
Halo,"
"Kamu dimana? Kenapa sampai sekarang belum kembali?" Cerocor Leon di seberang sana. Ella seketika meneguk ludah kasarnya mendengar suara sang Kakak yang terdengar khawatir padanya.
"Maaf, Kak. Sepertinya Ella tak bisa pulang bareng Kakak. Aku sekarang bersama Arga. Kamu bertemu di pesta tadi," ucap Ella jujur. Ia tak ingin berbohong kepada Kakaknya saat ini. Karena ia tahu kakaknya pasti bakal mengetahui segala sesuatu yang terjadi padanya.
"Arga? Arga siapa? Jangan bilang Arga yang katamu kekasihmu itu?" Wajak cantik Ella seketika merona mendengar ucapan dari sang kakak. Apalagi saat ini panggilan itu dalam kondisi di loud speaker, jadi Arga yang duduk disampingnya bisa mendengar jelas. Kedua sudut bibirnya tampak terangkat mendengarnya.
"Iya, Kak." Jawab Ella. Ella bisa mendengar helaan napas dari kakaknya - Leon. Membuat Ella merasa bersalah.
"Jaga dirimu, Sayang. Datanglah ke apartemen kakak besok. Bawa serta dia," ucap Leon yang seketika membuat kedua mata Ella kembali memanas. Ia tahu jika kakaknya pasti akan melakukan apapun demi kebahagiaannya. Apalagi kebahagiaan Ella terletak pada Arga. Leon pun tak bisa menghalanginya. Ia hanya bisa berdoa yang terbaik untuk adiknya tercinta.
"Hm, thank's, Kak." Sahut Ella dengan sungguh-sungguh. Ia sangat bersyukur mempunyai Kakak sebaik dan juga sehangat Leon. Memiliki keluarga yang lengkap dan saling menyayangi satu sama lain merupakan impian terbesar dalam hidup Ella selain juga kebahagiaan dalam kehidupan asmaranya.
"Baiklah, jaga dirimu, baby. Katakan padanya, jika dia berani menyakitimu barang sekecil pun, aku tak akan segan-segan menghancurkan segala yang ia miliki," ucap Leon seraya memberikan ultimatum kepada Arga. Arga yang mendengarnya seketika tersenyum tipis sambil menganggukkan kepala.
"Kakak ipar tenang saja. Vanya adalah duniaku. Tak mungkin aku mengangkat tanganku untuk menyakitinya. Aku hanya akan mengangkat tanganku jika ada orang yang berusaha memisahkan kita," Arga dengan tegas mengatakan itu pada Leon.
Leon terdengar berdehem di seberang sana. Mungkin ia tak tahu jika panggilannya justru di loud speaker oleh Ella hingga membuat Arga bisa mendengar semua percakapan nya dengan Ella.
"Ehem, kalau begitu Kakak matikan teleponnya," setelah mengatakan itu, Leon pun memutuskan panggilan tersebut.
Arga yang merasa sudah mendapatkan lampu hijau dari sang ipar, segera menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu. Dalam perjalanannya, Leon tampak santai sambil tangan kanannya berada di jendela dan menopang kepalanya. Ia tampak santai mengemudikan mobil mewahnya itu.
Vanya yang duduk disampingnya hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, karena merasa kini ia sedikit gugup dengan sang kekasih tercinta.
__ADS_1
Kekasih? Bukankah keduanya kini sepasang kekasih? Seketika wajah cantik Vanya merona jika membayangkan jika ia dan Arga kembali bersama. Bayangan kenangan keduanya lima tahun lalu tiba-tiba muncul di benak Vanya.
Mobil yang ditumpangi oleh keduanya kini berhenti di lampu merah. Arga menoleh ke arah Vanya. Ia tampak mengerutkan keningnya saat melihat ekspresi wajah sang kekasih. Wajah cantik Vanya kini terlihat sangat merah bagaikan buah tomat.
"Are you okay, baby? Kenapa wajahmu sangat merah?" Tanya Arga yang penasaran. Sambil menunggu jawaban dari Vanya, ia membuka google map dan mencari sebuah hotel yang ada di sekitar sana.
"Ti-tidak apa-apa," jawab Vanya dengan rasa gugup yang kian melanda. Apalagi melihat Arga yang tengah mencari sebuah hotel untuk dirinya dan juga Arga.
Kenangan-kenangan manis dan juga panas mereka dulu kian menari-nari di otak kecil Vanya. Ia sampai beberapa kali menghembuskan napasnya untuk bisa mengatur debat jantungnya yang kini tak menentu.
