Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 69 Bertemu Musuh


__ADS_3

Setelah menghabiskan sarapan berdua, Arga dan Vanya segera meninggalkan kamar mewah tersebut. Sebelumnya kedua insan tersebut sempat berdebat dikarenakan Arga memaksa untuk mengantarkan Vanya pulang ke apartemennya. Tentu saja itu ditolak mentah-mentah oleh Vanya. Ia merupakan publik figur, otomatis kehidupan pribadinya disorot masyarakat. Ia tak mau nanti ada gosip-gosip berbeda tentang kedekatan keduanya. Apalagi memang saat ini publik tahunya Vanya berpacaran dengan Bos-nya sendiri.


''Ah, leganya.'' ucap Vanya saat dirinya telah sampai di apartemennya dan setibanya disana ia langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang empuk miliknya.


Tak ada ranjang paling nyaman senyaman ranjang miliknya sendiri. Ia sangat bahagia karena hari ini ia bisa menikmati waktu senggangnya tanpa gangguan dari Marcell dan juga Arga.


Saat ini Marcell tengah sibuk mempersiapkan peluncuran iklan hotel milik Arga yang beberapa waktu lalu Vanya yang menjadi modelnya. Sedangkan Arga saat ini tengah berada di mansion milik keluarga Daniel. Ia berkumpul bersama para sahabatnya sebelum melepas kepergian Daniel beserta sang Istri pergi bulan madu ke luar negeri.


*drrrtt


drrrtt*


Suara getaran yang berasal dari ponsel milik Vanya membuat mata Vanya perlahan terbuka. Ia menggerutu sebal karena lagi-lagi waktu santainya di ganggu.


'Ck, mengganggu saja.' gerutu Vanya sambil tangannya meraih ponselnya di atas nakas.


''Halo,'' jawab Vanya tanpa melihat siapa gerangan yang meneleponnya.


''Dimana loe?'' suara seorang wanita yang ia kenali. Vanya menghembuskan napasnya saat mengetahui Renata - lah yang mengganggunya.


''Apartemen. kenapa?'' tanya Vanya to the point'.


''Hehe, gue bosan. Jalan yuk,'' ajak Renata kepada Vanya. Sejenak Vanya terdiam, lalu ia menoleh ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh pagi.


''Bagaimana, hm? Ayok. Gue samperin deh, gue yang nyetir ntar,'' ucap Renata yang berusaha merayu Vanya.


Sedangkan Vanya tahu bahwa sahabatnya itu sedang menggali informasi tentang kepergiannya tadi malam meninggalkan pesta bersama Arga.


''Gue tahu maksud loe, Ren.'' ucap Vanya santai.


''Ish. Gue traktir deh. Loe bilang mau minta beliin apa ntar gue yang bayarin, deh. Gimana? Oke, kan?'' ucap Renata masih terus berusaha merayu Vanya.


''Ck. Cepetan kesini,'' ucap Vanya pada akhirnya ia menuruti kemauan sang sahabat. Ia pun juga berniat untuk menceritakan semuanya kepada Renata dan meminta pendapat nya.


''Oke, Darling. Wait for me,'' setelah mengatakan itu Renata langsung menutup panggilan tersebut.

__ADS_1


Vanya yang mendengar suara semangat sahabatnya hanya bisa geleng-geleng kepala.


''Dasar,'' Lalu Vanya mulai beranjak dari sana dan berjalan menuju walking closet nya. Mengambil sebuah atasan crop berwarna biru muda dan dipadukan dengan celana jeans biru gelap membuat Vanya tampak cantik jelita. Disempurnakan lagi dengan sebuah tas kecil berwarna putih tulang menjadikan penampilan Vanya hari ini lebih fresh dan segar.



Setelah menunggu hampir tiga puluh menit, Vanya pun segera turun ke lobi karena Renata sudah memberitahu kepadanya jika ia telah sampai.


Keduanya langsung menuju ke salah satu pusat perbelanjaan terbesar disana. Mereka tampak asyik memasuki satu outlet ke outlet lain membeli apa saja yang mereka inginkan.


Terkadang mencoba beberapa helai pakaian, aksesoris, hingga sepatu dan tas yang menarik di pandangan mereka. Saking asyiknya keduanya melewatkan waktu makan siang mereka. Selalu seperti itu.


''Sudah yuk. Kita makan dulu, laper banget.'' ucap Renata yang mengeluh perutnya keroncongan. Vanya yang saat ini tengah memilah-milah dress seketika mengalihkan pandangannya ke jam tangannya. Ia terkejut saat melihat ternyata sekarang sudah hampir pukul dua siang. Dan mereka belum mengisi perut.


''Baiklah. Sepertinya kita memang harus makan deh. Soalnya udah hampir jam dua,'' ucap Vanya lalu keduanya meninggalkan outlet tersebut dan berjalan menuju area food court yang ada di lantai atas mall tersebut.


