
*Tok
tok
tok*
Arga yang berkutat dengan berkas-berkas miliknya seketika terhenti saat mendengar suara ketukan dari luar pintu.
''Masuk,''
Terlihat seorang laki-laki tampan memasuki ruangannya dengan raut wajah yang nampak khawatir.
''Loe gak apa-apa, Ga?'' tanya laki-laki itu seraya berjalan menghampiri meja Arga.
'Hah, pasti Dinda yang nelepon cecunguk ini,' batin Arga saat melihat kedatangan sahabatnya itu.
''Gak apa-apa.'' jawab Arga singkat lalu ia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju sofa diikuti oleh sahabatnya itu.
''Memang loe ada masalah apa sampai tuh orang datang-datang dan mukulin loe, hah?'' tanya laki-laki itu lagi.
''Gue jalin hubungan sana Vanya di belakang dia, Vin.'' ucap Arga jujur kepada sahabatnya yang tak lain adalah Alvin. Dokter sekaligus pewaris tunggal Citra Medika Hospital. Rumah sakit terbesar yang ada di kota metropolitan tersebut.
''What? Loe gila ya?'' sentak Alvin yang tak percaya dengan penuturan dari sahabatnya itu. Ia tak menyangka jika Arga menjalin hubungan dengan wanita yang sudah memiliki kekasih.
''Mungkin. Dan Vanya yang bisa membuatku seperti ini.'' sahut Arga lalu ia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju meja bar yang ada di bagian sisi kanan ruangannya.
Alvin tentu saja mengekor di belakang Arga. Setibanya di sana, Arga mengambil sebotol minuman favoritnya dan menuangkannya di dua gelas kaca.
__ADS_1
''No. Gue gak bisa minum sekarang. Gue masih ada operasi malam ini,'' tolak Alvin yang melihat Arga hendak menuang minuman itu di gelas satunya. Akhirnya Arga hanya mengangguk paham lalu ia menikmati minuman itu sendirian.
Alvin masih setia menemani sahabatnya itu yang kini terlihat sangat berbeda. Tak ada lagi Arga yang dingin dan cuek. Yang ada hanya Arga yang raut wajahnya terlihat sangat gelisah dan murung. Entah apa yang dipikirkan oleh laki-laki itu saat ini. Alvin tidak bisa menebaknya.
''Sejak kapan?'' tanya Alvin setelah Arga menghabiskan gelas pertamanya.
''Sejak pesta pernikahan David,'' jawab Arga santai seraya menuang kembali air botol itu ke dalam gelasnya. Alvin cukup terkejut dengan jawaban Vanya. Tapi memang ia sedikit curiga kepada Arga. Semenjak pernikahan sahabat mereka itu, Arga jarang mendatangi club' dan bermain-main dengan wanita di sana. Sekalipun datang, Arga hanya memeriksa keadaan club' setelah itu ia pulang lagi atau ia hanya akan minum sebentar tanpa mau menyentuh wanita lagi.
'Pantas saja beberapa bulan belakangan ini Arga selalu menolak setiap wanita yang ingin menawarkan dirinya. Ternyata sudah ada Vanya yang bisa membuat Arga tak mampu melirik wanita lain,' batin Alvin.
''Loe pasti gak akan percaya dengan kenyataan yang lain tentang Vanya,'' imbuh Arga yang seketika membuat Alvin mengerutkan dahinya. Ia masih meraba-raba maksud dari ucapan Arga. Namun ia tak bisa menebaknya.
''Apa maksud Loe, Ga?'' tanya Alvin.
''Loe ingat kan, kalau gue pernah berusaha nyari cewek lima tahun yang lalu?'' tanya Arga. Alvin sempat berpikir lalu ia pun mengangguk.
''Are you serious, Ga? Bagaimana loe yakin kalau itu dia?'' tanya Alvin yang masih tidak percaya dengan ucapan Arga.
''Tatto. Aku sangat ingat tatto cewek itu sama dengan tatto milik Vanya. Lalu tanda lahir. Tanda lahir Vanya sama dengan tanda lahir cewek di Bali itu. Yang terakhir adalah kalung. Kalung yang gue temukan dulu itu adalah kalung milik Vanya. Kalung satu-satunya peninggalan kedua orang tuanya dan juga identitas Vanya.'' terang Arga kepada Alvin. Alvin masih tak menyangka jika kenyataan itu benar-benar terjadi. Ia tak habis pikir dengan dunia ini. Ternyata pemilik kalung sekaligus wanita yang selama ini Arga cari merupakan sahabat dari istri sahabat mereka sendiri.
