
Arga membabi buta memukuli Marcell hingga membuat laki-laki itu berlumuran darah di sekujur tubuhnya.
bruk
tubuh Marcell terjatuh seketika di lantai. Salah satu matanya kini sudah tak bisa lagi untuk melihat. Sekedar untuk menegakkan tubuhnya saja ia tak mampu. Kali ini Arga benar-benar melampiaskan segala emosi nya. Apalagi mengingat semua penderitaan yang dialami oleh wanita yang dicintainya itu.
Arga kembali mendekati tubuh Marcell dan berjongkok di samping tubuh lemah itu. Tatapan mata Arga pada Marcell masih tajam seakan ingin menguliti tubuhnya.
''Asal kau tahu, bajingan. Aku tak mengerti apa yang kau maksudkan saat ini. Tapi mendengar ucapan mu aku bisa menebak jika ada orang lain yang berhasil membawa pergi Vanya dari rumahmu itu.'' ucap Arga dengan nada dinginnya. Ia bersyukur Vanya telah pergi dari sana. Tapi kini ia jadi penasaran, siapa yang telah membantu Vanya keluar dari sana sedangkan wanita itu tak memiliki akses untuk komunikasi dengan luar.
'Siapa yang telah membantunya keluar dari sana? Apakah Renata? Dia kan sahabat Vanya. Aku harus menyelidikinya.' batin Arga.
Setelah itu Arga menghempaskan tubuh lemah Marcell disana. Tak mau menunggu lebih lama lagi, Arga beranjak dari sana.
''Lemparkan tubuh laki-laki ini di halaman rumah sakit.'' ucap Arga pada salah satu penjaga yang ada di sana.
''Ba-baik, Tuan.'' sahut penjaga tersebut. Lalu penjaga itu meminta bantuan pada rekan kerjanya untuk mengangkat tubuh Marcell dan membawanya pergi dari sana.
Sedangkan Arga kini bergegas menuju mobilnya kembali. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
tutt
Sambungan telepon itu belum juga terjawab dari seberang sana hingga Arga sudah berada di dalam mobil pun masih belum juga tersambung. Ingin rasanya Arga mengumpat orang di sana tapi ia berusaha sekuat tenaga untuk tak meluapkan amarahnya saat ini.
tutt
Kembali Arga mencoba menghubungi nomor itu hingga beberapa saat kemudian terdengar suara seorang laki-laki di seberang sana.
"Halo?" suara seorang laki-laki yang terdengar ketus di telinga Arga. Arga tahu jika saat ini laki-laki itu tengah sibuk, tapi Arga tak menghiraukannya. Ia tidak akan menyerah sebelum ia bisa bertemu dengan laki-laki itu.
"Dimana kau?" tanya Arga to the point'.
"Di kantor lah. Dimana lagi," jawab laki-laki itu dengan nada tak bersahabat nya.
"Aku akan segera kesana." sahut Arga. Setelah mengatakan itu Arga memutus panggilan tersebut dengan sepihak. Ia segera menyalakan mesin mobilnya dan bergegas meninggalkan area kantornya.
__ADS_1
Terlihat Arga kembali mencari sebuah kontak di sana. Setelah ketemu, Arga langsung menghubunginya.
"Ya, Tuan?" suara Dinda terdengar di telinga Arga.
"Handel semua pekerjaan hari ini. Aku tidak akan kembali lagi ke kantor." ucap Arga kepada asistennya tersebut.
"Baik, Tuan." sahut Dinda di seberang sana. Setelah mendengar jawaban dari Dinda, Arga mengakhiri panggilan tersebut.
Kini ia sudah bisa fokus pada tujuannya saat ini yang tak lain adalah mencari keberadaan Vanya.
ckitt
Setelah mengendarai mobil selama kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya mobil Arga telah sampai di pelataran sebuah perusahaan besar di bidang penerbangan.
Karena Arga sudah sering datang kemari, membuat seluruh karyawan yang bekerja disana hafal dan menghormatinya. Arga pun juga memiliki akses untuk langsung pergi menuju ruangan temannya yang ada di lantai teratas tanpa perlu harus menunggu maupun lapor pada para resepsionis yang bekerja di sana.
