Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 51 Nomor Asing


__ADS_3

Setelah mereka menghabiskan waktu di pantai hingga malam, rombongan itu segera pergi menuju ke tempat pemberkatan Daniel dan Annisa yang dilaksanakan di villa milik Daniel yang tempatnya berada di daerah pesisir pantai Utara. Keempat mobil mereka sampai di tempat acara dini hari.


Sesampainya di villa, mereka semua memasuki kamar mereka masing-masing sesuai arahan dari pihak villa tersebut.


''Capeknya,'' ucap Vanya saat dirinya sudah berada di dalam kamar miliknya. Bergegas ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sangat lengket itu.


tiga puluh menit kemudian Vanya sudah selesai dengan ritual mandinya dan kini menggunakan bathrobe villa tersebut.


tringg


Terdengar suara pesan yang masuk ke dalam ponsel miliknya. Ia segera mengambil ponsel itu dan memeriksanya. Ia baru menyadari jika sudah ada beberapa pesan yang masuk ke dalam ponsel itu dan diantaranya ada nama Marcell disana dan sebuah nomor asing juga.


Vanya lebih dulu memeriksa pesan yang dikirimkan oleh Marcell padanya.


^^^*to : Vanya^^^


...Besok aku gak bisa hadir saat pemberkatan temanmu. Tapi aku akan hadir saat resepsi mereka. Sampaikan saja salamku pada mereka,...


^^^from : Marcell*^^^


Vanya tampak biasa saja mendapatkan pesan dari Marcell. Bahkan ia merasa sedikit lega karena laki-laki itu tidak datang pada saat pemberkatan besok.


''Bagus deh gak datang. Aku juga tidak berharap besar sama kamu, Marcell. Aku sudah capek dengan kamu.'' ucap Vanya lalu ia beralih ke pesan-pesan yang dikirimkan oleh managernya tentang schedule pemotretannya. Hanya helaan napas panjang yang keluar dari mulut mungil itu saat melihat betapa banyak pekerjaannya di bulan ini dan bulan depan.


Kini tiba saatnya Vanya membuka pesan yang dikirimkan oleh nomor asing itu. Dahi Vanya berkerut saat melihat pesan itu.


Sudah tidur, Van?


Begitulah isi pesan tersebut. Vanya melihat lagi nomor itu. Ia merasa tak mengenali nomor itu, tapi bagaimana mungkin pemilik nomor asing itu tahu nomor nya? Sedangkan nomor Vanya ini nomor baru, yang Vanya gunakan dua bulan terakhir ini.

__ADS_1


*tringg


tringg*


Seketika ponsel Vanya bergetar, terlihat nomor asing pemilik pesan itu tengah berusaha meneleponnya. Vanya bingung, harus menjawabnya atau tidak.


*tringg


tringg*


Berulang kali nomor asing itu berusaha meneleponnya meski Vanya sengaja tak menjawab. Karena sudah lebih dari tiga kali, Vanya mencoba untuk menjawabnya, siapa tahu hal penting untuknya.


''Halo?'' ucap Vanya saat menerima panggilan tersebut.


''Ini aku, Van.'' suara seorang laki-laki yang berada di seberang sana. Suara berat yang sangat familiar di telinga Vanya. Vanya masih diam, mencoba mengenali suara laki-laki tersebut.


''Vanya?''


Detak jantung Vanya berdetak lebih kencang mendengar suara itu. Suara milik laki-laki yang akhir-akhir ini terus berusaha mendekatinya.


''A-Arga?'' lirih Vanya. Meskipun lirih, tapi karena dalam keheningan malam, suara Vanya mampu terdengar sampai di seberang sana.


''Iya. Ini aku, Arga.'' sahut Arga disana. Sedangkan Vanya? Saat ini ia masih tak tahu harus bagaimana karena laki-laki itu mengetahui nomor ponselnya. Walau dalam hatinya yang terdalam ia merasakan ada getaran aneh saat berada di sekitar laki-laki itu.


''Em, Bagaimana kamu bisa tahu nomorku?'' tanya Vanya penasaran. Padahal nomornya itu hanya dimiliki oleh segelintir orang saja.


''Bukan hal sulit bagiku untuk mendapatkan nomormu, Vanya. By the way lagi ngapain? Belum mau tidur?'' tanya Arga memulai percakapannya dengan Vanya.


''Em, belum. Habis mandi,'' jawab jujur Vanya. Lalu Vanya duduk bersandar di tepian ranjang sambil terus memegang ponselnya yang diletakkan di telinganya.

__ADS_1


''Ka-kamu sendiri?'' ucap Vanya lagi saat ia tak mendengar suara lagi dari seberang sana.


''Lagi mikirin kamu,'' sahut Arga yang seketika membuat kedua pipi putih Vanya memancarkan rona merahnya. Ditambah lagi bibir tipis itu tampak melengkung ke atas saat mendengarnya.


Vanya masih diam. Ia tak tahu harus bicara apalagi. Tampak Vanya membawa jari tangan kanannya terangkat lalu ia menggigit-gigit kecil kukunya demi menghilangkan rasa gugup yang melandanya.


''Van?'' panggil Arga.


''I-iya,'' sahut Vanya.


''I love you,'' ucap Arga.


Blush


Senyum manis Vanya langsung tercetak di bibirnya mengiringi kedua pipi putih miliknya yang kini sudah berubah memerah seperti tomat. Entahlah, ia merasa seperti remaja labil yang tengah jatuh cinta. Disatu sisi ia merasa berbunga-bunga saat mendengar ungkapan hati Arga, disisi lain ia masih ada ketakutan karena statusnya yang masih menjadi kekasih dari Marcell.


Oh, God


Vanya hanya bisa mengumpat dalam hati saat mengingat bahwa dirinya masih terjebak dalam hubungan toxic dengan pemilik dari agency-nya. Terkadang dalam hatinya Vanya juga berniat untuk mencari pelampiasan diluar sana karena mengingat bahwa Marcell juga sering kali mengkhianatinya. Namun disisi lain ia juga merasa takut jika nantinya karena perbuatannya itu memiliki dampak bagi kariernya.


''Vanya, kamu masih mendengarkanku?'' ucap Arga yang seketika membuyarkan lamunan Vanya.


''I-iya,'' sahut Vanya.


''Van?'' panggil Arga lagi.


''Ya?'' jawab Vanya.


''Aku ada di depan pintumu,''

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2