
''Apakah kamu mengenali ini, Van?'' tanya Arga sambil memperlihatkan sebuah kalung dengan liontin bermata biru pada Vanya. Kalung yang dulu ia temukan dibawah bantal hotel dibali.
'Kalung itu?' batin Vanya yang mengenali kalung itu. Kalung yang merupakan identitasnya sesungguhnya. Kalung yang ditinggalkan oleh orang tuanya saat ia masih bayi. Ia kehilangan kalung itu saat ia berada di Bali.
Vanya yang melihat kalung itu seketika melotot karena terkejut. Lalu ia tanpa sadar berdiri dari duduknya. Pegangan tangannya mulai mengendur, membuat gelas kaca itu terjatuh di bawahnya.
pyar
Hancur. Gelas kaca tersebut hancur berantakan seperti hatinya saat ini. Pikirannya melayang jauh mengingat kejadian lima tahun yang lalu. Kejadian yang menjadi titik dimana ia merasa menjadi manusia paling hina di dunia.
'Bagaimana mungkin?' batin Vanya bertanya.
Kehilangan kehormatannya dimalam perayaan kelulusannya. Apalagi dilakukan dengan seseorang yang tidak ia kenali. Padahal selama ia menempuh pendidikan, Vanya selalu membatasi dirinya dengan laki-laki. Tak pernah sekalipun ia mempunyai seorang kekasih karena memang ia masih fokus dengan kuliahnya.
Namun siapa sangka, di malam perayaan itu, ia malah termakan bujuk rayu teman-temannya hingga membuat dirinya mabuk. Bahkan saking parahnya, ia sampai salah masuk kamar hotel hingga membuat dirinya berakhir di ranjang seorang pria tak ia kenali.
''Ba-bagaimana mungkin?'' tanya Vanya dengan mata yang sudah mulai berair. Tubuhnya bergetar hebat lalu perlahan mundur kebelakang.
Arga yang panik melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Vanya seketika berusaha mendekatinya. Namun baru satu langkah, Vanya sudah memberikan kode untuknya berhenti.
''Stop, Ar-Arga. Jangan mendekat,'' ucap Vanya dengan air mata yang mulai menetes dari kedua sudut matanya.
__ADS_1
''Van?'' panggil Arga.
''A-apakah laki-laki itu kamu, Arga?'' tanya Vanya. Meski bukti sudah berada ditangan yang menunjukkan bahwa Arga adalah laki-laki yang telah merenggut kesuciannya, namun dalam hati ia masih ingin menolak kenyataan itu.
''Van?'' panggil Arga lagi. Ia sangat tersiksa melihat Vanya yang kini terlihat berderai air mata dengan pandangan penuh kebencian padanya.
''JAWAB AKU!'' bentak Vanya. Arga terdiam.
Melihat keterdiaman Arga membuktikan kebenaran yang memang dia- lah laki-laki yang berasal dari masa lalunya itu. Laki-laki brengsek yang sudah mengambil kehormatannya.
Vanya menggelengkan kepala, seakan tak percaya dengan kenyataan yang sangat menyakitkan ini. Laki-laki yang akhir-akhir ini selalu memenuhi pikirannya merupakan laki-laki yang telah membuatnya kehilangan harga dirinya. Kenapa? Kenapa takdir sangatlah kejam padanya. Disaat ia mulai memiliki rasa dengan dirinya, namun ternyata dia jugalah laki-laki yang berperan dalam hidupnya yang berubah berantakan ini.
Vanya terus mengeluarkan air mata, namun tak ada suara Isak tangis darinya. Pandangannya semakin lama semakin meredup, berulang kali ia mencoba menghembuskan napasnya. Rasa sesak di dalam hatinya sangat menyiksanya. Sedangkan Arga kini hanya bisa menunduk, menyesali perbuatannya dimasa lalu. Meski sebenarnya bukan salah Arga sepenuhnya karena memang pada saat itu Vanya lah yang mengetuk pintu kamarnya.
''Kau tahu? Hari itu sebenarnya hari paling bahagia dalam hidupku,'' ucap Vanya memecah keheningan malam. Ia menceritakan tentang kejadian itu. Arga hanya diam sambil menundukkan kepalanya. Posisinya kini mereka saling berhadapan, meski jarak mereka lumayan jauh.