Di tengah-tengah perjalanan mereka, kedua mata Renata menangkap sosok yang ia kenali di salah satu outlet yang keduanya lewati saat ini.


''Eh-eh. Tuh bukannya si David and the gang ya?'' ucap Renata kemudian berhenti. Vanya yang mendengarnya seketika mengikuti arah pandang Renata lalu ia pun menganggukkan kepalanya.


''Udah, yuk. Katanya laper,'' ucap Vanya sambil sedikit menarik tangan Renata menuju eskalator yang ada di sana. Mau tak mau Renata pun mengikuti Vanya padahal tadinya ia berniat menghampiri ketiga laki-laki itu.


Saat keduanya telah sampai di lantai delapan tempat food court berada, Vanya dan Renata dikejutkan dengan kehadiran seseorang disana.


''Wah-wah. Lihat siapa ini yang datang? suara seorang wanita di belakang tubuh Vanya dan Renata. Keduanya pun berbalik. Mereka melihat Cynthia bersama dua temannya.


Vanya hanya bisa menghela napas berat lalu kembali mengajak Renata melangkahkan kakinya meninggalkan ketiga wanita itu.


''Jangan diladenin. Lagi banyak orang disini,'' bisik Vanya pada Renata. Mau tak mau Renata pun mengangguk lalu kembali melangkah.


Namun belum juga melangkah jauh, terdengar suara nyaring Cynthia yang seketika membuat Renata meradang.


''Emang dasar, Ja..lang. Udah punya pasangan tapi masih kegatelan sama laki-laki lain. Dasar murahan,'' ucap Cynthia dengan diakhiri tawa mengejeknya.


'Sabar, Vanya. Sabar. Jangan sampai terpancing dengan ucapan rubah satu itu atau kalian nanti bisa jadi bahan tontonan,' batin Vanya.

__ADS_1


Belum juga Vanya kembali meraih tangan Renata untuk mengajaknya pergi, terdengar teriakan seseorang.


Aaaa


Betapa terkejutnya saat Vanya melihat Renata saat ini sudah menarik kasar rambut panjang milik Cynthia.


''Lepasin rambut gue, bang..sat.'' teriak Cynthia sambil memegang rambutnya. Saat ini Renata menarik kuat rambut indah Cynthia menggunakan kedua tangannya. Bisa bayangin kan bagaimana rasanya? Uh.


''Rasakan ini. Gue udah gedek sama loe sejak lama. Akhirnya gue bisa melampiaskannya sekarang. Rasakan ini, huh. Rasakan,'' sahut Renata sambil terus menarik rambut Cynthia dengan kasar sehingga membuatnya histeris.


Dimana teman Cynthia? Kedua temannya sedikit menyingkir dari sana karena menyadari ada beberapa orang yang merekam aksi keduanya. Tentu mereka tak mau ikut-ikutan atau nanti bisa berdampak buruk pada kariernya.


Sedangkan Vanya langsung berjalan menghampiri keduanya dan berusaha melerainya.


''Sudah, Ren. Sudah. Kalian jadi tontonan warga,'' bisik Vanya sambil berusaha melepaskan tangan Renata yang masih mencengkeram kuat rambut Cynthia. Namun sepertinya Renata tuli, tak mendengarkan ucapan Vanya.


''Minggir, Nya. Gue harus kasih pelajaran sama nih orang. Udah sering kali dia berulah tapi baru sekarang gue bisa membalasnya. Loe gak akan bisa kabur lagi dari gue, Se..tan.'' ucap Renata lalu dengan cepat ia menggapai kedua bahu Cynthia yang tengah menunduk di depannya itu kemudian ia membalikkan badannya dan membanting tubuh Cynthia di sana.


Bugh


Akh


Suara rintihan terdengar dari mulut Cynthia setelah dirinya dihempaskan oleh Renata di lantai mall tersebut. Sakit di sekujur tubuhnya sangat terasa hingga membuat ia meringis kesakitan. Vanya yang melihat adegan itu seketika menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Ia benar-benar terkejut dengan aksi brutal sang sahabat.


Tak mau lama-lama disana, Vanya langsung mendatangi Renata dan menarik tangannya dengan sekuat tenaga.


''Sudah. Ayo kita pergi, Ren. Malu dilihat orang banyak,'' ucap Vanya lalu dengan sedikit memaksa ia menarik tangan Renata menjauh dari tempat itu meninggalkan Cynthia yang masih jadi tontonan warga karena telah kalah dengan Renata.


''Awas loe, Cynthia. Sekali lagi gue lihat loe macem-macem, loe akan habis di tangan gue.'' teriak Renata sambil berjalan mengikuti langkah Vanya di depannya. Sesekali pandangannya masih menoleh ke belakang.


arghhh


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2