
''Kenapa lama sekali, Brian?'' tanya Leon yang tampak tak sabar menunggu kedatangan adiknya itu.
Brian melihat ke arah pergelangan tangannya, melihat jam tangannya yang menunjukkan baru lima belas menit anak buah mereka masuk ke dalam sana.
''Mohon bersabar, Tuan. Mereka baru masuk ke dalam sana lima belas menit,'' sahut Brian.
''Perlukah kita susul ke dalam sana, Brian? Aku sudah tak sabar ingin bertemu Ella,'' keluh Leon yang sudah tak mampu menahan dirinya agar tak berlari ke dalam sana.
''Tidak perlu, Tuan. Mereka sudah sangat terlatih, jadi tidak mungkin kalah dengan bodyguard Marcell itu, Tuan.'' ucap Brian yang menjelaskan kemampuan anak buahnya. Ia mengerti bagaimana perasaan Tuan-nya itu saat ini. Rasa deg-degan, rindu, amarah, bercampur jadi satu. Jadi Brian hanya bisa memakluminya dan terus memberikan positif vibes kepada Leon.
''Tapi kenapa sampai sekarang belum keluar juga? Haih, menyebalkan.'' imbuh Leon. Lalu ia menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi sambil memejamkan matanya. Jujur saja ia masih lelah karena perjalanan panjang mereka dari Singapura.
Namun karena demi sang adik, Leon tak menghiraukan rasa lelahnya itu.
''Itu Nona, Tuan.'' suara Brian menyentak Leon beberapa saat kemudian.
Leon yang ada di kursi belakang langsung menegakkan tubuhnya dan melihat keluar jendela.
Deg
''Ella? Benarkah dia Ella, Brian?'' tak terasa setitik air mata menetes dari pelupuk mata Leon saat melihat Vanya berjalan pelan ke arah mobilnya.
''Benar, Tuan. Dia adalah Nona Ella. Avriella Christofera Nerotouw adik Tuan.'' sahut Brian semakin membuat dada Leon terasa sesak oleh perasaan nya yang saat ini bercampur aduk menjadi satu.
'Lihatlah, Mom. Bahkan kecantikan Ella seperti cantiknya mommy waktu dulu. Aku sudah menemukannya, Mom, Dad. Leon berhasil menemukan malaikat kecil kita,' sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri, Leon mengatakan itu di dalam hatinya.
Leon tak peduli lagi jika Brian dan seluruh anak buahnya melihat dirinya menangis saat ini. Memang inilah yang ia rasakan. Setelah berpisah puluhan tahun, saat ini akhirnya ia bisa menemukan adik kecilnya.
ceklek
Leon yang sudah tak sabar menanti kedatangan Vanya, ia langsung membuka pintu mobilnya setelah ia mengusap kedua pipinya akibat lelehan air matanya.
Deg
__ADS_1
Semakin sesak dada Leon saat melihat bagaimana keadaan Vanya saat ini. Jalan Vanya yang sedikit pincang, perban yang masih melekat di kepalanya, ditambah beberapa memar yang masih membekas di wajahnya menjadi pemandangan yang sangat menyakitkan bagi Leon.
Sakitnya bahkan melebihi sakitnya saat Leon pernah mendapatkan luka tembak beberapa tahun yang lalu pekerjaannya. Bergegas Leon mendekat kearah Vanya. Kedua mata Leon sudah sangat merah saat menatap lekat wajah cantik adiknya itu.
Ia bisa melihat Vanya yang terdiam melihat keberadaannya di sana. Pandangan mata Leon beralih pada sebuah kalung yang digunakan Vanya. Kalung dengan permata biru yang merupakan milik mommy-nya itu. Leon menyunggingkan senyumnya melihat itu.
''Bukankah anda adalah korban kecelakaan di Singapura beberapa waktu lalu?'' tanya Vanya. Leon sampai memejamkan matanya sejenak mendengar suara lembut darinya. Ia seakan masih tak percaya dengan apa yang ada di depan matanya itu.
Sedangkan para bodyguard terlihat sudah menjauh dan menyebar. Menjadi keadaan yang ada di sekitar sana.
''Hm,'' jawab Leon singkat sambil terus menatap lekat ke arah Vanya.
'Kenapa dia menatapku seperti itu? Kenapa aku merasakan sesuatu dalam dadaku saat melihat laki-laki ini? Siapa dia?' batin Vanya bertanya-tanya.
