
...Dear : Marcell...
...Terimakasih atas segalanya, Marcell. Maafkan aku yang memilih menyerah daripada terus berada di sampingmu. Masih jelas teringat di benakku bagaimana kita dekat dulu, Marcell. Kamu yang lembut, perhatian, bahkan menyayangiku mampu membuatku jatuh cinta padamu....
...Jatuh cinta untuk pertama kalinya dalam hidupku. Namun semua perlakuan mu itu sirna disaat kamu mengetahui aib yang dulu aku simpan. Meski sudah berulangkali aku menjelaskan, tak kau percaya hingga kau tega menyakiti hati dan perasaanku....
...Marcell, aku hanya berharap satu hal. Jangan jadikan apa yang terjadi pada kedua orang tua mu, menjadi acuan dalam hidup mu. Aku berdoa semoga kamu dipertemukan dengan seseorang yang mencintaimu tanpa memandang masa lalu mu....
...Lepaskan aku, Marcell. Berikan kebebasan pada teman masa kecilmu ini. Sebenarnya aku sudah mengetahui jika kita adalah teman satu sekolah dasar, Marcell. Awalnya aku sempat ragu, tapi saat aku melihat bekas jahitan yang ada di pergelangan tangan kirimu dan foto masa kecilmu, aku jadi yakin jika kamu memanglah dia. Kembalilah menjadi Marcell yang dulu, laki-laki penyayang dan lembut serta selalu menolong orang tanpa pamrih....
...Terimakasih, Marcell. Terimakasih atas semua yang sudah kau berikan padaku. Meski sangat menyakitkan ku, tapi kini aku sudah bisa menerima semuanya sebagai perjalanan takdir yang harus aku lalui dalam hidupku....
...Semoga kelak kita bisa bertemu lagi sebagai teman, Marcell....
...Selamat tinggal,...
...from : Vanya...
KAU TAK AKAN BISA PERGI DARIKU, VANYA. TIDAK AKAN PERNAH BISA,'' teriak Marcell sembari ia melempar semua barang yang ada di dalam kamar tersebut. Dengan brutal Marcell melampiaskan kekesalan nya pada semua barang yang ada disekitarnya.
Keesokan harinya
Sepeninggal Vanya, Marcell semakin tak terkendali. Pagi-pagi sekali ia sudah berangkat dari rumahnya. Ia memberhentikan mobil yang ditumpanginya di depan perusahaan milik rivalnya - Arga.
Setelah menunggu hampir setengah jam, Marcell melihat mobil yang biasa dikendarai Arga memasuki kawasan kantor kemudian berhenti di depan lobi.
Marcell bergegas keluar dari mobilnya dan berjalan sedikit berlari menghampiri Arga. Namun saat Marcell melewati pos satpam, ia dihadang oleh para penjaga disana. Marcell berteriak keras hingga terdengar di telinga Arga yang tadinya hendak melangkah masuk ke dalam kantornya.
__ADS_1
''LEPASKAN AKU, BRENGSEK! LEPASKAN! ARGA! DIMANA KAU SEMBUNYIKAN VANYA, HAH? BERANINYA KAU MENYURUH ORANG UNTUK MENCULIK KEKASIHKU! LIHATLAH KALIAN SEMUA! BOS YANG KALIAN AGUNGKAN ITU TAK LEBIH DARI SEORANG PECUNDANG! YANG SUKA MEREBUT MILIK ORANG LAIN. ARGA! HADAPI AKU KALAU KAU BERANI! KEMBALIKAN VANYA PADAKU, BAJINGAN!" teriak Marcell dengan sekuat-kuatnya. Ia tak peduli meski dirinya menjadi bahan tontonan semua orang yang ada di sana. Marcell juga berupaya melepaskan diri dari jeratan para penjaga keamanan disana.
Arga tampak memasang wajah datarnya menanggapi setiap ucapan yang terlontar dari mulut Marcell padanya. Meski laki-laki itu menyudutkannya, tapi ia tak menghiraukannya. Karyawan-karyawan yang melintas hendak masuk ke dalam kantor, mereka berhenti di tempatnya.
Terdengar bisik-bisik yang berasal dari mulut karyawannya, membuat Arga gerah. Arga sampai mengepalkan kedua tangannya saat menyadari ada beberapa karyawannya yang termakan oleh omongan Marcell itu. Beruntung asistennya - Dinda tiba beberapa saat kemudian. Wanita itu tampak lari tergopoh-gopoh menghampiri Arga.
