''Hai, Honey. Very nice to see your handsome face,'' ucap Vanya disana dengan tawanya yang renyah.


''Stop talking a bullsh**, baby. Open your bathrobe now,'' titah Arga kepada Vanya.


'Jngan bilang dia ingin melakukan phone s** denganku? Oh, God. I can't. Itu sangat tak membuatku puas,' batin Vanya. Akhirnya ia meruntuki kebodohannya yang telah memancing Arga dengan kejahilannya.


''Why? Ke-kenapa harus dibuka, Hon?'' tanya Vanya sekedar basa-basi. Wajahnya sudah terlihat gugup saat ini.


Arga semakin dibuat gemas karenanya.


''Kau yang memancingku, baby. Now, Letakkan ponselmu sedikit jauh, baby. Lalu buka bathrobe mu,'' titah Arga pada Vanya. Dirinya sendiri pun juga melakukan hal yang sama.


Arga meletakkan ponselnya di meja Sofanya. Kemudian dilayar ponsel Vanya ia bisa melihat Arga yang mulai membuka pakaiannya sendiri. Vanya dibuat berdesir saat melihat adegan Arga yang terlihat sangat seksi itu.


Tanpa sadar kedua kaki Vanya saling bergesekan karena pusat intinya terasa berkedut-kedut. Melihat Arga yang kini sudah hot hanya menggunakan cela** dalamnya saja, membuat Vanya membuka ikatan tali bathrobe nya sendiri.


''So beautiful, baby.'' puji Arga saat melihat pemandangan indah itu di layar ponselnya. Merasakan miliknya sudah mengeras, Arga segera membebaskannya.


Ouch ..


Perlahan Arga memegang dan mengurutnya sendiri sambil melihat pemandangan indah itu. Dalam benaknya ia membayangkan dirinya memasuki Vanya dengan beringasnya.


Melihat Arga yang mulai memuaskan dirinya sendiri, membuat Vanya tergoda dan melakukan hal yang sama. Perlahan tangan kanannya terulur menuju lembahnya.


Memainkan bijinya hingga memasukkan jarinya disana. Satu jari, dua jari, hingga akhirnya tiga jarinya masuk kedalam sana.


Akh ...


Suara kedua insan itu saling bersahutan satu sama lain. Meski tubuh mereka tak bersatu, namun imajinasi keduanya sudah melanglang buana mengingat sebagaimana biasanya keduanya bermain.


Bahkan kini tangan kiri Vanya juga ikut berperan aktif memegang dan meremas buahnya sendiri bergantian.

__ADS_1


Ouch baby ...


Akh honey ...


Setelah beberapa menit kemudian keduanya saling berteriak saat sudah mencapai puncaknya. Napas keduanya masih memburu, meraup oksigen sebanyak mungkin. Pandangan mata keduanya masih terpatri hingga tak lama kemudian terdengar gelak tawa mereka.


''This is my first time, Ar.'' ucap Vanya tiba-tiba. Lalu ia segera membenahi bathrobe nya setelah membersihkan sisa-sisa cairannya menggunakan tissue disana.


''Really? Ha-ha-ha, Bagaimana rasanya? It's good?'' tanya Arga penasaran.


''Not bad. Tapi lebih baik langsung daripada seperti ini,'' keluh Vanya.


''Salah siapa kamu memancingku, baby. Akan sangat pusing jika aku tak bisa mengeluarkannya. Oleh karena itu aku mengajakmu phone s** bersama. Ha-ha-ha,'' ucap Arga. Kemudian terlihat Arga memakai kembali cela** dalamnya kembali setelah miliknya kembali mengecil. Tapi percayalah meskipun mengecil tapi jika dilihat ukurannya sama seperti ukuran milik orang Asia yang tengah on.


'Ah, lagi tidur saja kelihatan besar. Apalagi kalau sudah on. Oh, God. Sepertinya otakku sudah dipenuhi dengan adik kecil Arga,' batin Vanya tanpa sadar ia menggeleng - gelengkan kepala.


