
"Mau apa?" tanya Arga kepada Vanya sambil menjauhkan Danish.
"Biarkan Danish bersamaku di belakang," ucap Vanya hati-hati. Ia takut menyinggung perasaan orang itu.
"No, biarkan Danish tidur sendiri di belakang. Kamu duduk di depan," ucap Arga sambil membungkukkan badannya lalu masuk ke dalam bangku penumpang dan meletakkan Danish disana. Setelah itu Arga kembali menutup pintu mobil itu. Ia melihat Vanya masih saja berdiri ditempatnya tanpa bergeser sedikitpun.
"Kenapa masih berdiri disini? nggak masuk?" tanya Arga heran dengan wanita itu. Vanya yang tidak sengaja melamun langsung tersentak mendengar ucapan tersebut. Ia hanya bisa menunduk lalu membuka pintu mobil yang ada di sampingnya itu.
ceklek
Setelah memastikan Vanya sudah masuk ke dalam mobil, Arga langsung mengitari depan mobil dan segera masuk ke dalam mobil dan susuk di belakang kemudi.
Cletak
Setelah memasang seat belt nya, Arga berniat menyalakan mobilnya. Namun gerakan tangannya terhenti kala pandangannya melihat ke arah Vanya. Arga hanya bisa menghela napas lalu membuka kembali seat belt nya lagi.
Tiba-tiba ia mencondongkan tubuhnya ke arah Vanya. Vanya yang melihat itu seketika tersentak dan menegang. Bahkan ia menahan napasnya kala wajah tampan Arga berhenti tepat di depan wajahnya.
*deg
deg
deg*
Degup jantung Vanya seketika bertalu-talu. Pikirannya kosong, tak tahu harus berbuat seperti apa. Apalagi aroma maskulin yang menguat dari tubuh kekar itu, membuat tubuhnya merespon dengan cepat. Bahkan ia merasakan inti dari tubuhnya terasa berdenyut.
Entah apa yang sedang ada dipikiran Vanya, tiba-tiba saja ia memejamkan kedua matanya. Namun setelah ia memejamkan kedua matanya, ia tidak merasakan apa-apa. Justru terdengar suara yang sontak membuatnya membuka mata seketika.
cletak
__ADS_1
Suara seat belt terdengar nyaring ditelinga nya. Seketika Vanya menunduk malu. Berusaha menyembunyikan rona merah dikedua pipinya.
"Malu. Sangat malu sekali," batin Vanya.
"bodohnya aku, bisa-bisanya aku malah berpikir kesana. memalukan sekali kau, Vanya." runtuk Vanya dalam hati.
Sedangkan Arga yang melihat tingkah Vanyahanya bisa mengulum bibir seksinya. Ia tahu jika wanita yang ada di sebelahnya itu sangat malu. Karena ia bisa melihat wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus itu.
cletak
Arga pun kembali memakai seatbelt nya sendiri. Ia pun mulai menyalakan mobilnya dan menggerakkan kuda besi itu keluar dari area cafe tersebut.
"Dimana alamat rumah mu?" tanya Arga tanpa menoleh ke arah Vanya.
"Em, aku tinggal di apartemen La'venus," ucap Vanya. Arga hanya manggut-manggut saja mendengar alamat tersebut.
Ia tahu jika alamat yang diberikan oleh Vanya merupakan salah satu apartemen mewah yang ada di kota itu. Karena Vanya merupakan seorang model, tentu saja sudah wajar jika ia tinggal di apartemen yang mewah tersebut.
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh lima menit, mobil yang dikendarai oleh Argatibs di kawasan apartemen alit di kota itu. Apartemen yang terletak di tengah - tengah kota.
Sampai di basemen, Arga ternyata juga ikut turun. Seketika membuat alis Vanya mengkerut.
"Ngapain dia ikut turun? tanya Vanya dalam hati. Tak mau membuat kesalahan lagi, ia bergegas ikut turun keluar dari mobil itu.
Melihat Arga mengambil alih Danish, membuat Vanya kembali mencegahnya.
"Eh, sampai di sini saja. Biar Danish ikut bersamaku," ucap Vanya kepada Arga. Arga hanya menatap sekilas tanpa menggubris perkataan yang keluar dari mulut Vanya.
Beberapa saat kemudian kini Danish sudah berada dalam pelukan Arga. Mau tak mau Vanya hanya bisa mendesah pelan. Ia tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran laki-laki itu. Setelah sepanjang acara launching ia selalu saja menatapnya, kini laki-laki itu tampak datar saja kepadanya.
__ADS_1
Kini keduanya berada di dalam lift, Vanya menekan tombol 15 disana. Perlahan ruangan sempit itu bergerak keatas menuju lantai dimana apartemen Vanya berada.
Ting
Keduanya pun keluar dari lift tersebut. Arga bisa melihat di lantai itu hanya ada tiga pintu disana. Ia yakin salah satu diantaranya adalah apartemen milik Vanya. Dan benar saja, Vanya berjalan menuju pintu yang ada di ujung lantai itu.
*tit ... tit ... tit ... tit ...
ceklek*
Vanya berbalik menghadap Arga. Arga menaikkan sebelah alisnya menatap Vanya yang menurutnya menghalangi pintu.
"Sampai disini saja, Tuan. Terimakasih sebelumnya," ucap Vanya.
"Minggirlah, biarkan aku masuk membawa Danish dan meletakkannya di dalam sana," sahut Arga.
"Ta-tapi,"
"Minggir," belum sempat Vanya meneruskan ucapannya, Arga menyela sambil memperlihatkan tatapan tajamnya kepada wanita yang kini berdiri dihadapannya itu.
Mau tak mau, Vanya hanya bisa menghela napas sambil menggeser tubuhnya, mempersilakan Arga memasuki area pribadinya yang sebelumnya hanya Renata dan Marcell yang pernah memasukinya.
*ceklek
Pintu apartemen itu kembali tertutup rapat*. Sesampainya di dalam Vanya melihat Argahyanya berdiam di tengah-tengah ruang tamu disana. Vanya yang melihat itu langsung mengerti, ia pun mengarahkan Arga untuk mengikuti langkahnya memasuki salah satu ruangan yang ada disana. Ruangan yang Arga yakini adalah kamar milik model cantik tersebut.
"Terimakasih," ucap Vanya kepada Arga setelah ia meletakkan Danish di ranjang empuk itu. Arga hanya mengangguk lalu ia diam-diam mengamati wajah cantik Vanya.
Melihat tatapan mata elang milik Arga, membuat Vanya menundukkan kepalanya. Perlahan Arga melangkahkan kakinya menghampiri Vanya. Vanya yang menyadari hal itu, perlahan ikut mundur hingga membuatnya tiba-tiba tersentak kala tubuh belakangnya menabrak dinding yang ada di dalam kamarnya.
__ADS_1
"A-ada apa, Tu-tuan?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...