Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 32 Penyakit aneh


__ADS_3

Sebulan kemudian


Hari dimana pemotretan untuk iklan hotel Wijaya akhirnya tiba. Vanya dan Cynthia sudah sampai di gedung pencakar langit itu semenjak satu jam yang lalu. Kini keduanya tengah menjalani pemotretan dengan fotografer profesional yang juga di datangkan oleh pihak Arga dari luar negeri.


"Oke. Kita break dulu tiga puluh menit,'' ucap sang fotografer kepada semua orang yang ada di sana.


Vanya terlihat sangat cantik memakai seragam khas pegawai hotel bintang lima itu. Dibanding Cynthia, Vanya terlihat lebih menawan. Walau untuk ukuran da...da mungkin Vanya kalah dengan milik Cynthia, namun justru membuat sangat pas dengan postur tubuh Vanya yang tinggi dan ramping. Sedangkan Cynthia, tubuhnya terkesan lebih bongsor dari Vanya.


''Lelahnya,'' gumam Vanya sambil mendudukkan tubuhnya di kursi yang disediakan untuk dirinya.


''Awas ya kalau loe masih kegatelan dengan Tuan Arga. Dia itu milikku,'' ucap Cynthia sambil berbisik tepat di telinga kiri Vanya.


Cynthia yang habis dari toilet berjalan ke arah tempat duduk Vanya lalu membisikan kata-kata tersebut.


Setelah mengatakan itu Cynthia berlalu dari sana dan menempati kursi yang berada tak jauh dari tempat Vanya. Bahkan saat Cynthia sudah duduk di kursinya, ia masih sempat melemparkan tatapan tajam kepada Vanya. Ia juga tidak lupa memberikan kode dengan mengangkat kedua jari telunjuk dan tengahnya, lalu mengarahkan ke kedua matanya setelah itu melemparkannya ke arah mata Vanya. Vanya yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala.


''Sekali sin...ting tetap sin...ting,'' ucap Vanya lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah ponselnya. Sambil menikmati minuman miliknya ia menggulirkan tangannya berselancar di benda pipih nan pintar itu.


Setelah ia bosan dengan ponselnya, ia meraih majalah yang ada di meja.


''Tak ku sangka ternyata kamu pemilik perusahaan ini, Ga.'' ucap Vanya sambil memandang wajah tampan Arga yang menjadi sampul di majalah bisnis tersebut. Tanpa sadar ia meraba wajah tampan itu sambil membayangkan pertemuan mereka beberapa waktu yang lalu. Bahkan ingatan saat dikamar miliknya kembali terngiang hingga membuat semburat merah memenuhi kedua pipinya.


''Stop, Vanya. Stop memikirkan itu. Sangat memalukan sekali,'' imbuhnya lalu ia menutup wajahnya dengan majalah itu. Hingga suara berat seorang laki-laki membuat dirinya tersentak.

__ADS_1


''Vanya?''


Suara berat dan aroma parfum yang wanginya familiar di Indra penciumannya, membuat Vanya menyingkirkan majalah itu dari wajahnya.


'Eh,'


Vanya tersentak saat melihat sosok Arga yang sudah berdiri menjulang tinggi di depannya itu. Laki-laki itu tengah ditemani dengan seorang wanita yang ia yakini adalah sekretaris nya.


''Arga?'' panggil Vanya lirih.


Cynthia yang melihat Arga menghampiri Vanya hanya bisa terdiam sambil mengepalkan kedua tangannya di samping tubuhnya. Ia sangat berharap jika Arga mau menghampirinya, namun ia harus menelan kembali impiannya itu. Bahkan Arga terlihat sudah mengenal Vanya lebih dulu hingga membuatnya rela datang ke tempat pemotretan hanya untuk menghampiri Vanya.


''Wanita murahan ini,'' geram Cynthia saat tak sengaja kedua matanya bertubrukan dengan kedua mata Vanya. Cynthia bisa melihat senyum mengejek menghiasi wajah cantik Vanya.


Sedangkan Vanya yang melihat wajah menahan amarah Cynthia hanya bisa tersenyum dalam hati. Ia tahu saat ini Cynthia sudah kebakaran jenggot saat melihat Arga, laki-laki yang menjadi incarannya itu malah menghampiri dirinya.


''Vanya?'' panggil Arga lagi.


''Eh, i-iya,'' jawab Vanya sedikit terbata.


''Long time no see, Vanya. Gimana kabarnya ?''tanya Arga lalu ia duduk di kursi yang diambilkan salah satu karyawannya untuk nya. Kini ia duduk di samping Vanya.


''Good. Kamu sendiri?'' tanya balik Vanya.

__ADS_1


''Seperti yang bisa kamu lihat sekarang. I am good.'' jawab Arga. Tak lupa ia memberikan senyuman kepada Vanya.


Vanya yang mendapatkan senyuman itu juga membalasnya dengan senyuman yang tak kalah manisnya, membuat Arga memegang da..danya seketika.


''Are you okay ?''tanya Vanya tiba-tiba karena melihat Arga yang memegangi da...danya.


''Oh, ng-nggak papa kok. Hanya sedikit sakit,'' ucap Arga sambil memperlihatkan raut wajahnya yang terlihat menahan sakit.


''Benarkah? Perlu aku panggilkan dokter? Bentar,'' ucap Vanya yang tampak bingung lalu ia dengan cepat membuka ponselnya dan mencari sebuah nama di sana. Namun belum sempat ia menekan tombol panggil, tangannya ditahan oleh tangan berotot Arga.


''No, Vanya. Tidak usah memanggil dokter,'' ucap Arga mencegah Vanya yang akan menekan nomor dokter Raya.


''Tapi,''


''Sssttt .... ini bukan penyakit sembarangan, Vanya. Bahkan dokter pun tak bisa mendeteksi penyakitku ini,' ucap Arga yang semakin membuat Vanya khawatir. Padahal jika ia tahu Arga saat ini sedang mengerjainya, mungkin saja ia akan mengha...jar laki-laki itu.


''La-lalu?''


''Sepertinya ini akan senyum dengan melihat senyum manismu itu,'' ucap Arga sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Vanya. Sontak membuat Vanya melototkan kedua matanya mendengar ucapan Arga. Bukan, lebih tepatnya rayuan maut Arga.


*Bugh


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...

__ADS_1


__ADS_2