Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 89 Uring-uringan seharian


__ADS_3

Setelah dari perusahaan Arga, Marcell segera mengemudikan mobilnya menuju ke kantornya sendiri. Dalam perjalanannya, Marcell mengumpat bahkan berteriak keras karena meluapkan segala emosi yang menguasai dirinya.


''Brengsek, brengsek, brengsek.'' umpat Marcell sambil memukul-mukul setir mobil nya.


Dengan amarah yang masih merajai dirinya, Marcell mengemudikan mobilnya menuju kantor.


Di mansion Marcell


Ceklek


Bibi pelayan membuka pintu kamar milik Marcell. Langkahnya pelan menghampiri ranjang milik majikannya itu. Ia bisa melihat Vanya yang tampak duduk sambil bersandar di sana. Tatapannya kosong, buliran air mata masih menggenang di kedua matanya. Bahkan tubuh polosnya masih berbalut selimut tebal itu.


''Non? Non Vanya?'' panggil Bibi. Hanya diam. Tak ada kata yang keluar dari bibir Vanya. Hanya butiran air mata yang sesekali menetes dari kedua manik mata Vanya.


''Non, makan dulu ya, Non?'' ucap Bibi halus. Ia berusaha membujuk kekasih majikannya itu untuk makan. Ia tahu bagaimana peringai majikannya itu karena memang ia sudah bekerja dengan Marcell sejak Marcell tinggal di mansion tersebut.


''Buat apa? Gak ada gunanya lagi aku hidup. Aku sudah capek.'' ucap Vanya lirih. Tubuhnya masih terasa sakit. Apalagi intinya, terasa sangat kebas dan perih akibat permainan kasar Marcell tadi malam dan juga pagi tadi.


''Tapi Non Vanya harus makan, Non. Kalau Non Vanya gak mau makan, saya juga yang akan mendapat hukuman dari Tuan Marcell, Non. Non Vanya makan ya?'' bujuk rayu Bibi pada Vanya. Vanya yang tak mau menyeret orang lain ke dalam urusan pribadinya hanya bisa menghela napasnya kemudian ia menganggukkan kepala.


Bibi tentu saja berbinar melihatnya.


''Bibi bawa kesini ya Non, makanannya ?'' ucap Bibi menawarkan. Vanya menggelengkan kepala.


''Tidak, Bi. Aku akan turun setelah membersihkan tubuh ku,'' ucap Vanya.


''Baik, Non. Kalau begitu saya permisi dulu,'' pamit si Bibi lalu ia pergi meninggalkan kamar majikannya itu.


Perlahan Vanya menggeser tubuhnya ke pinggiran ranjang. Meski tubuhnya masih terasa remuk redam, tapi ia tak mau jika Bibi harus mendapatkan hukuman dari Marcell. Cukup dirinya saja yang menjadi bulan-bulanan laki-laki biadab itu.

__ADS_1


Menyibak selimut tebal itu, pandangan mata Vanya nanar kala melihat seluruh tubuhnya yang tampak mengerikan. Bekas cinta Marcell bertebaran dimana-mana bercampur dengan memar-memar juga ada di beberapa bagian tubuhnya.


Pakaian milik Vanya pun tak luput dari amukan Marcell. Dress motif bunga berwarna hijau itu kini sudah tak berbentuk lagi. Dress itu tergeletak begitu saja di lantai bersamaan dengan pakaian dalam milik Vanya yang juga sudah tak berbentuk.


'Dasar. Iblis!' desis Vanya seraya berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi.


Mengisi bak mandi dengan air hangat, menuangkan beberapa tetes aroma terapi. Setelah bathub itu terisi penuh, Vanya pun melangkahkan kakinya masuk kesana lalu duduk bersandar di tepian.


Menikmati hangatnya air bathub beserta aroma wanginya yang mampu menenangkan hati Vanya. Merelaksasi kan tubuhnya, agar bisa kembali fresh seperti sedia kala.


Hampir satu jam lamanya Vanya berkutat di dunia kamar mandi tersebut. Kemudian ia segera berganti pakaian dengan salah satu pakaiannya yang memang tersedia di sana. Setelah berpakaian dan sedikit mengaplikasikan make-up nya, Vanya keluar dari kamar dan berjalan menuju meja makan.