Arga hanya bisa mengangguk tipis mendengar jawaban dari Vanya. Dalam hati ia yakin jika wanita itu tengah kepikiran sesuatu. Tapi apa? Mungkinkah dia sakit? Berbagai macam spekulasi bermunculan di benak Arga.
"O, iya. Kamu tadi ke acara pesta sama siapa, Hon? Tanya Vanya yang seketika membuat Arga tersadar sampai ia menghentikan laju mobilnya secara mendadak.
"Astaga. Aku lupa," ucap Arga tiba-tiba. Lalu ia langsung merogoh saku jasnya untuk mengambil ponselnya. Vanya masih setia melihat semua gerak gerik Arga.
Arga seketika tersentak saat melihat banyaknya pesan dan juga Panggilan tak terjawab dari Angel. Arga benar-benar lupa jika ia meninggalkan Angel di acara tersebut. Vanya tampak penasaran dengan Arga, sampai-sampai menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Siapa?" Tanya Vanya lagi saat mendengar ponsel Arga bergetar di tangannya. Arga langsung memperlihatkan ponselnya pada Vanya.
"Angel?" Dahi Vanya seketika berkerut saat melihat nama Angel di papan panggilan tersebut. 'Siapa Angel?Mungkinkah pacar baru Arga?' Vanya tampak berpikir keras dengan nama itu.
Arga tahu jika Vanya saat ini tengah mencurigainya. Kemudian ia pun langsung mengangkat panggilan tersebut dan menloadspekernya agar Vanya bisa mendengarnya.
"Ha..." Belom sempat Arga menyelesaikan sapaan itu terdengar suara bentakan dari seberang sana hingga membuat Arga menjauhkan ponsel itu dari dirinya.
__ADS_1
"KAK ARGA! KAK ARGA DIMANA? DI HUBUNGI DARI TADI GAK BISA-BISA. KATANYA KE TOILET? AKU CARIIN GAK ADA," cerocos seorang wanita diseberang sana. Vanya seketika membulat saat menyadari siapa pemilik dari suara yang begitu familiar itu.
"Angel Richard?" Tanya Vanya. Arga tampak tersenyum tipis sambil menganggukkan kepala. Vanya pun hanya bisa ber-oh ria mendengarnya.
"Sorry, Ngel. Kakak ada urusan. Kamu bisa pulang sendiri, kan?" Tanya Arga yang sebenarnya tak enak dengan Angel. Pasalnya saat ini mobil yang dikendarainya itu merupakan mobil milik Angel. Ia menumpang padanya.
"Dasar, Kakak gak punya akhlak. Kenapa gak bilang dari tadi? Tahu gitu aku tadi nebeng sama temanku," gerutu Angel yang masih kesal dengan Arga. Siapa gak kesal? Sudah numpang, mobil dibawa kabur pula. Lengkap sudah penderitaan Angel malam ini.
"Hehe, tapi masih ada temanmu yang lain kan di sana?" Tanya Arga. Vanya masih tampak menyimak pembicaraan keduanya.
"Gak tahu, Kak. Tenang saja, aku bisa pulang sendiri kok." sahut Angel dengan suara santainya. Arga tampak menghela napas leganya karena tak membuat Angel kesusahan akibat ulahnya. Tapi sedetik kemudian ia tersadar akan sesuatu.
"Ingat. Jangan minum terlalu banyak, Ngel. Kakak gak mau jika kamu nanti bikin masalah," ucap Arga memperingati Angel.
"Siap, Bos."setelah mengatakan itu, panggilan itu diputus sepihak oleh Angel. Arga pun kembali memfokuskan pandangannya pada jalanan yang ada di depannya. Perlahan ia menyalakan mobilnya dan menjalankannya.
"Jadi, kamu kesana sama Angel?" Tanya Vanya. Tampak Arga menganggukkan kepalanya. Vanya pun ikut mengangguk. Ia pun kembali menikmati indahnya malam kota Rennes itu dengan melihat keluar jendela mobil. Arga yang duduk mengemudi di sampingnya hanya bisa tersenyum tipis. Ia seakan masih tak percaya jika kini ia bisa bertemu dan bersama dengan Vanya lagi. Saat ia tengah bergembira, kemudian ingatannya kembali pada sosok laki-laki yang beberapa saat lalu mendatanginya dan Vanya. Kemudian Arga pun menoleh sekilas pada sang kekasih.
"Kamu masih berhutang penjelasan padaku, baby." Ucap Arga yang seketika membuat Vanya mengernyitkan dahi. Meski sambil mengemudi tapi tatapan mata Arga sangat tajam pada Vanya saat menoleh sekilas padanya.
"Penjelasan apa, Hon?" Tanya Vanya.
"Edward,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1