''Hm, Bagaimana anda bisa sampai disini, Tuan? Apakah mereka orang suruhan Tuan?'' tanya Vanya lagi. Ia ingin mengetahui maksud dari laki-laki itu yang mendatanginya jauh-jauh sampai kesini bahkan sampai membatunya keluar dari rumah Marcell.
''Namamu Avriella, bukan?'' tanya Leon sambil melangkah mendekat.
grep
''Oh, God. Akhirnya aku menemukanmu, baby. I really do miss you,'' Leon yang sudah tak sabar langsung merengkuh tubuh ramping Vanya. Vanya sampai dibuat membeku akibat hal itu. Ia terkejut mendapatkan pelukan dari laki-laki asing itu.
''Ma-maaf, Tuan. Maksud anda apa ya?'' tanya Vanya sambil berusaha melepaskan pelukan itu. Leon yang menyadarinya seketika teringat. Ia perlahan melepaskan pelukannya lalu memegang kedua pundak Vanya.
''Panggil aku Kakak, Ella. Aku adalah kakak kandungmu.'' ucap Leon sambil kembali meneteskan air matanya menatap Vanya. Tangan kekarnya mengelus pipi mulus Vanya.
Deg
'Kakak? Kakak kandung? Apa maksudnya ini?' batin Vanya.
''Maaf, sepertinya anda salah orang, Tuan.'' sahut Vanya yang tak percaya dengan ucapan dari Leon. Laki-laki itu menghela napas mendengar ucapan dari Vanya.
''Ayo ikut aku. Aku akan menunjukkan sesuatu padamu,'' ajak Leon sambil menggenggam tangan kanan Vanya. Ia menuntun wanita itu untuk ikut masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Vanya yang tak bisa berbuat apa-apa hanya mampu menurut. Dalam hatinya pun merasa jika laki-laki ini adalah laki-laki baik-baik.
''Masuklah,'' ucap Leon yang membukakan pintu untuk Vanya. Vanya hanya bisa mengangguk sambil masuk ke dalam sana.
''Berikan padaku, Brian.'' ucap Leon sambil mengulurkan tangannya ke depan pada asistennya.
''Ini, Tuan.'' ucap Brian sambil memberikan sebuah map pada Leon.
Leon menerimanya lalu membukanya.
''Pertama-tama, apakah aku boleh tahu kalung yang kamu pakai itu kalung siapa? milikmu?'' tanya Leon. Vanya mengangguk kecil.
''Benar. Ini kalung saya,'' jawab Vanya.
''Boleh aku tahu siapa orang tua mu?'' tanya Leon.
Vanya terdiam sejenak.
''Saya dibesarkan di panti asuhan, Tuan. Dan ini adalah kalung yang sudah ada pada saya saat saya ditemukan oleh pengurus panti,'' jawab Vanya jujur. Menurut yang disampaikan oleh Ibu panti, dulu ia ditemukan di depan pintu panti dengan sebuah tas besar berisi peralatannya dan juga kalung yang dilingkarkan di lengan kanannya.
''Kamu yang mendonorkan darahmu padaku, kan?'' tanya Leon.
''Benar, Tuan. Saat itu saya yang melihat di tempat kejadian itu. Kebetulan mobil yang Tuan serempet itu adalah mobil teman saya. Oleh karena itu saya juga yang mengantarkan anda dan teman say ke rumah sakit. Lalu saat di rumah sakit, saya tidak sengaja mendengar ucapan para dokter yang mengatakan bahwa anda membutuhkan darah. Kemudian saya berniat membantu dan ternyata darah saya sama dengan anda. Akhirnya saya menyumbangkan darah saya kepada Tuan.'' jawab Vanya yang menjelaskan tentang peristiwa kecelakaan maut itu.
''Darah kita sama karena memang kita adalah saudara, Ella. Bacalah ini. Kamu akan mengetahuinya,'' ucap Leon sambil memberikan map itu kepada Vanya.
Meskipun masih bingung, Vanya tetap membuka map tersebut.
Pada lembar pertama terlihat sebuah laporan yang Vanya yakini merupakan laporan laboratorium dari rumah sakit itu. Vanya membaca setiap kata di sana. Lalu seketika Vanya menutup mulutnya tiba-tiba saat kedua matanya membaca hasil akhir dari laporan itu.
''I-ini .....''
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1