''Are you okay, baby ?'' tanya Arga saat melihat tingkah Vanya.


Bahkan ia bisa melihat wajah Vanya yang sedikit merona melihat ke arahnya.


''Hm, gak apa-apa kok.'' jawab Vanya sambil memperlihatkan senyuman manisnya.


''Jam tujuh pagi,'' jawab Vanya.


''Okey. Apa dia akan menjemputmu, baby?'' tanya Arga.


''I don't know. Why?'' tanya Vanya heran.


''Nothing. Okay, then let's sleep, baby. Good nite. Nice dream. I Love you,'' ucap Arga.


''Hm, you too. Love you too, Honey.'' Setelah mengatakan itu Vanya pun memutuskan panggilan tersebut dan kemudian memejamkan matanya.


Keesokan harinya


Vanya terbangun jam lima karena ia mengatur timer di ponselnya. Ia bergegas membersihkan diri dan bersiap-siap.


Tak lupa pula ia memesan segelas cokelat panas dan juga sandwich untuk mengganjal perutnya di pagi hari ini.


Ting tong

__ADS_1


Terdengar suara bel berbunyi saat dirinya tengah merias wajahnya. Kemudian Vanya beranjak dari meja rias dan berjalan menuju pintu kamarnya.


Ceklek


Seorang laki-laki berseragam hotel tersebut mendorong sebuah troli disana. Ia mengambil sebuah nampan berisi pesanan milik Vanya dan memberikannya kepada Vanya.


"Thanks," ucap Vanya saat menerima nampan itu. Setelah menerimanya, Vanya segera kembali memasuki kamarnya.


Vanya meletakkan nampan itu diatas meja, sedangkan dirinya kembali meneruskan riasannya tadi. Tak lebih dari lima belas menit, Vanya sudah selesai dengan penampilannya.


Menggunakan kembali pakaiannya kemarin, Vanya terlihat menghampiri meja sofa dan mulai memakan sandwich itu beserta minuman cokelat panas nya.


Tak Terasa waktu sudah menunjukkan hampir pukul enam pagi. Itu artinya ia harus segera berangkat dari sana.


Sebelum pergi, ia memastikan kembali barang bawaannya. Setelah dirasa cukup, Vanya bergegas keluar dari kamarnya dan menuju meja resepsionis untuk melakukan check out.


"Thank you," ucap Vanya kepada kedua resepsionis itu setelah berhasil check out.


Ia juga mendapatkan fasilitas mobil hotel untuk mengantarkan dirinya ke bandara. Tentu itu sangat disambut baik oleh Vanya. Ia tak perlu susah - susah mencari taksi untuk mengantarkannya.


"Thanks, Sir." ucap Vanya saat dirinya telah sampai di depan bandara.


"You're welcome, Miss. Have a nice trip," ucap sang sopir.


"Thank you," setelah mengatakan itu, Vanya segera memasuki area bandara dan melakukan check in keberangkatannya. Setelah menunggu sekitar dua puluh menit, akhirnya ia berhasil check in dan kini sudah memasuki dalam pesawat. Vanya memesan first class agar ia bisa mengistirahatkan tubuhnya sejenak.


Pesawat yang ditumpangi Vanya mulai mengudara. Vanya pun mulai tertidur. Hingga suara announcer yang mengatakan akan segera sampai Jakarta membuatnya terbangun.


''Eugh ... tak terasa perjalanan hampir dua jam begitu cepat,'' ucap Vanya disela-sela ia meregangkan otot-otot badannya yang terasa kaku akibat tertidur di dalam pesawat.


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi lebih. Vanya dan seluruh awak pesawat mulai turun dari kabin pesawat.


Vanya melihat ke dalam ponselnya. Ia melihat pesan Marcell yang mengatakan jika dirinya menjemputnya. Vanya hanya bisa menghela napas panjangnya.


tringg


Nama Arga terpampang jelas di layar pipih Vanya. Dengan cepat ia mengangkatnya.


''Halo,'' sapa Vanya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2