
"What the Fu..ck" umpat laki-laki yang bernama Arga. Ia sangat kesal dengan sahabatnya yang saat ini tengah mengganggu tidurnya. Padahal dirinya baru tidur saat waktu menunjukkan pukul empat dini hari dikarenakan tadi malam ia harus pergi ke club'nya itu. Terjadi suatu insiden disana , sehingga membuat nya harus turun tangan dan berurusan dengan aparat yang berwenang.
"*Ayolah buka pintunya,"
Ting tong
Ting tong*
Arga dibuat sangat marah karena sahabatnya. Karena sahabatnya itu tidak hanya mengganggu dirinya lewat telepon, tapi juga lewat bel apartemen miliknya. Memang ia sudah menunggu di depan apartemen nya sejak beberapa menit yang lalu.
"sh...it"
Dengan malas, ia mau tak mau beranjak dari tempat tidur nya dan melangkahkan kakinya keluar kamar menuju pintu apartemennya.
ceklek
Setelah membuka pintu itu, lantas ia meninggalkan temannya itu disana.
"Arga? Loe baru bangun? Lihat sekarang jam berapa, huh?" tanya temannya sambil berjalan memasuki apartemen Arga. Alvin nggak habis pikir dengan Arga. Tak biasanya ia bangun sampai jam sepuluh.
"Berisik loe, Vin. Emangnya loe nggak ada kerjaan apa, gangguin orang tidur saja," gerutu Arga sambil ia kembali merebahkan tubuhnya di sofa besar miliknya. Ia menelungkup kan tubuhnya disana.
Alvin yang melihat tingkah Arga hanya bisa geleng-geleng kepala. Tanpa menghiraukan ucapan Arga, ia melangkahkan kakinya menuju dapur laki-laki itu. Setelah ia mengambil sebotol minuman dari dalam kulkas, ia kembali menghampiri sahabatnya di sofa dan duduk disampingnya.
__ADS_1
"Loe udah tahu belum ? Kalo musuh loe datang kesini?" tanya Alvin.
"Musuh gue? Emang siapa musuh gue?" tanya Arga sambil masih memejamkan matanya.
"The one and only, Jonathan Mattew." ucap Alvin seraya menenggak minuman ditangannya.
Mendengar nama itu, seketika membuat Arga membuka matanya. Tanpa ia sadari kedua tangannya terkepal kala ingat dengan pemilik nama tersebut.
Nama yang telah lama tak pernah ia dengar lagi. Sosok laki-laki yang sangat ia benci di masa lalu. Orang yang tak pernah ia inginkan untuk bertemu kembali.
kini, saat ia mendengar lagi nama itu, membuatnya kembali teringat tentang peristiwa beberapa tahun silam. Peristiwa yang terjadi disaat mereka semua masih mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan. Disaat ia merasakan yang namanya cinta , ia memberikannya dengan segenap hati dan perasaan nya, namun disaat itu pula ia diajarkan bagaimana rasa sakit yang teramat sangat ketika ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa kekasih ia cintai selama ini tengah beradu peluh dengan laki-laki lain di apartemen miliknya. Dan sialnya laki-laki itu merupakan rivalnya sendiri.
"Sh ...it"
Arga pun menghela napasnya, mencoba menarik napas panjang dan membuangnya beberapa kali guna menenangkan perasaannya. Ia tak mau lagi mengingat-ingat kembali kenangan itu. Biarlah terkubur dengan sendirinya.
"Ngapain bede...bah itu datang kemari? Sudah bosan hidup?" tanya Arga ketus.
Melihat reaksi sahabatnya, Alvin pun hanya bisa diam. Dirinya tahu jelas apa yang terjadi di masa lalu. Itu dikarenakan memang dirinya, David, dan Arga berkuliah di universitas yang sama, yaitu di universitas Cambridge. Sedangkan Daniel memilih tetap kuliah di Indonesia dikarenakan kekasihnya - Anisa yang juga satu kampus dengannya.
"Tenang dulu. Dia mau ngadain birthday party nya disini. Tepatnya di daerah pesisir pantai Utara. Dan acaranya nanti malam." ucap Alvin menjelaskan.
"Dan kita bertiga mendapatkan undangan darinya, apalagi elo. Ia sangat berharap loe bisa dateng kesana," imbuhnya.
__ADS_1
Perlahan Arga beranjak dari tidurnya dan duduk bersandar di sana sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Tak lupa ia menatap tajam ke arah Alvin.
"Ada apa ?" tanya Alvin yang merasa tatapan Arga mengisyaratkan sesuatu padanya. Ia sampai gugup mendapatkan tatapan elang dari Arga.
"Bagaimana loe bisa tahu kalau si Jo mau ngadain birthday party disini? Loe masih punya kontak mereka ?" tanya Arga menyelidik. Ia yakin bahwa sahabatnya - Alvin masih berhubungan dengan mereka yang pernah satu angkatan dengannya.
"Loe jangan asal tuduh dulu," sanggah Alvin sambil merogoh sesuatu dari saku jasnya yang ada di bagian dalam.
"Nih, punya loe." ucap Alvin sambil meletakkan sebuah kertas berlipat berwarna hitam dengan sentuhan warna emas di beberapa bagiannya.
Cih,
Arga hanya mendengus melihat sebuah undangan yang kini berada di hadapannya itu.
"Satu lagi. Loe pasti akan kaget dengan satu fakta yang akan gue kasih tahu ke loe tentang dia," ucap Alvin sambil menyeringai.
Arga mengeryitkan dahinya mendengar ucapan tersebut.
"Fakta apaan? tanya Arga.
"Ternyata si bang...sat itu ..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1