
''Oh, God.'' ucap Vanya sambil memegang dadanya karena terkejut melihat kecelakaan maut yang ada di depan kedua matanya.
Kejadian yang tiba-tiba membuatnya menjadi gemetar di seluruh badan. Tak lama kemudian mulai berdatangan orang-orang mengerumuni dua mobil yang berada di sana. Satu mobil berada di tengah-tengah perempatan jalan, satunya lagi berada di pinggiran karena menabrak pembatas jalan.
Vanya yang miliki rasa empati yang besar kemudian turun dari mobil. Ia menyusul sang sopir untuk menunggunya.
''Excuse me,'' ucap Vanya sambil membelah orang-orang yang tengah berkerumun untuk jalan dirinya yang ingin mendekati mobil yang ringsek di bagian depan itu.
''Oh my God. Jonathan?'' betapa terkejutnya melihat lawan modelnya yang ternyata menjadi korban kecelakaan tersebut.
''do you know him miss? (kamu mengenalnya, Nona )" tanya seorang wanita kepadanya.
"Yeah. He ia my friend." ucap Vanya. Lalu setelah berbincang dengan beberapa orang dan kepolisian yang sudah berada di sana, Vanya pun memutuskan untuk menunda keberangkatan dirinya dan memilih mengikuti ambulans itu.
"Kalian terbang lah lebih dulu. Aku masih ada di rumah sakit sampai menunggu dari pihak keluarga Jonathan yang sedang berada dalam perjalanan," ucap Vanya dalam telepon. Saat ini ia tengah menelepon asistennya.
Ia memerintahkan kedua asistennya untuk terbang lebih dulu. Sedangkan dirinya masih berada dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Ia pun sudah menelepon pihak brand untuk mengabarkan kondisi Jonathan.
Tak butuh waktu lama, kini ia telah sampai di IGD rumah sakit swasta yang ada di kota S. Pihak rumah sakit langsung segera menangani dua pasien yang menjadi korban kecelakaan maut yang salah satunya adalah Jonathan itu sendiri.
Vanya juga melihat sekilas korban yang satunya. Seorang laki-laki tampan yang jika dilihat mungkin umurnya diatas Vanya beberapa tahun. Vanya melihat luka yang cukup parah di bagian kepala dan juga lengan serta kaki. Bahkan ia terlihat kehilangan banyak darah karena kemeja putih yang digunakan olehnya sudah tertutup oleh noda darahnya sendiri. Karena mobil laki-laki itu yang menabrak pembatas jalan setelah menyerempet mobil milik Jonathan. Sedangkan Jonathan sendiri hanya luka kecil di pelipisnya.
Vanya hanya bisa berdoa dalam hati agar diberi kesembuhan bagi kedua korban tersebut.
__ADS_1
Saat dirinya tengah menunggu di ruang tunggu depan IGD, ia mendengar beberapa ucapan dari salah satu perawat yang tengah berbicara dengan dokter yang sedang bertugas.
"*How is this, doc? We are running out of B Rh negative blood stock. This patient must be operated on immediately so he can be helped,("Bagaimana ini dok? kita kehabisan stok darah B Rh negatif. Pasien ini harus segera dioperasi agar bisa tertolong,")" ucap seorang perawat berbaju putih itu.
"What about his family?(Bagaimana dengan keluarganya?)" tanya dokter itu.
"According to the contacts contacted, his family is in France. They'll be arriving tomorrow, Doctor.(Menurut kontak yang dihubungi, keluarganya berada di Perancis. Mereka akan tiba besok, Dokter.)" jawab perawat*.
Vanya mendengar dengan jelas bagaimana kepanikan yang terjadi saat ini. Kemudian ia teringat jika dirinya memiliki golongan darah yang sama dengan laki-laki itu. Tanpa pikir panjang, Vanya pun menghampiri mereka.
