Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 129 Je t'aime


__ADS_3

Seminggu kemudian


Setelah pertemuan Arga dan kedua orang tua Vanya, akhirnya kini tiba saatnya Arga membawa sang Papa untuk menemaninya mendatangi kediaman Vanya yang berada di kota Paris. Kedatangan keduanya kesana tak lain adalah untuk melamar Nona muda Nerotouw. Selain Arga dan Arya yang merupakan Papanya, terdapat para sahabat dari Arga yang ikut.


"Aku tak menyangka jika Vanya merupakan putri Tuan Nerotouw yang menghilang puluhan tahun lalu," ucap Alex saat mobilnya memasuki pekarangan rumah Vanya. Ia bersama dengan Istrinya - Valerie dan juga Angela serta Olivia. Keempat orang itu memang ikut kesana atas kemauan sang ibu hamil yang tak lain adalah Valerie. Wanita cantik itu saat ini tengah hamil anak ketiga mereka. Terlihat Valerie menganggukkan kepalanya saat mendengar ucapan sang suami.


"Iya, aku juga. Apa pernikahan mereka nantinya diadakan di sini?" Tanya Angel penasaran. Pasalnya mereka tahu jika kisah cinta Arga dan Vanya dimulai di Indonesia. Itulah sebabnya membuat Angel ingin tahu.


"Entahlah. Bisa disini dan di Indonesia. Kita akan tahu nanti di dalam," ucap Alex. Ia pun segera mematikan mesin mobilnya setelah sudah memarkirkan mobilnya. Keempat sahabat itu segera turun dari mobil saat melihat pengguna mobil depannya sudah turun terlebih dahulu.


Rombongan dari Arga pun berjalan menuju pintu masuk utama. Di sana sudah berdiri kedua orang tua dari Vanya beserta Vanya dan juga Leon. Setelah saling sapa dan berbadan basi, mereka pun masuk ke dalam rumah megah itu.

__ADS_1


"Maksud kedatangan kami kesini adalah untuk meminang putri anda yang bernama Avriella Christofera Nerotouw untuk menjadi istri dari anak saya Arga Wijaya. Untuk bagaimana jelasnya, biarkan putra saya yang menjelaskan kepada anda," ucap Arya mengutarakan maksud kedatangan mereka. Kedua orang tua Vanya hanya bisa mengangguk. Sedangkan Vanya yang duduk di samping mommy-nya hanya bisa menundukkan kepala dengan senyuman yang terukir di wajah cantik nya. Kedua pipinya terasa panas saat mendengar kata pinangan tersebut.


"Tuan dan Nyonya Nerotouw, ijinkan saya untuk menjadikan Vanya sebagai istri saya. Saya berjanji dengan segenap hati dan perasaan saya akan mencintai putri kalian dan menjadikannya sebagai wanita yang paling bahagia di dunia ini. Dan aku akan menjadi perisai untuk Vanya dan melindunginya dengan nyawaku." Terlihat wajah Chris dan Avril tampak puas mendengar ucapan dari Arga. Chris juga sudah mengetahui bagaimana kisah cinta keduanya dari Leon. Oleh karena itu, ia bisa melepas Ella dengan senyuman karena sudah berada di tangan yang tepat.


"Sebagai Daddy-nya, saya hanya ingin mewujudkan kebahagiaan Ella yang jika memang kebahagiaan nya hanya terletak padamu. Namun jika kelak kau sudah tak lagi mencintainya, jangan sekali-kali kau berani mengangkat tanganmu padanya. Cukup kembalikan dia pada kami, kami pasti akan menerimanya kembali dengan tangan terbuka, karena memang selama ini kami belum bisa bertemu dan membahagiakannya lebih dulu. Dia adalah malaikat kecil kami satu-satunya dan akan tetap seperti itu sampai kapanpun. Meski nantinya jika dia sudah menjadi istrimu, Dimata kami masih lah sama. Sayangi dan cintailah dia sebagaimana cinta kami padanya. Hanya itu permintaan kami sebagai orang tua. Tapi sebelum semua itu terealisasi, biarkan Ella sendiri yang akan menjawab dari pinangan Anda. Ayo, Ell." Vanya sudah berlinangan air mata kala mendengar semua ucapan tulus yang terucap dari mulut Daddy-nya itu. Kedua tangannya yang berada di atas pahanya sudah berkeringat dingin. Avril yang mengetahui kegugupan sang putri kecilnya seketika memberikan elusan pada punggung tangan itu.