Ting
Setelah menunggu beberapa saat, ruang sempit itu akhirnya terbuka. Arga segera masuk ke sana dan memencet tombol lantai dimana ruangan temannya berada. Karena menggunakan lift khusus, membuat laki-laki itu sendirian di dalam sana tampak harus berdesakan dengan orang lain.
Ting
"Selamat pagi, Tuan. Anda sudah ditunggu di dalam," ucap laki-laki bernama Risky itu.
"Hm," sahut Arga.
"Mari, Tuan." Risky mempersilakan tamu Bos-nya itu menuju ke ruangannya.
*tok
tok
tok
"Masuk*," mendengar suara sahutan dari dalam, membuat Risky berani membuka pintu besar tersebut.
__ADS_1
"Silakan masuk, Tuan." ucap Risky seraya memberi jalan untu Arga agar bisa berjalan masuk ke dalam ruangan itu. Arga tampak menganggukkan kepala lalu berjalan masuk ke dalam ruangan itu.
*tap
tap
tap*
Arga bisa melihat sahabatnya itu tengah berada di singgasananya. Sambil mengenakan kacamata, laki-laki itu tampak serius bekerja.
"Ada apa?" tanyanya tanpa menoleh ke arah Arga. Arga hanya menghela napas panjangnya kemudian berjalan menuju sofa yang ada di sana.
"Sepertinya aku butuh bantuanmu, dude." jawab Arga seraya duduk disana. David nampak menghentikan aktivitas nya lalu menatap ke arah Arga. Mau tak mau laki-laki itu melepaskan kacamata nya dan menghampiri sahabatnya itu.
''Tuh muka kenapa?'' tanya David saat melihat sudut bibir kiri Arga tampak membiru. Kemudian pandangan David beralih pada tangan kanan Arga yang juga sama.
''Lo habis mukulin orang?'' tanya David. Arga lagi-lagi menghela napas kemudian terlihat laki-laki itu menganggukkan kepalanya.
''Yah. Aku baru saja menghajar laki-laki brengsek itu yang tengah menggila di depan kantor gue,'' jawab santai Arga. Namun meskipun ucapan itu terdengar santai, tapi sarat dengan makna yang mendalam di sana.
''What's wrong?'' tanya David. Ia tahu jika Arga sudah sampai turun tangan, itu berarti masalah yang dihadapinya tak sesederhana itu.
''Vanya hilang.'' singkat Arga. pikirannya kini sudah terpenuhi hanya dengan satu nama, yakni Vanya. Ia tak mampu lagi berpikir jernih saat ini. Apalagi sudah beberapa hari ini ia tak bertemu langsung dengan pujaan hatinya tersebut.
''Hilang? Kok bisa? Bukannya kata loe dia ada di rumahnya si cecunguk itu?'' tanya David yang masih belum mengerti dengan masalah yang kini dialami oleh Arga.
''Ya, memang Vanya selama seminggu ini berada di sana. Tapi tadi laki-laki itu tiba-tiba datang ke kantor gue dan berteriak-teriak seperti orang gila menuduh gue yang udah nyulik Vanya dan menyembunyikannya,'' jawab Arga seraya memijit pelipisnya. David yang mendengar ucapan tersebut seketika mengeryitkan dahinya.
''Tuh orang sinting apa ya? Tapi jika memang Vanya diculik dari sana, siapa yang sudah melakukan itu? Berarti pada saat itu si Marcell gak ada di rumah dong, sampai-sampai kecolongan.'' ucap David. Arga yang mendengar pendapat dari sahabatnya itu seketika tersentak.
''Bener juga. Gue harus selidiki itu,'' sahut Arga seraya mengambil ponselnya. Ia mencari sebuah kontak yang ada di dalam sana. Setelah menemukannya, Arga segera menghubungi nomor tersebut.
''Selidiki penculikan yang terjadi di rumah Marcell. Sekarang juga,''
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1