Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 38 Makan malam bersama


__ADS_3

Ceklek


"Masuklah,'' ucap Arga mempersilakan Vanya untuk memasuki apartemen barunya tersebut.


Dengan langkah perlahan, Vanya memasuki apartemen paling mewah di sana.


Perbedaan yang sangat kontras jika dibandingkan dengan apartemen miliknya. Tata letak furniture juga dibuat sedemikian rupa, dipadukan dengan warna dinding ruangan tersebut yang senada. Jika diukur mungkin luas dari apartemen ini dua kali luas apartemen miliknya.


'Wah, terlihat sangat mahal,' batin Vanya saat kedua matanya melihat isi dari apartemen mewah tersebut.


''Duduklah sebentar. Aku akan menelpon sekertaris ku dulu,'' ucap Arga. Setelah mengatakan itu, Arga menyingkir sedikit lebih jauh dari sofa tempat Vanya berada. Sedangkan Vanya mendudukkan tubuhnya di sofa empuk itu.


''Halo, Tuan?''


''Perintahkan kepada butik langgananku untuk menyiapkan beberapa pakaian untukku dan juga untuk Vanya. Untuk ukurannya, kamu bisa tanya bagian yang menyiapkan pakaian milik Vanya saat dia melakukan pemotretan hari ini.'' ucap Arga.


''Baik, Tuan. Ada lagi?''


''Hm, jangan lupa belikan makan malam buat kami. Kamu tahu kan dimana alamat apartemen ini?'' tanya Arga.


''Tahu, Tuan.'' jawab Dinda.


''Good.'' Setelah mengatakan itu, Arga mengakhiri panggilan tersebut.


Dari tempatnya berdiri saat ini, Arga bisa melihat gerak-gerik Vanya yang saat ini tengah mengamati interior apartemen miliknya. Kemudian Arga terlihat berjalan menuju ke arah dapur. Beberapa saat kemudian ia kembali sambil membawa sebuah baki berisi air dingin serta sebuah handuk kecil di tangannya.


''Ehem,'' Arga berdehem membuat Vanya tersadar lalu ia menoleh ke arah Arga. Vanya melihat laki-laki itu sudah selesai dengan panggilannya lalu mengambil duduk di sebelah Vanya.


Vanya juga melihat Arga yang membawakannya sebuah baki berisi air beserta handuknya.


Demi menghilangkan rasa canggung diantara keduanya, Arga meraih kantong kresek berwarna putih yang ada di meja dan membukanya.


''Mendekatlah,'' titah Arga kepada Vanya. Vanya tampak bingung, namun sepersekian detik kemudian ia memajukan duduknya setelah melihat tatapan mata elang Arga yang melihat kearahnya.


''Tahan ya. Ini akan sedikit perih,'' ucap Arga sebelum ia memulai pekerjaannya itu. Vanya hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Arga.

__ADS_1


Arga mulai mengompres bagian wajah cantik Vanya yang terlihat membiru. Walau gerak tangan Arga sangat pelan, namun masih bisa membuat Vanya merasa kesakitan.


Ssshhh


Desis Vanya saat merasakan perih di bagian lukanya yang terkena air kompresan Arga. Bahkan Vanya sampai memejamkan matanya sambil kedua tangannya menggenggam, menyalurkan rasa nyeri di bagian tubuhnya yang sedang diobati oleh Arga.


Setelah lebih dari setengah jam, Arga pun selesai mengobati Vanya. Terdapat plester di bagian pelipis Vanya karena tadi sempat kena pukul Marcell hingga membuat pelipisnya berdarah.


''Thanks, Arga.'' ucap Vanya dengan tulus saat melihat Arga membereskan peralatan obatnya.


''Hm,'' jawab Arga.


Ting tong ...


''Sebentar,'' pamit Arga lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu utama apartemennya.


Beberapa orang tampak membawa banyak paper bag di kedua tangan mereka. Bahkan Vanya dibuat melongo saat melihat banyaknya paperbag yang bertuliskan nama salah satu butik terkenal di sana.


Selain dari butik, terdapat pula paper bag yang berasal dari salah satu restoran bintang lima yang diletakkan di atas meja dapur yang memang bisa terlihat dari tempat Vanya berada saat ini.


'Apa yang sedang dia lakukan? Kenapa banyak sekali paperbag di sana?' batin Vanya yang bertanya kepada dirinya sendiri.


''I-iya?'' tanya Vanya. Suaranya juga dibuat sedikit keras, mengimbangi suara Arga.


''Kemarilah,'' perintah Arga. Mau tak mau Vanya beranjak dari sofa itu dan berjalan menghampiri Arga yang tengah sibuk menata berbagai makanan yang ada di atas meja tersebut.


''Ada acara apa ini?'' tanya Vanya yang melihat banyaknya makanan disana.