''Excuse me, doctor. Looks like my blood type matches the patient. You can take my blood to help him,(Permisi, dokter. Sepertinya golongan darah saya cocok dengan pasien tersebut. Kalian bisa mengambil darahku untuk bisa membantunya,)" ucap Vanya yakin. Sejenak perawat dan dokter itu tampak saling pandang lalu kemudian keduanya menganggukkan kepala.
"All right, miss. Then come with me. You must follow the procedures that apply to be able to donate your blood,(Baiklah, Nona. Kalau begitu ikutlah denganku. Anda harus mengikuti prosedur yang berlaku untuk bisa mendonorkan darah anda,)" ucap perawat tersebut.
Kemudian Vanya mengikuti langkah perawat itu memasuki salah satu ruangan yang akan menjadi saksi dirinya mendonorkan darahnya untuk korban kecelakaan tersebut.
"Excuse me nurse. Actually I'm going on an air trip after this. That's fine isn't it?(Permisi, perawat. Sebenarnya saya akan melakukan perjalanan udara setelah ini. Tidak apa-apa bukan?)" tanya Vanya pada suster yang tadi menanganinya.
"You'd better rest first, miss. If Miss doesn't feel dizzy and is fit again, Miss can continue your journey. How about I ask for vitamins to help restore your stamina?(Sebaiknya anda lebih baik istirahat terlebih dulu, Nona. Jika Nona sudah tidak merasa pusing dan sudah fit kembali, Nona bisa melanjutkan perjalanan Anda. Bagaimana kalau saya mintakan vitamin untuk membantu memulihkan stamina Anda?)" sahut suster itu.
"May I? Then give me vitamins so I can quickly recover my body.(Bolehkah? Kalau begitu berikan aku vitamin agar aku bisa cepat memulihkan tubuhku.)" ucap Vanya.
"Fine, miss. Wait here, I'll get you vitamins Miss,(Baik, Nona. Tunggulah disini, saya akan mengambilkan vitamin Nona,)" ucap suster.
"Thanks," sahut Vanya lalu ia kembali menidurkan dirinya di ranjang pasien itu. Ia memejamkan mata, mengistirahatkan sejenak tubuh dan pikirannya.
__ADS_1
Wajah Vanya memang terlihat sedikit pucat setelah melakukan pengambilan darah tadi.
Saat ini Ia masih menunggu kedatangan pihak keluarga Jonathan yang katanya sudah hampir sampai.
*drrrtt
drrrtt*
Suara getar ponsel Vanya terasa dalam tas miliknya. Dengan cepat ia mengambilnya. Ia melihat nama Arga di layar tersebut. Senyumnya mengembang saat mengingat kembali sosok Arga yang beberapa bulan belakangan ini menghiasi hidupnya.
"Halo," ucap Vanya.
"Kau dimana, baby? Kenapa belum pulang?"
"Tadi ada kecelakaan hebat di depan mobilku, Ar. Lalu saat aku mendekat ternyata yang kecelakaan adalah Jonathan. Sebagai teman aku mendampinginya di rumah sakit. Tapi kamu tenang dulu. Aku mendampinginya hanya sampai pihak keluarganya datang. Setelah itu aku akan segera pulang," ucap Vanya menjelaskan terlebih dahulu sebelum Arga mencak-mencak akibat keputusannya tersebut.
"Kenapa harus kamu? Kemana pihak dari agency-nya, huh? Tak bisakah kamu pulang sekarang, baby? Aku takut kamu akan tergoda dengan laki-laki culun sepertinya,"
"Oh, come on, Hon. Aku tak akan tergoda begitu saja dengan laki-laki lain, oke? Just trust me,hm?" ucap Vanya. Ia geleng-geleng kepala mendengar ucapan dari Arga.
"Huh, baiklah. Kapan kamu akan pulang?"
"Jika malam ini masih ada penerbangan, aku akan langsung pulang. Jika tidak ada, besok pagi saja. Lagipula aku baru saja melakukan transfusi darah." ucap Vanya.
"What?"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...