
Setelah lelah berdebat dengan sang ayah, kini Arga berada dalam mobilnya. Saat ini ia tengah dalam perjalanan pulang ke apartemennya. Suasana hati nya cukup buruk setelah beradu argument dengan Arya Wijaya. Sifat sesama kerasnya, membuat Arga maupun Arya Wijaya tidak ada yang mau mengalah.
"*Sh...it."
"Gara-gara wanita itu, membuatku dan papa kembali berdebat. Sh...it*,'' sambil memukul-mukul setir mobilnya, Arga meluapkan kekesalannya kepada Laura. Entah mimpi apa dia tadi malam sehingga membuatnya bertemu manusia berkepala ular seperti Laura.
Umpatan demi umpatan keluar dari mulut laki-laki itu. Sungguh, hari ini merupakan salah satu hari terburuknya setelah pertemuan antar dua keluarga tadi.
Saat dirinya tengah berusaha meredam amarahnya, tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara benturan yang cukup keras hingga membuatnya menghentikan laju mobilnya.
brakk
Arga terkejut kala merasakan bamper mobil belakang nya tertabrak. Hingga membuatnya terdorong ke depan lalu seketika ia menghentikan mobilnya.
"Sh....it" umpatnya.
"Oh, kepalaku." gerutu Arga sambil memegangi tengkuknya yang terasa sakit akibat benturan. Dengan sedikit emosi, ia keluar dari mobilnya hendak memarahi mobil yang ada di belakang mobilnya itu.
"Loe gi...." belum sempat ia menyelesaikan umpatan nya, Arga dibuat kaget dengan sosok yang kini berada di depannya itu. Seorang wanita cantik yang tadinya ia lihat fotonya saat dirinya masih berada di kediaman papanya.
"Ma-maafkan aku, Tuan." ucap seorang wanita yang saat ini tengah menundukkan kepalanya. Mungkin ia tak menyadari siapa yang ia tabrak saat ini. Sedangkan orang yang ia tabrak jelas-jelas tahu siapa yang menabraknya.
Arga yang mengenali suara dan bentuk tubuh itu seketika memanggilnya.
__ADS_1
"Vanya?"
Vanya yang mendengar seseorang memanggil namanya itu kini mendongakkan kepalanya. Kedua matanya membulat kala melihat seorang laki-laki yang kini berdiri tegap di depannya itu. Ternyata mobilnya menabrak mobil milik Arga. Laki-laki yang kemarin sempat datang ke apartemennya dan meminjam kamar mandinya.
deg
'Dia?'
Degup jantung Vanya berdetak lebih cepat saat melihat sosok Arga yang berdiri menjulang tinggi dengan memegang tengkuknya dengan tangan kanannya. Wajahnya bersemu merah kala saat dirinya kembali mengingat kebodohannya saat bersama Arga di dalam kamarnya waktu itu.
"Ma-maafkan aku, Arga. A-aku tidak sengaja," ucap Vanya yang merasa bersalah karena sudah menabrak bodi mobil sport Arga. Ia menundukkan kepalanya menghindari tatapan mata Arga.
Arga yang kehabisan kata-kata kini justru melamun karena melihat sosok cantik di depannya itu. Hingga beberapa saat kemudian ia kembali tersadar dari lamunannya.
"A-aku? A-aku ti-tidak apa-apa," ucap Vanya terbata. Tubuh nya nampak bergetar kala ia mengatakan hal itu. Sepertinya ia shock akan kejadian yang baru saja terjadi. Ini pertama kali baginya menabrak seseorang.
"Hei, tenanglah. Aku tak apa. Kau pun juga tidak apa-apa sepertinya. Ini adalah hal kecil. Jangan takut, oke?" ucap Arga menenangkan diri Vanya. Vanya tak bisa membalas perkataannya selain hanya anggukan kepalanya.
"Ta-tapi bagaimana dengan mobilmu?" tanya Vanya . Ia melihat ada beberapa bagian belakang mobil Arga yang penyok dan lecet akibat dari benturan mobil miliknya.
"Mobilku? It's okay, biar nanti aku tinggal menghubungi bengkel langganan ku." jawab Arga santai.
"Em, kalau begitu beri aku nomer rekening mu, biar nanti aku yang membayar biaya perbaikan mobilmu," ucap Vanya yang kini sudah mulai tenang. Arga hanya tersenyum tipis mendengar kata demi kata yang terlontar dari bibir seksi Vanya. Ia bersorak dalam hati, akhirnya bisa memiliki nomor dari Vanya. Dewi Fortuna berpihak padanya hari ini.
__ADS_1
"Baiklah, kasih aku nomor telepon mu. Biar aku nanti mengirimkan nomor rekening ku lewat chat," ucap Arga penuh arti. Vanya hanya menganggukkan kepalanya seraya mendikte nomor telepon nya sendiri.
Dengan cepat Arga mencatat nomor Vanya di ponselnya lalu mencoba menghubunginya.
tringg
Terdengar suara panggilan dari ponsel Vanya yang ada di kantong celana jeans-nya.
"Ini?" tanya Vanya sambil memperlihatkan sebuah panggilan dari nomor asing yang masuk ke dalam ponselnya.
"Iya. Itu adalah nomorku." ucap Arga. Lalu ia mengakhiri panggilan tersebut.
"Baiklah. Nanti kalau kamu berada di bengkel atau membayar tagihannya, kamu bisa menghubungiku. Aku masih merasa bersalah padamu," ucap Vanya dengan tulus.
Arga hanya tersenyum mendengarnya.
"Oh, okay. Sudahlah, ini bukan hal yang besar. Em, bagaimana kalau kita minum dulu, disana." ucap Arga kepada Vanya. Ia juga menunjuk seberang jalan yang terdapat sebuah cafe.
Vanya tampak berpikir sejenak sambil melihat ke arah jam tangannya. 'Masih jam setengah enam sore. Bukan masalah kalau hanya satu jam saja," gumamnya.
"Em, baiklah. Tapi aku tak bisa lama. Soalnya aku ada acara nanti malam, bagaimana?" ucap Vanya.
"Baiklah. Ayo,"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...