
"Em, sekali lagi maaf ya, aku sudah membuat mobilmu penyok seperti itu,'' ucap Vanya. Kini keduanya sudah berada di dalam cafe dan duduk di tempat duduk yang letaknya berada di sudut ruangan
"Sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan, cuma hal kecil saja." ucap Arga sambil tersenyum tipis. Vanya tampak mengangguk sambil tersenyum kepadanya.
"Permisi, ini minumannya." ucap seorang pramusaji kepada keduanya. pramusaji itu meletakkan dua gelas minuman yang tadinya di pesan oleh Vanya dan Arga.
"Terimakasih,'' ucap Vanya kepada sang pramusaji. Setelah pramusaji pergi, Vanya dan Arga mulai meminum minuman mereka. Sesekali Vanya melirik ke arah Arga. Walau sebenarnya Arga menyadarinya, namun ia pura-pura saja tidak tahu. Ia seolah - olah sedang mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Melihat keseluruhan cafe tersebut.
'Kenapa aku merasa nyaman jika berada di dekatnya? Perasaan apa ini. Tidak-tidak. Aku memiliki kekasih. Aku mencintai Marcell. Ya, aku mencintainya terlepas bagaimana sikapnya padaku. A-aku tidak boleh memiliki perasaan pada laki-laki lain.' batin Vanya sambil menatap kearah Arga. Ia menatap Arga sampai-sampai ia melamun. Pandangannya kosong, namun wajahnya mengarah ke arah Arga.
"Ada apa, Van?'' tanya Arga yang melihat Vanya dari tadi melihat kearahnya.
Namun tak ada sahutan dari wanita dihadapannya itu.
"Van?'' panggil Arga lagi. Tapi tetap saja Vanya masih betah melamun.
"Vanya?'' panggil Arga lagi seraya ia menyentuh tangan kiri Vanya yang berada di atas meja.
Akibat sentuhan dari Arga membuat Vanya tersadar dari lamunannya.
''Eh,'' ucap Vanya tanpa sadar seraya menarik lembut tangannya. Lalu ia menundukkan kepalanya malu karena tertangkap basah menatap kearah nya. Rona merah mulai muncul dikedua pipi mulus Vanya.
"Are you okay, Van?'' tanya Arga. Ia tersenyum saat melihat Vanya tersipu dan merona. Entah apa yang dilamunkan oleh Vanya, namun ia yakin bahwa apa yang ada di pikirannya itu ada kaitannya dengan dirinya.
__ADS_1
Kemudian Vanya menyesap minumannya berharap bisa menghilangkan rasa gugup pada dirinya. Namun bukannya lega justru ia tersedak kala mendengar ucapan dari Arga.
'menggemaskan,' batin Arga.
"Kamu sangat cantik, Van. Kalau sedang tersipu begitu,'' ucap Arga dengan tatapan matanya kearah Vanya. Ia mengamati segala gerak-gerik Vanya.
bushing
uhuk uhuk
Bukannya mnghilang, justru rona merah di kedua pipi Vanya semakin memerah bahkan kini sudah seperti merahnya tomat. Padahal ia sudah sering kali mendapat pujian dari semua orang, tapi entah mengapa saat Arga yang mengatakan itu, dirinya merasa seperti melayang. Dengan cepat ia meminum minumannya.
"A-apa? Ka-kamu bisa sa-saja," ucap Vanya masih dengan menundukkan kepalanya.
'sungguh menggemaskan. Aku semakin penasaran dengannya. Aku penasaran bagaimana wajahnya saat dirinya mende...sah dan berada di bawah kung...kunganku. Oh, sh....it! hanya melihat dan membayangkan wajahnya saja membuat milikku mulai on. Fu...ck, ini gila.' batin Arga.
Tak mau semakin membuat Vanya tak nyaman, Arga pun mengalihkan pembicaraan mereka dan mulai mengobrol santai. Hingga Vanya menatap ke arah jam tangannya.
Ia sedikit terkejut kala melihat jam tangannya yang kini sudah menunjukkan pukul enam lebih empat puluh lima menit, itu artinya sebentar lagi pukul tujuh. Itu artinya ia sudah melebihi waktu yang telah ia jadwalkan.
'Oh, sh...it. Aku harus segera pulang,'
"Em, A-arga?" panggil Vanya.
__ADS_1
"Ya?" jawab Arga.
"Sepertinya aku harus pulang sekarang," ucap Vanya. Sejurus kemudian Arga pun melihat ke arah jam tangannya. Lalu ia terlihat menganggukkan kepala.
"Iya. Sepertinya aku juga harus pulang karena malam ini aku juga ada acara. Ada temanku dari luar negeri yang mengadakan birthday party disini." ucap Arga.
"Oh, ya? Kebetulan sekali. Aku juga menghadiri acara birthday party. Tapi yang mengadakan birthday party nya adalah sepupu dari Marcell, pacarku." ucap Vanya.
"Oh, i see." ucap Arga.
"So, kalau begitu aku bayar dulu tagihannya, setelah itu aku langsung pergi ya?" ucap Vanya seraya beranjak dari tempat duduknya.
"No. Masa' cewek yang bayarin cowok. Biar aku saja yang membayarnya," ucap Arga yang menolak ketika Vanya ingin membayar tagihan mereka.
"Ayolah, please. Aku merasa tak enak jika kamu begini. Okay?" ucap Vanya sambil menampilkan wajah imutnya. Arga yang melihat nya bagaimana bisa menolak? Alhasil ia menghela napas lalu mengangkat kedua tangannya menyerah.
"Fine. Aku tak bisa menolaknya jika kamu memasang wajahmu seperti itu padaku." Ucap Arga akhirnya.
Vanya terkekeh mendengar ucapan dari Arga.
"Ha-ha-ha. Okay, Kalau begitu aku pergi dulu ya, Bye?" ucap Vanya sambil tersenyum lalu ia berjalan menjauhi meja mereka dan menuju meja kasir yang berada tak jauh dari tempat mereka duduk.
"Pergilah, Van. See you tonight,"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...