"Bicaralah, Sayang. Keluarkan segala uneg-uneg yang ada di dalam hatimu, kemudian jawablah pinangan dari laki-laki itu. Semua keputusan ada di tanganmu," dengan lembut Avril berkata pada Vanya. Vanya mengangkat wajahnya dan menatap kepada mommy-nya. Avril pun juga terlihat berkaca-kaca sepertinya. Avril mengusap air mata Vanya yang sudah mengalir deras di kedua pipinya.


"Pertama-tama, aku ucapkan kepada kedua orang tua dan kakak ku yang sangat menyayangiku. Sebelum aku bertemu dengan mereka, aku selalu berpikir sejak dulu. Dari mana aku berasal? Siapakah orang tua ku? Kenapa mereka tega membuang ku? Apakah kehadiran ku tak diinginkan? Mengapa yang lain punya orang tua sedangkan aku tumbuh di panti asuhan? Berbagai pertanyaan seperti itu muncul di dalam benakku. Namun kadang aku juga mendengar tak sedikit ada orang tua yang tega menyakiti dan menyiksa anak mereka. Bahkan terhadap anak kandung sekalipun. Karena hal itu, kadang membuatku bersyukur karena berada di tengah-tengah orang baik di dalam panti." Ini kali pertama Vanya mengeluarkan isi hatinya. Avril yang tak kuat mendengarnya hanya bisa menyembunyikan wajahnya di dekapan sang suami.


Seluruh orang yang hadir di sana larut dalam kesedihan terhadap apa yang telah menimpa Vanya dulu. Bagitu pula dengan Leon. Ia merasa menjadi kakak yang tak berguna karena tak mampu menemukan Ella lebih dulu hingga membuat adiknya itu hidup dalam kesusahan sedangkan dirinya hidup bergelimang harta dan kasih sayang orang tuanya.

__ADS_1


'Maafkan kakak, Ell. Kakak tak becus dalam menemukanmu. Kakak sangat menyesal karena telah menyia-nyiakan dirimu. Bahkan dirimu lah yang datang kepada kakak dan memberikan petunjuk agar kakak bisa menemukanmu. Maafkan kakak, Ell. Maafkan kakak,' sesal Leon dalam hati. Meski ia tahu bagaimana kehidupan Ella, tapi ia tidak tahu bagaimana perasaan adiknya selama ini. Dan inilah akhirnya ia mengetahui hal tersebut. Ingin rasanya Leon memutar waktu kembali lebih cepat hingga ia bisa menemukan Ella sebelum Ella merasakan penderitaannya.


Vanya yang tersadar akan ucapannya yang sudah ngelantur hingga membuat kesedihan di sana, seketika langsung meminta maaf kepada semuanya.


"Maafkan saya, saya malah bicara yang membuat kalian sedih. Tapi percayalah dibalik kesedihan itu, ada semangat dan cinta dari penghuni panti hingga membuat saya lebih bersyukur akan hidup saya selama ini. Sebelumnya saya belum pernah menceritakan semua ini kepada siapapun termasuk sahabat saya- Renata. Tapi semenjak bertemu dengan Arga, saya merasa menjadi lebih bahagia dari sebelumnya. Kebahagiaan yang tak bisa saya jelaskan dengan kata-kata. Tak hanya menjadi seorang kekasih, Arga bisa menjadi sahabat, yang aku bisa mencurahkan segala isi hatiku tanpa merasakan ketakutan sedikitpun. Arga-lah, laki-laki yang bersedia menerima saya dengan segala kekurangan saya. Saya juga sudah melihat bagaimana kesetiaannya selama kami berpisah beberapa tahun ini. Lalu apa yang saya ragukan lagi? Saya dengan sadar dan bahagia menerima lamarannya," Vanya menutup ucapannya dengan sebuah senyuman manis meski air matanya masih terus menetes dari kedua sudut matanya. Namun air mata kali ini adalah air mata bahagia darinya.


Seluruh orang yang ada disana akhirnya bisa bernapas lega. Lega rasanya sampai Arga ikut meneteskan air matanya sambil menatap ke arah wanita yang dicintainya itu. Ia sangat bahagia dengan hadirnya Vanya di dalam hidupnya. Hidup yang tadinya abu-abu kini berubah menjadi berwarna-warni semenjak kehadirannya.


"I love you, Vanya. je t'aime Avriella Christofera Nerotouw,"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2