Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 93 Rencana Vanya


__ADS_3

Sejak dimana Marcell melampiaskan amarahnya pada benda-benda di kamar, laki-laki itu tak pernah lagi menampakkan batang hidungnya di hadapan Vanya. Vanya tak memperdulikannya lagi. Bahkan kapan dan jam berapa Marcell pulang pun Vanya tidak pernah bertanya pada Bibi ataupun menunggunya.


Kedua insan itu semakin hari semakin jauh. Dan itu merupakan hal yang baik untuk Vanya.


Hari demi hari terlewati, hari ini sudah hari ke lima dimana Vanya terkurung di dalam istana emas milik Marcell. Semua kebutuhannya terpenuhi namun ia tak diperbolehkan keluar meski sekedar hanya di luar pagar rumah.


''Sudah tiga hari Marcell tidak pulang. Mungkin dia ada pekerjaan di luar kota. Apa aku coba kabur malam ini ya?'' gumam Vanya sambil menatap ke luar jendela kamarnya.


Semenjak kejadian malam itu, Vanya bertekad untuk bisa keluar dari rumah tersebut. Oleh karena itu, ia memulihkan kondisi tubuhnya terlebih dahulu.


''Tapi bagaimana caranya? Tak ada ponsel yang bisa aku gunakan. Jika ada ponsel, setidaknya aku bisa menghubungi Renata.'' imbuh Vanya dalam hati. Saat ia sibuk dengan pikirannya, terdengar suara ketukan dari luar pintu.


*tok


tok


tok*


''Masuk,'' titahnya.


''Makan malam sudah siap, Non.'' ternyata Bibi yang mengetuk pintu kamar Vanya.


''Iya, Bi. Sebentar lagi aku akan turun,'' ujar Vanya.


Setelah Bibi itu pergi dari sana, Vanya tiba-tiba mendapat sebuah ide agar bisa melakukan percobaan kaburnya.


''Aku harus pergi ke apotik. Iya, tapi bolehkah aku keluar? Bagaimana kalau tidak boleh? Jika malam ini Marcell pulang, aku akan mencoba bilang padanya.'' gumam Vanya sambil meyakinkan dirinya tentang rencana yang ia buat.


Setelah itu, Vanya pun keluar dari kamar.


Seolah memang Tuhan berpihak padanya, di meja makan ia melihat punggung laki-laki yang sudah lebih dulu duduk di kursi. Marcell. Laki-laki itu malam ini akhirnya menunjukkan batang hidungnya setelah berhari-hari menghilang.


Tak ada obrolan. Keduanya makan dalam keheningan. Hanya dentingan sendok dan garpu mereka yang terdengar di sana.

__ADS_1


'Haruskah aku bicara sekarang?' batin Vanya sambil memasukkan suap demi suap makanan ke dalam mulutnya. Begitu pula dengan Marcell.


Baru saja Vanya hendak membuka mulut, terdengar suara Marcell yang berbicara padanya.


''Aku ada kerjaan di Surabaya selama seminggu. Aku harap jangan bertingkah ataupun mencoba kabur dari sini. Aku sudah menyewa beberapa bodyguard untuk berjaga-jaga.'' ucap Marcell yang seketika membuat Vanya merasa down. Bagaimana ia bisa kabur dari rumah itu? Sedangkan Marcell memperkerjakan beberapa bodyguard di sana.


'Sialan. Lalu bagaimana dengan rencanaku? Come on, Vanya. Berpikirlah,' batin Vanya.


''Ya. Bisakah aku keluar ke apotik? Aku ingin membeli kebutuhan wanita.'' sahut Vanya. Marcell tampak diam mendengar ucapan dari Vanya. Tak kebahisan akal, Vanya pun menambahkan.


''Kalau tak percaya kalau bisa menyuruh salah satu bodyguard mu untuk mengikutiku,'' imbuh Vanya.


''Baiklah. Aku akan memerintahkan dua bodyguard untuk mengikutiku. Jangan sekali-kali kamu berpikir untuk kabur, atau aku akan benar-benar mematahkan kedua kakimu, Vanya.'' kata Marcell yang seketika membuat Vanya merasa ketakutan. Apalagi raut wajah Marcell nampak tak bersahabat kala mengatakan itu.


deg


''Aku tahu,'' sahut Vanya dengan suara dibuat setenang mungkin. Meski dalam hatinya ia bertanya-tanya apakah Marcell dapat membaca pikirannya? Hingga membuatnya seakan tahu akan rencananya.


