
Tatapan tajam dari seorang laki-laki sekelas Arga jelas bisa membuat lawan bicaranya menciut nyalinya. Namun itu tak berlaku untuk Jonathan, karena ia tahu sifat dan wataknya. Ia semakin merasa di atas angin karena ia bisa memancing amarah Arga.
Senyum seringainya tercipta kala Arga berhenti tepat di depan wajah angkuh Jonathan. Dengan sedikit mencondongkan wajahnya, Arga pun berkata, "Asal loe tahu, GUE UDAH NGGAK ADA RASA SECUILPUN PADA WANITAMU. KARENA HATI GUE SUDAH ADA YANG MEMILIKI. TERSERAH LOE MAU PERCAYA ATAU TIDAK , YANG JELAS GUE BAHKAN JIJIK MELIHAT WAJAH KALIAN BERDUA,''
Setelah mengatakan itu, ia mundur beberapa langkah. Ia berdiri tepat di samping sahabatnya - Alvin.
'Segitu bencinya kamu padaku, Ar?' batin Rebecca yang merasa tersakiti akibat ucapan dari Arga. Hatinya sakit, melihat tatapan benci yang terpancar dari mata mantan kekasihnya itu.
"Ayo kita pulang, gue udah selesai sama mereka,'' ucap Arga sambil menatap tajam kearah Jonathan dan Rebecca.
Setelah mengatakan itu, Arga dan Alvin berjalan meninggalkan tempat acara. Walau di sekitar mereka terdengar bisik-bisik namun keduanya tak menghiraukannya.
'Breng...sek,' umpat Jonathan dalam hati. Entah mengapa, walau ia bisa merebut Rebecca dari genggaman Arga, tapi ia masih merasa kalah dari Arga.
Namun, saat keduanya hampir sampai pada pintu villa, mereka berpapasan dengan Vanya yang tadinya habis dari toilet. Mereka tak tegur sapa, namun tatapan mata Arga mengarah pada Vanya. Tatapan yang sulit untuk diartikan bagi Vanya.
'Kenapa dia menatapku seperti itu ya?' tanya Vanya dalam hati.
Tak mau ambil pusing, ia pun kembali berjalan menuju ke arah meja dimana Marcell berada.
Namun, saat dirinya kembali ia tak mendapati Marcell di tempatnya. Ia mengeryitkan dahinya, kemana laki-laki itu pergi? Padahal ia tadi masih melihat Marcell disana.
"Em, maaf, kamu lihat Marcell nggak?'' tanya Vanya pada salah satu orang wanita yang memang sejak tadi menempati sebelah mejanya.
"Sepertinya tadi aku melihatnya pergi ke arah sana," ucap seorang wanita sambil mengarah ke arah tangga villa tersebut.
deg
'Lagi? Dengan siapa lagi?' batin Vanya kembali tersakiti.
__ADS_1
Seketika sesak kembali ia rasakan kala mendengar ucapan dari orang tersebut.
Dengan langkah ragu dan jantungnya berdetak lebih kencang, Vanya melangkahkan kakinya menaiki tangga villa tersebut.
Semakin jauh ia melangkah, semakin samar suara musik lantai bawah terdengar. Telapak tangan Vanya terasa berkeringat selama ia berjalan. Sesampainya ia di ujung tangga, ia melihat banyaknya ruangan yang berjejer rapi di samping kanan dan kirinya saat ia sudah sampai di lantai dua.
Vanya mencoba melangkahkan kakinya ke arah kiri. Selangkah demi selangkah ia berjalan melewati setiap pintu kamar yang ada di sana. Namun sampai di ujung lorong tersebut ia tak menemukan apapun.
Karena ia merasa memang tak ada apa-apa, ia berbalik arah. Ia terus melangkah hingga berhenti kembali tepat di depan tangga villa tersebut.
*deg
deg
deg*
Saat dirinya melangkah sampai tengah-tengah lorong, ia mendengar suara-suara laknat di telinganya.
*Akh
Akh
Akh
deg*
Seketika Vanya kembali mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Raut wajahnya memerah menahan segala emosi yang ada dalam dirinya. Ia berhenti sejenak guna mengatur napasnya yang kini memburu.
Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat sebuah pintu yang berjarak dari tempatnya berdiri terlihat sedikit terbuka. Ia yakin bahwa suara-suara yang terus menerus terdengar nyaring ditelinga nya itu berasal dari sana.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti ia melangkahkan kakinya mendekati pintu bercat putih tersebut.
*fas...ter, ouch .... yeah .... fas...ter....
Fu....ck .... you so hot.... akh ....
Akh .... Akh ....
Dorong lebih ke...ras lagi.... akh ....
Sh....it .... terima ini .... huh .... huh ....
Ouch .... yes .... ouch .... yes baby* ....
Era...Ngan demi era...Ngan bersahutan dari dalam kamar tersebut. Vanya semakin geram kala mendengar suara laki-laki yang sangat familiar di telinga nya itu.
'Baji...ngan,' umpat Vanya.
Ia masih berdiri di depan pintu kamar tersebut. Tanpa terasa sebutir air menetes di pipi mulusnya. Walau ia sudah mengalaminya berkali-kali, bahkan mengukir rasa cintanya yang saat ini sudah habis tak bersisa, namun nyatanya ia masih merasakan sakit yang teramat sangat dihatinya. Bagaikan tertusuk sebilah pedang berkali-kali hingga hancur berantakan seluruh hati dan perasaan nya.
*Akh .... Aku .... ma-mau ....
Together baby* ....
Vanya yang mendengar kala keduanya hampir mencapai puncaknya, dengan amarahnya ia membuka pintu kamar tersebut dengan sangat cepat dan kerasnya.
*BRAK
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...
__ADS_1