''Hari itu adalah hari kelulusanku dan juga hari dimana aku mendapatkan pekerjaan pertama kalinya di dunia modeling. Kamu bisa bayangin kan? Bagaimana bahagianya aku?'' tanya Vanya sambil pandangannya menerawang jauh dimasa lalu. Arga masih setia dengan keterdiama nya tanpa menyela perkataan Vanya.
''Namun siapa sangka, ternyata dibalik keberhasilan yang aku capai, ada harga yang harus aku bayarkan demi itu semua. Ya, memang aku akui aku- lah yang mendatangi kamarmu. Aku dalam pengaruh alkohol waktu itu. Tapi bukankah seharusnya kamu tak menjadikan itu kesempatan bagimu untuk menodaiku, Arga? Kenapa?'' ucap Vanya yang bertanya kepada Arga. Ia menatap Arga dengan kedua pipinya yang sudah basah dengan air mata. Apalagi akibat kehilangan kesuciannya itu juga yang menjadikan Marcell memperlakukannya dengan sangat kasar. Rasa kecewa Marcell padanya teramat dalam karena mengira Vanya masih suci. Namun kenyataannya ia menganggapnya sama saja dengan wanita lain di luaran sana.
''Maafkan aku, Vanya. Atas kejadian dulu. Tapi kenapa kamu meninggalkanku dipagi hari?'' ucap Arga yang kini berbalik bertanya kepada Vanya. Ia ingat sekali bagaimana dirinya terbangun dipagi hari sendirian. Bahkan ia tahu jika mereka melakukan itu berulang kali hingga menjelang dini hari. Tapi disaat ia terbangun di pagi hari, ia sudah tak melihat siapa - siapa di sampingnya.
__ADS_1
Vanya menatap ke arah Arga. Ia seakan tak habis pikir dengan jalan pikiran Arga saat ini. Padahal dulu ia sangat ketakutan saat menyadari dirinya tengah di atas ranjang bersama pria asing tanpa sehelai benang. Tak bisa berpikir panjang selain harus bisa melarikan diri secepat mungkin.
''Kamu masih tanya kenapa, Arga? Sejak kecil aku slalu diajarkan oleh ibu panti agar bisa menjaga diri sebaik mungkin. Jangan sampai terjerumus ke dalam pergaulan bebas yang nantinya bisa berdampak buruk bagi ku. Apalagi ibu panti sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan harga diri seorang wanita.'' jawab Vanya.
''Lalu, disaat aku telah menyelesaikan pendidikan ku, aku juga melakukan kesalahan itu. Hanya ketakutan yang ada di dalam hati dan pikiran ku. Oleh karena itu aku harus pergi sesegera mungkin sebelum pria yang ada di samping ku itu terbangun.'' imbuhnya membela diri.
''Tapi apa kamu tahu, Vanya? Disaat aku terbangun dan tak melihatmu, aku langsung mencarimu.'' ucap Arga.
Mendengar ucapan tersebut seketika membuat Vanya mendongak. Ia memandang ke arah Arga dengan pandangan yang seakan tak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulut Arga.
''Kamu tak percaya kan?'' tanya Arga sambil tersenyum tipis. Vanya hanya diam tak menjawab.
''Pagi itu aku memerintahkan orangku untuk mencari keberadaan mu, Vanya. Namun aku juga tak mengenalmu, hanya kalung inilah benda yang kau tinggalkan saat itu. Tak mungkin juga aku bisa menemukanmu dengan berbekal kalung ini, bukan?'' ucap Arga. Ia teringat bagaimana ia frustasinya saat tak bisa menemukan Vanya. Bahkan usahanya mencari wanita yang semalam ia nodai itu tak membuahkan hasil meski berbulan-bulan lamanya.
''Bahkan aku mengecek seluruh cctv yang ada di sekitar hotel tersebut, namun aku tak bisa melacak kepergianmu, Vanya. Ditambah lagi rusaknya cctv yang ada di lorong depan pintu kamar tersebut membuat aku sangat kesulitan mencarimu. Sekarang saatnya aku bertanya padamu, Vanya. Bagaimana kamu bisa kabur saat itu, hm? Bahkan anak buahku tak bisa menemukanmu. Apalagi memang hotel tersebut saat itu sedang ramai-ramainya karena terdapat sebuah pesta yang diadakan tepat di hari itu.'' ucap Arga sambil menatap lekat ke arah Vanya. Ia melangkahkan kakinya maju menghampiri Vanya.
Sedangkan Vanya ia justru memundurkan langkahnya berusaha menghindari Arga yang semakin lama semakin mendekatinya.
''A-aku ...''
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1