''Kalian tunggu disini. Jangan ikut masuk,'' titah Vanya.


''Tapi Nona, kami diperintahkan untuk berada disamping Nona apapun keadaannya.'' sahut salah satu dari bodyguard itu ketika mereka telah sampai di depan apotik. Vanya memutar otaknya membuat sebuah alasan agar kedua bodyguard itu mau menuruti perintah nya.


''Kalian bisa tunggu di depan pintu ini. Lagipula dindingnya kaca, jadi kalian bisa mengawasi ku meski dari sini. Memang kalian tidak malu mengikutiku masuk, karena aku ingin membeli pembalut. Disini saja,'' ucap Vanya. Mau tak mau kedua bodyguard itu pun mengikuti perintah Vanya dan menatap ke dalam apotik. Mengawasi setiap gerak-gerik Vanya.


Tak butuh waktu lama, Vanya pun keluar dari apotik tersebut. Mereka segera kembali ke rumah Marcell mengingat laki-laki tadi sempat mengultimatum mereka agar segera pulang jika Vanya sudah selesai dengan belanjaannya.


'Aku harus memilih hari yang tepat untuk melancarkan aksiku. Aku tak ingin sampai ketahuan mereka.' batin Vanya saat berada dalam perjalanan pulang.


Setibanya di rumah, kedatangan mereka sudah di sambut oleh aksi Marcell yang tengah berkelahi dengan seorang laki-laki di depan pintu rumah itu.


Vanya pun terkejut saat melihat siapa yang menjadi tandingan Marcell. Tubuhnya membeku saat melihat seorang laki-laki yang sudah berhari-hari tak ia jumpai. Bahkan hanya sekedar kabarpun, Vanya tak bisa mengetahuinya.


'A-arga?' batin Vanya. Ia menatap lekat laki-laki yang ia rindukan tersebut. Tanpa ia sadari sudut bibirnya tampak melengkung keatas melihat Arga dari dalam mobil.

__ADS_1


''Tunggu disini dulu, Nona. Kami akan keluar dan membantu Tuan Marcell.'' ucap salah satu dari kedua bodyguard itu. Setelah itu kedua laki-laki itupun bergegas keluar dari mobil dan langsung menghampiri dua orang yang tengah berkelahi itu.


Bugh


Dengan keras salah satu bodyguard itu menendang punggung Arga hingga membuatnya tersungkur.


Vanya seketika menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat melihat itu. Bahkan kini ia melihat dengan kedua matanya bagaimana kini Arga jadi bulan-bulanan kedua bodyguard itu. Lawan yang tak seimbang membuat Arga berada dalam kondisi yang memprihatinkan.


''Aku harus keluar.'' ucap Vanya lalu ia segera keluar dari mobil. Namun saat tangannya ingin membuka pintu disampingnya, pintu itu terkunci.


Kemudian pandangan mata Vanya mengarah pada sopir yang masih di depannya itu.


''Buka Sekarang!'' bentak Vanya pada sopir pribadi Marcell itu.


''Maaf, Nona. Saya hanya menjalankan tugas dari Tuan Marcell.'' sahut sopir.


''Aku tak peduli. Buka sekarang juga. Cepat!'' namun sopir itu masih dengan pendiriannya. Tak sekalipun ia bereaksi meski Vanya membentaknya.


'Bagaimana ini?'batin Vanya yang bingung. Pandangan mata Vanya mengarah pada tali pinggangnya. Meski dalam hatinya ia merasa takut, namun ia tak punya pilihan lain. Ia harus keluar dan menghentikan perkelahian itu.


Perlahan Vanya melepaskan okay pinggangnya dengan mata yang menatap ke arah sopir. Sedangkan sopir itu masih memandang perkelahian itu dari balik jendela.


grep


Vanya pun dengan cepat mengalungkan ikat pinggang itu di leher sopir itu.


''Non.. Uhuk.'' ucap sopir itu.


''Aku bilang buka. Atau kau ingin aku membunuhmu disini, hah? BUKA!'' bentak Vanya. Mau tak mau sopir itu pun membuka kunci pintu mobil karena ia masih sayang dengan nyawanya.


brakk


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2