"Tuan? Ada apa ini, Tuan?" tanya Dinda yang belum mengerti dengan duduk masalah yang ada di depan matanya itu. Tapi ia bisa melihat jika Marcell - laki-laki yang sempat membuat masalah beberapa waktu lalu kini mendatangi kantornya lagi.
"Suruh mereka masuk dan bekerja, Din. Aku yang akan membereskan sampah ini," ucap Arga dengan tatapan matanya tajam ke arah Marcell yang masih berusaha melepaskan diri dari para penjaga keamanan.
Dinda yang mengerti akan maksud Bos-nya itu seketika mengangguk paham.
"Baik, Tuan." Setelah mengatakan itu, Dinda selaku orang kedua yang di hormati di kantor setelah Arga seketika berjalan meninggalkan Arga dan menghampiri meja resepsionis yang ada tak jauh dari sana.
Tak lama setelah Dinda berada di sana, terdengar bel tanda masuk kerja dimulai. Meski waktu masuk masih beberapa menit lagi, tapi tak dihiraukan oleh Dinda.
Setelah memastikan semua semua karyawan masuk, Dinda kembali menghampiri Arga yang masih setia berdiri di tempatnya.
"Sudah, Tuan." ucap Dinda yang melaporkan pada Arga. Tampak Arga mengangguk tanpa menoleh padanya.
"Apa ada meeting penting hari ini?" tanya Arga. Dinda mencoba mengingat-ingat schedule Arga hari ini. Tak lama kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada, Tuan. Hanya meeting dengan para petinggi perusahaan," jawab Dinda.
"Kau saja yang memimpin. Masuklah, aku harus menghadapi laki-laki tak punya malu itu," ucap Arga yang mengusir asistennya tersebut.
"Baik, Tuan. Berhati-hatilah, Tuan." sahut Dinda. Arga yang mendengar ucapan dari Dinda hanya melirik sekilas. Sedangkan Dinda hanya bisa terkikik lalu ia bergegas meninggalkan Bos-nya sendiri disana.
__ADS_1
Dinda tahu bagaimana peringai Tuan-nya itu. Jadi ia hanya bergurau saja saat mengucapkan kata-katanya tadi. Bagi Arga menghadapi laki-laki seperti Marcell sangatlah mudah. Hanya dengan sedikit pukulan dan tendangan laki-laki yang merupakan kekasih resmi Vanya itu langsung tak berdaya.
Sepeninggal Dinda, Arga melangkahkan kakinya menghampiri Marcell yang masih berdiri tak jauh dari gerbang kantornya. Dengan memasukkan kedua tangannya di saku celananya, Arga menatap nyalang ke arah Marcell. Dari tatapannya, terlihat jelas jika Arga sangat meremehkan kemampuan yang dimiliki oleh Marcell.
"Lepaskan dia," titah Arga pada kedua penjaga keamanan kantornya.
"Tapi, Tuan." belum sempat salah satu penjaga itu menyelesaikan ucapannya, tatapan mata Arga seketika membuat penjaga itu langsung mengangguk patuh.
Melihat kedua tangannya telah bebas dari jeratan penjaga itu membuat Marcell tersenyum penuh arti. Tanpa menunggu waktu lama lagi, laki-laki itu segera menghampiri Arga dan melayangkan pukulan di wajah tampannya.
Bugh
Namun belum sampai kepalan tangan Marcell mendarat di wajah Arga , Arga lebih dulu gesit memberikan bogeman mentah di rahang kiri Marcell hingga membuat laki-laki itu terhuyung ke belakang.
cuih
"Hanya itu kemampuan loe, hah?'' ucap Arga yang seketika membuat Marcell geram. Arga berhasil memprovokasi Marcell. Ia menyeringai saat melihat raut wajah Marcell yang berubah memerah karena amarahnya.
Marcell kembali menghampiri Arga dan menarik kerah kemeja Arga dengan kedua tangannya.
''DIMANA KAU SEMBUNYIKAN VANYA, HAH? JANGAN KAU KIRA AKU TAK TAHU KALAU KAU YANG MENCULIKNYA, HAH!" bentak Marcell dengan rahangnya yang mengeras. Kedua matanya menyala bak seperti ada kobaran api di dalamnya.
'Vanya? Kenapa laki-laki ini malah mencarinya kesini? Bukannya dia ada di rumahnya? Jangan-jangan...' disaat Arga sibuk dengan lamunannya, Marcell memanfaatkan hal itu dengan melayangkan pukulannya di rahang kiri Arga.
Bugh
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1