
Setelah menghabiskan makan malam bersama, kini Arga dan Vanya tengah menikmati secangkir kopi di meja makan.
''Sekali lagi thanks ya, Arga.'' ucap Vanya memecah keheningan antara mereka berdua.
Arga tampak masih menikmati kopi yang dibuatkan oleh Vanya untuk dirinya itu. Takaran yang pas membuat rasa kopi tersebut sangat nikmat di mulutnya. Tampak senyum tipis saat pertama kali Arga mencicipi kopi buatannya.
''Hm, no problem.'' sahut Arga. Keduanya kembali diam. Tak tahu apa yang harus keduanya bicarakan saat ini. Vanya pun diam sambil menggerakkan jari telunjuknya melingkari pinggiran cangkir kopi miliknya. Namun gerakan tangan Vanya berhenti ketika mendengar ucapan dari Arga.
''Aku masih tidak habis pikir. Kenapa ada laki-laki yang tega memukuli seorang wanita, terlebih lagi wanita itu kekasihnya sendiri.'' ucap Arga tiba-tiba. Setelah ia menahannya sejak tadi, kini akhirnya ia bisa mengutarakan isi pikirannya. Namun Arga tidak menyadari jika ucapannya itu bisa membuat luka di hati Vanya.
deg
Detak jantung Vanya terdengar lebih kencang saat mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Arga. Ia tahu maksud dari ucapan laki-laki itu yang tak lain adalah ditujukan kepada dirinya.
__ADS_1
'Secepat itukah dia tahu? apakah dia tahu hubunganku dengan Marcell seperti apa selama ini?' batin Vanya yang bertanya pada dirinya sendiri.
''A-apa maksud mu, Arga?'' tanya Vanya seolah-olah ia tak tahu maksud dari ucapan Arga. Arga hanya tersenyum tipis mendengarnya.
''Kamu tahu jelas apa maksud ku, Vanya.'' balas Arga sambil menatap lekat kedua mata Vanya. Mendapat tatapan itu, membuat Vanya menundukkan kepalanya. Ia tak tahu harus bicara apalagi. Yang mengetahui perlakuan kasar Marcell padanya selama ini adalah Renata. Ia tahu pasti karena Renata dan dirinya lebih banyak menghabiskan waktu bersama. Sedangkan Annisa tidak. Dia sibuk dengan pekerjaannya sebagai pemilik dari beberapa cafe. Ia hanya ingin menyimpan semua itu untuk dirinya sendiri.
''Kenapa masih bertahan? Apa kamu mau selamanya akan mendapatkan perlakuan seperti ini?' Seperti tidak ada laki-laki lain saja.' tanya Arga pada Vanya. Vanya semakin dibuat risih karena merasa Arga mulai mengomentari kehidupannya. Vanya menghela napas panjangnya sebelum ia menjawab pertanyaan itu. Memang sejak dulu Vanya membatasi pergaulannya. Bahkan ia cenderung introvert. Hanya Renata dan Annisa yang menjadi sahabatnya.
''I have no choice, Arga. Aku tak bisa menceritakan semuanya kepadamu karena kita tidak sedekat itu. Dan kau pun tak tahu apa yang telah aku lalui selama ini. Dan aku mohon jangan mencampuri urusanku lagi, oke?'' ucap Vanya sambil menatap ke arah Arga yang saat ini juga tengah melihat kearahnya. Arga hanya diam mendengar penuturan Vanya. Ia bisa melihat dari tatapan mata Vanya yang memperlihatkan ketidaksukaan akibat dari perkataannya.
''Aku sangat berterimakasih hari ini padamu. Atas bantuan serta makan malam ini. Mungkin sebagai gantinya, aku juga akan mentraktir mu lain kali. But I beg you. Can you keep your distance from me? I don't want to make my boyfriend have negative thoughts about us. (Tapi aku mohon. Bisakah kau menjaga jarak denganku? aku tak mau membuat kekasihku mempunyai pikiran negatif tentang kita.)'' ucap Vanya mencoba meminta Arga supaya tidak lagi mendekati dirinya.
Sedangkan Arga seketika terdiam mendengar ucapan Vanya. Ia kembali berpikir sejenak, mencerna maksud dari perkataan Vanya kepadanya.
__ADS_1
'Mungkinkah karena aku mengajaknya ngobrol tadi siang, yang membuat laki-laki itu memukuli Vanya hingga seperti ini?Tapi siapa yang melaporkannya kepada laki-laki itu? Breng...sek! Sepertinya ada yang tidak suka dengan kedekatanku dan Vanya. Aku harus mencari tahu tentang hal ini,' batin Arga yang mulai bisa menarik kesimpulan dengan ucapan dari Vanya. Kedua tangannya tampak mengepal dibawah meja itu.
''Tidak usah. Aku melakukannya dengan suka rela. Aku juga minta maaf jika perlakuanku padamu malah membuatmu menjadi seperti ini. Aku hanya berpikir karena kamu adalah sahabat Annisa. Sedangkan Annisa itu adalah istri dari sahabat ku sendiri. Makanya aku berani mendekatimu. I am so sorry, Vanya.'' ucap Arga yang mengalah untuk saat ini. Ia tak mau mengambil langkah tergesa yang nantinya justru membuatnya jauh dari Vanya.
'Entah kenapa ku takbisa menghilangkan bayangmu dari pikiranku, Vanya. Kamu juga satu-satunya wanita yang dingin saat berhadapan denganku. Sepertinya aku tertarik dengan mu,' batin Arga.
''Maaf. Aku hanya tidak mau menambah rumit hidupku, Arga. Aku harap kamu mau mengerti akan hal itu,'' ucap Vanya yang meminta pengertian Arga padanya. Arga hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah mengatakan hal itu, Vanya tampak melihat ke arah jam tangannya. Hari semakin malam, tak terasa saat ini sudah hampir pukul sepuluh malam. Vanya tak mau berada di sana lebih lama lagi. Tepatnya, ia tidak mau berdekatan dengan laki-laki lain yang bukan pasangannya.
''Em, sepertinya sudah terlalu malam. Aku akan pulang sekarang,'' ucap Vanya sambil beranjak dari duduknya dan diikuti oleh Arga.
Arga hanya bisa menatap punggung Vanya yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang di balik pintu besar apartemennya.
__ADS_1
'Aku tak kan menyerah, Vanya.'
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...