''Apakah ini takdir?'' tanya Alvin.
''Entahlah. Jika memang ini takdir kami untuk bisa bertemu dan bersatu, aku yakin bagaimanapun dan sekeras apapun rintangan yang menghadang, kedepannya kami pasti akan bersatu kembali,'' ucap Arga sambil menggerakkan telunjuk tangan kanannya mengitari pinggiran gelas. Pikirannya melayang mengingat bagaimana ia dan Vanya menghabiskan waktu bersama selama beberapa bulan belakangan ini.
''Lalu apa yang akan loe lakukan sekarang? Melihat bagaimana Marcell datengin loe dan menghajar loe seperti tadi pagi, aku yakin Vanya juga mendapatkan perlakuan kasar dari laki-laki itu.'' ucap Alvin memecahkan lamunan Arga. Mendengar hal itu seketika membuat rahang Arga mengeras. Sampai terdengar suara gemeletuk gigi-giginya menahan amarahnya. Bahkan kedua tangannya kini mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
''Gue belum tahu pasti bagaimana keadaan Vanya saat ini. Gue udah berulang kali mencoba hubungin nomornya, tapi tidak aktif. Apalagi laki-laki brengsek itu bisa saja memperlakukan Vanya dengan kasar bahkan bisa memukulnya,'' ujar Arga sambil kembali meneguk minumannya.
__ADS_1
''Mana mungkin, Ga? Vanya kan kekasihnya sendiri,'' sahut Alvin. Arga tampak menggeleng mendengar ucapan sahabatnya itu.
''Loe gak tahu, Vin. Bahkan gue udah dua kali mergokin Vanya dengan wajahnya yang memar-memar akibat pukulan dari laki-laki bangsat itu. Bahkan gue sendiri yang ngobatin lukanya Vanya.'' ucap Arga yang seketika mendapatkan teriakan dari Alvin.
''APA? Udah sinting ya tuh orang?'' ucap Alvin tak percaya dengan kelakuan Marcell yang tega dengan kekasihnya sendiri.
''Terus loe maunya gimana sekarang? Loe gak akan tinggal diam aja kan?'' tanya Alvin sambil menelisik raut muka sahabatnya itu.
Tampak seringaian muncul di wajah Arga yang berhasil ditangkap oleh Alvin.
''Tentu. Gue masih mencari tahu dimana keberadaan Vanya saat ini. Gue yakin seratus persen jika Vanya saat ini tidak ada di apartemennya.'' jawab Arga.
''Butuh bantuan?'' ucap Alvin menawarkan dirinya untuk membantu sahabatnya yang tengah kesusahan itu.
''No, thank's. Gue masih bisa menanganinya. Loe tenang saja,'' sahut Arga sambil menepuk-nepuk pundak Alvin. Kemudian terlintas sebuah pertanyaan di benak Alvin. Namun ia masih ragu untuk mengungkapkannya. Ia sesekali melirik ke arah Arga yang masih menikmati minuman favoritnya itu.
''Ada apa?'' tanya Arga tiba-tiba. Ia tahu jika sahabatnya itu tengah memendam sesuatu darinya. Tampak raut wajah Alvin tersenyum cengengesan karena ketahuan oleh Arga.
''Gue mau nanya sama loe. Hehe,'' ucap Alvin hati-hati.
''Apa-an?'' tanya Arga datar.
''Hm, Gue tahu bagaimana sepak terjang Loe selama ini dengan para wanita di luaran sana. Lalu bagaimana dengan Vanya? Apa dia mampu mengimbangi permainan loe yang memang hyper itu dan menerima kelebihan loe itu?'' akhirnya pertanyaan yang ada di benak Alvin itu kini bisa terucap. Ada perasaan lega dan juga takut saat ia melontarkan pertanyaan itu.
Raut wajah Arga seketika berbinar mendengar pertanyaan itu. Lalu ia kembali menyesap minuman itu sebelum menjawabnya.
''Hm, hanya dia yang mampu mengimbangi permainanku. Bahkan ia bisa membangunkan milikku hanya dengan kedipan mata saja. Oh Sh**! Lihatlah. Milik gue tiba-tiba on saat gue hanya membayangkan wajahnya yang merona. Fu**ing sh**!"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...