''Silakan, Non.'' ucap Bibi sambil mulai melayani Vanya seperti ia melayani Marcell. Vanya memakan makanan yang tersedia disana. Ia sadar, ia juga harus memikirkan nasib adik-adiknya yang ada di panti. Ia tak bisa melupakan mereka begitu saja setelah apa yang ia lalui selama ini.


''Terimakasih, Bi.'' ucap Vanya setelah ia menyelesaikan makan paginya. Meski saat ini matahari sudah terik, namun karena Vanya sejak pagi belum sarapan sehingga baru sekarang wanita itu sarapan.


Di dalam hati Bibi ia cukup khawatir melihat keadaan Vanya. Namun disisi lai ia juga tak bisa membantah apa yang diperintahkan padanya.


''Mau ke minimarket depan, Bi.'' ucap Vanya santai. Ia masih belum mengingat jika Marcell melarangnya pergi.


''Maaf, Non. Tapi tadi pagi Tuan Marcell berpesan jika Non Vanya tidak diperbolehkan untuk keluar dari mansion.'' ucap Bibi yang seketika membuat langkah Vanya terhenti.


Vanya memejamkan mata sejenak. Ia tidak menyangka jika Marcell benar-benar akan mengurungnya selama di sini. Vanya mulai berpikir, bagaimana caranya ia bisa keluar dari mansion tersebut.


Mau tak mau Vanya akhirnya masuk kembali ke dalam kamarnya yang ada di lantai dua.


Ceklek


Kamarnya kini sudah rapi kembali. Lampu tidur yang tadinya masih hancur berserakan kini sudah tak ada lagi. Pakaian-pakaian miliknya juga sudah tak nampak. Bahkan ranjangnya kini sudah rapi seperti sebelum peperangan dirinya dan Marcell terjadi. Vanya kemudian berjalan menuju jendela besar yang kordennya sudah terbuka, menampilkan pemandangan taman belakang milik Marcell.

__ADS_1


'Akankah aku akan terkurung dalam sangkar emas yang diciptakan oleh Marcell ini selamanya? Apa yang harus aku lakukan untuk bisa keluar dari sini? Tak adakah seseorang yang bisa membantuku terbebas dari jerat laki-laki itu? Hiks,' hanya bisa menangis dan menangis. Menumpahkan segala keresahan hatinya dalam batin.


Hanya air mata yang kini menemani kesendirian Vanya disana.


Tak ada lagi yang bisa ia lakukan saat ini. Ia juga tak bisa menghubungi orang lain karena ponselnya sudah dihancurkan oleh Marcell di depan kedua matanya kemarin.


Meski sempat terlintas dalam benak Vanya untuk mengakhiri hidupnya, tapi dalam hatinya ia masih merasakan sesuatu yang entah mengapa menyuruhnya untuk tak pantang menyerah. Akan ada seseorang yang nantinya akan membantunya keluar dari sana.


Seharian ini Marcell bekerja dengan perasaan yang campur aduk. Banyak dari karyawannya yang mendapat semprotan darinya hanya karena masalah yang sepele.


''Kenapa dengan Pak Marcell? Hari ini marah-marah mulu?'' tanya seorang staf kepada temannya sesama staf.


''Mana gue tahu? Mungkin lagi ada masalah sama pacarnya kali,'' sahut temannya. Kedua wanita itu ha ia menghadiri meeting yang dilaksanakan di ruang meeting bersama dengan Marcell sebagai pemimpin meeting. Hanya karena salah ketik beberapa kata, Marcell memarahi kedua staf itu habis-habisan. Bahkan sampai menggebrak meja meeting.


Dan itu adalah kali pertama bagi seluruh karyawannya yang melihat atasan mereka yang terlihat sangat marah karena kesalahan itu. Bahkan semua yang hadir disana sampai menundukkan kepala tak ada yang berani menatap ke arah Marcell.


*tok


tok*


Terdengar suara ketukan dari luar pintu ruangan Marcell. Marcell yang tengah memijat-mijat pelipisnya merasa pusing seketika mengangkat pandangannya.


''Masuk'' titahnya. Beberapa saat kemudian terlihat seorang wanita cantik nan seksi masuk ke dalam ruangan milik Marcell.


Tatapan mata elang Marcell tajam melihat kedatangan wanita tak tau malu itu.


''Ada apa datang kemari? KELUAR!''


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2