''Duduklah. Kita makan malam bersama. Kamu pasti juga belum makan kan?'' tanya Arga. Mendengar hal itu sontak membuat perut Vanya Seketika berbunyi.


''Ta-tapi..''


''Sudahlah. Ayo duduk. Kekasihmu juga tidak mungkin pulang ke apartemen mu, bukan? ucap Arga seraya menggeser salah satu kursi disana dan menarik lembut Vanya untuk duduk disana. Setelah itu, Arga kembali menuju ke Buffett dapur untuk mengambil dua buah piring beserta sendok dan garpu untuk dirinya dan Vanya.


''Kenapa makanannya banyak sekali?'' tanya Vanya heran. Bahkan ia sempat berpikir apakah akan ada orang yang akan datang ke sana, mengingat menu makanan malam ini terlihat seperti untuk satu keluarga besar.

__ADS_1


''Aku tak tahu. Ini semua kerjaan sekertaris ku. Aku hanya memerintahkan kepada nya untuk memesan makanan untuk kita berdua.'' jawab Arga santai sambil mengambil piring milik Vanya dan hendak menuangkan nasi putih diatasnya. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Vanya.


''Jangan. Biar aku saja,'' cegah Vanya sambil mengambil kembali piring miliknya. Lalu dengan cekatan ia mengambil piring milik Arga dan menuangkan nasi putih untuk dirinya.


''Segini cukup?'' tanya Vanya lembut sambil memperlihatkan seberapa banyak nasi putih yang ia ambilkan untuk dirinya.


''Hm, cukup.'' jawab Arga. Dalam hatinya ia merasa hangat dengan perlakuan manis Vanya terhadap dirinya. Meski ia baru mengenal sosok Vanya, namun dalam hati ia memuji karakter Vanya yang terlihat sangat cocok untuk dijadikan seorang istri. Meski kadang ia merasakan Vanya sangat keras kepala, namun ada sisi keibuan di dalam dirinya.


''Mau makan dengan lauk apa?'' tanya Vanya kepada Arga. Kemudian Arga menunjukkan beberapa menu dan dipanggil oleh Vanya. Setelah meladeni Arga, ia pun segera mengambil jatah makannya.


Tak ada obrolan diantara keduanya. Mereka makan malam dalam keheningan. Meski begitu baik Arga dan Vanya sudah tampak lebih santai dan tidak terlalu kaku seperti sebelumnya.


''Thanks,'' ucap Arga saat ia melihat Vanya mengambil piring kotor miliknya setelah keduanya selesai dengan makan malam mereka. Vanya hanya mengangguk sambil kemudian beranjak dari sana dan membawa piring kotor miliknya dan Arga ke wastafel dapur. Sedangkan Arga lebih memilih untuk meninggalkan Vanya di sana dan segera masuk ke dalam kamar yang akan menjadi miliknya untuk membersihkan tubuhnya.


Tiga puluh menit kemudian terlihat Arga keluar dari kamar tersebut. Wajah segarnya semakin membuat dirinya terlihat tampan apalagi saat ini ia menggunakan kaos polos berwarna putih serta celana pendek yang menjadi kebiasaannya saat sedang bersantai.


Karena tak melihat Vanya di sofa, ia memilih melihat ke arah dapur. Disana ia melihat meja makan yang tadinya terdapat banyak makanan kini sudah bersih. Tampak Vanya yang saat ini tengah berdiri di depan kompor yang keberadaannya membelakangi Arga.


''Vanya?'' panggil Arga. Vanya seketika menoleh saat mendengar suara Arga memanggil namanya. Vanya sedikit terkejut melihat penampilan Arga yang tak pernah ia lihat selama ini.


'Tampan,' batin Vanya memuji ketampanan seorang Arga.


Tak mau tertangkap basah oleh Arga karena ia terpesona olehnya, Vanya berdehem sebentar.


''Sorry aku menggunakan dapurmu tanpa meminta ijin pada mu. Apa kau marah?'' tanya Vanya yang merasa dirinya lancang karena sebagai tamu ia tidak meminta ijin untuk memakai dapurnya.


''No, it's okay. Anggap saja sebagai apartemenmu,'' ucap Arga santai sambil menyenderkan tubuhnya di dinding dapur.


''Em, mau ku buatkan kopi?'' tawar Vanya yang memang ia tadi merasa tak ada kerjaan setelah membereskan semua makanan mereka.


''Apa semua perlengkapan dapur sudah lengkap?'' tanya Arga. Vanya menganggukkan kepalanya.


''Sudah kalau untuk sekedar untuk membuat minuman seperti kopi, teh, maupun susu. Yang tidak ada adalah bahan masakan seperti sayuran, daging, buah, dan lain sebagainya.'' jawab Vanya.


''Hm, baiklah. Aku akan meminta orang kepercayaan ku untuk mengisi dapur.'' jawab Arga.

__ADS_1


''Jadi, mau kopi?''


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2