Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 35 Bertemu dengannya


__ADS_3

Seorang wanita terlihat berjalan terseok-seok di dalam sebuah apotik. Ia berjalan pelan-pelan menyusuri rak-rak yang terdapat berbagai macam obat di sana. Ditangannya sudah ada beberapa kapsul, obat merah, serta perban yang tadi ia ambil di salah satu rak.


Setelah dirasa cukup, wanita itu tampak berjalan menuju ke kasir apotek. Karena sudah ada beberapa orang yang mengantri, mau tak mau ia harus berdiri di barisan paling belakang mereka.


Bruk


Saat ia hampir mencapai barisan terakhir, seorang laki-laki yang tadinya membayar di kasir tak sengaja menabraknya. Hingga membuat obat-obat yang ada di tangan wanita itu jatuh berserakan.


''Sorry, sorry. Saya tidak sengaja,'' ucap laki-laki itu sambil membantu mengambil beberapa barang milik wanita itu.


''Tidak apa-apa, Tuan.'' suara lembut wanita itu membuat laki-laki itu tampak terdiam sejenak. Laki-laki itu terlihat memperhatikan wajah wanita itu yang ditutupi oleh topi warna hitam dan sebuah masker yang berwarna hitam pula.


''Terimakasih,'' ujar wanita itu yang menerima barangnya dari tangan laki-laki itu. Terlihat kedua mata wanita itu melotot melihat wajah laki-laki yang menabraknya itu.


'Kenapa dia ada disini, sih. Semoga tidak ketahuan,' batin wanita bertopi itu.


''Sa-saya permisi dulu, Tuan. Maaf,'' ucap wanita itu tampak tergesa-gesa dari sana. Sedangkan laki-laki itu tak langsung meninggalkan tempatnya. Ia terlihat melihat postur tubuh wanita yang ditabraknya itu dari belakang.


'Sepertinya aku mengenal suara dan postur tubuh wanita itu. Tapi siapa ya?'batin laki-laki itu bertanya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Tak mau menunggu disana, laki-laki itu tampak keluar dari apotek tersebut. Wanita bertopi yang kini berada di depan meja kasir apotik itu tampak bernapas lega melihat laki-laki yang dikenalnya itu telah pergi dari sana.


''Totalnya dua ratus lima belas ribu rupiah, kak.'' ucap apoteker itu. Wanita itu tampak mengangguk lalu merogoh kedalam tas miliknya.


''Ini, mbak. Ambil saja kembaliannya. Terimakasih,'' ucap wanita itu setelah memberikan dua lembar uang pecahan ratusan dan selembar pecahan lima puluhan.


''Terimakasih, kak. Sampai ketemu lagi,'' balas apoteker tersebut.


Lalu wanita itu mengambil kantong kresek miliknya itu dan berjalan keluar dari sana. Setelah sampai di luar apotek, wanita itu tampak berhenti sejenak.


Sssttt ..


''Vanya?'' sebuah suara laki-laki yang berhasil membuat wanita bertopi itu menghentikan gerakannya yang tadinya hendak mengambil kunci mobilnya di dalam tas. Benar, wanita bertopi itu adalah Vanya. Setelah ia dipukuli oleh Marcell tadi, ia berencana mengobati lukanya sendiri. Namun naas, persediaan obat-obatan miliknya sudah habis. Sehingga membuatnya harus pergi ke apotek terdekat. Kenapa ia tak mau pergi ke rumah sakit? alasannya satu. Ia tak mau orang lain mengetahui keadaannya yang babak belur akibat perbuat kekasih ya sendiri.


Vanya membeku. Ia bingung, mau menghindar sepertinya tidak mungkin. Mau menjawab panggilan itu, nanti pasti laki-laki itu akan mencerca dia dengan pertanyaan-pertanyaan seputar luka yang ia terima.


'Bagaimana ini, Tuhan?' batin Vanya.


''Vanya?'' panggil laki-laki itu lagi sambil memegang bahu sebelah kanan Vanya. Namun sayangnya, tanpa ia sadari ia memegang bahu Vanya yang terluka akibat injakan kaki Marcell hingga membuat Vanya seketika menjerit.

__ADS_1


''Aw... ssshhh,'' reaksi Vanya tanpa sadar saat merasakan sebuah tangan yang memegang bahu kanannya yang terluka.


''Hey, apa yang terjadi, Vanya?'' laki-laki itu tampak terkejut mendengar Vanya yang tampak kesakitan akibat pegangan tangannya di bahu kanan Vanya. Mau tak mau Vanya membalikkan badannya menghadap laki-laki itu.


''A-Arga?'' panggil Vanya lirih. Ya, laki-laki itu adalah Arga. Laki-laki yang menjadi akar dari pertengkaran antara dirinya dan Marcell hari ini.


Vanya tampak menunduk menghindari kontak mata dengan Arga. Ia tak mau jika keadaannya saat ini diketahui oleh laki-laki itu.


'Jangan sampai dia tahu, Tuhan. Please,' batin Vanya yang berdoa kepada Tuhan agar Arga tidak mengetahui luka-lukanya.


''Kamu belum jawab pertanyaan aku, Vanya. Apa yang terjadi padamu?'' tanya Arga sekali lagi. Ia tampak memicingkan matanya menelisik kearah Vanya yang terlihat seperti menyembunyikan sesuatu darinya.


''Ti-tidak apa-apa, Arga. A-aku mau pulang sekarang. Permisi,'' ucap Vanya cepat. Lalu ia bergegas mengambil kunci mobilnya dari dalam tasnya. Gerakan tangannya itu tak lepas dari pengamatan Arga.


Secara tiba-tiba Arga menarik tangan kanan Vanya yang merogoh tasnya itu.


''Wait! Kenapa ini terluka, Vanya?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2