Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 76 Masih berlanjut sampai Pagi


__ADS_3

Pagi menjelang. Arga dan Vanya masih senantiasa bergelung dibawah selimut tebal hotel tersebut. Tak ada pergerakan dari keduanya sebagai tanda terbangun.


*Tringg


Tringg*


Suara nyaring dari sebuah ponsel lamat-lamat terdengar di telinga Vanya. Kamar yang sunyi, ditambah jarak ranjang dengan ruang tamu tak terlalu jauh membuat dering ponsel itu semakin membuat Vanya tak lagi bisa menikmati waktu tidurnya.


Eugh..


Suara lenguhan dari bibir Vanya mulai terdengar. Kelopak mata indahnya mulai bergerak dan mulai membuka pelan-pelan, berusaha menyadarkan dirinya dari alam mimpinya.


''Good morning, baby.'' suara serak milik Arga sukses membuat Vanya tersentak dan kemudian bangun dari tidurnya.


''Astaga. Jam berapa sekarang?'' tanya Vanya sambil melihat ke arah jam dinding yang ada di sana.


Seketika kedua mata Vanya terbelalak saat melihat jam dinding yang memperlihatkan sekarang sudah pukul delapan lebih tiga puluh menit. Itu artinya ia sudah terlambat untuk pergi ke tempat pemotretan.


''Oh, sh**. I'm late,'' ucap Vanya sambil menyibak selimut tebal yang membungkus tubuh polosnya.


''Akh,'' jerit Vanya seketika saat ia merasakan sedikit perih di area miliknya.


''Are you okay, baby?'' tanya Arga yang melihat Vanya menahan sakit sambil membungkukkan tubuhnya.


''Aku terlambat, Ar. Semua gara-gara kamu,'' dengus Vanya sambil sedikit berlari menuju ruang tamu dan mengambil ponselnya yang sejak tadi berdering.


Bahkan ia tak menghiraukan tubuhnya yang masih polos itu. Arga yang melihatnya hanya bisa meneguk ludah kasarnya. Bahkan intinya mulai berdenyut menatap tubuh molek yang merupakan candu baginya.


''Kau menggodaku, baby?'' tanya Arga saat melihat Vanya yang berjalan melewati dirinya yang masih berada di ranjang.


''Shut up, Ar.'' sentak Vanya sambil melototkan kedua matanya. Ia masih terlihat berusaha menelpon seseorang.


"Halo,"


"Em, Asti? Sorry, baru bisa angkat telepon. Baru bangun tidur." ucap Vanya seketika ketika teleponnya diangkat oleh asistennya.


"Nona dimana? Saya dan Gita tidak melihat Nona di kamar. Kami bingung nyariin Nona."

__ADS_1


"Maaf, As. Aku masih berada di hotel kok. Aku gak bisa jelasin sekarang. Gimana dengan pemotretannya?" tanya Vanya. Ia langsung bertanya mengenai jadwal pemotretannya hari ini. Tanpa ia Arga sudah beranjak dari tempat tidur dan berjalan di belakangnya. Saat ini Vanya tengah menatap jendela yang masih tertutup oleh korden abu-abu itu.


"Pihak mereka memaklumi setelah kami memberikan alasan bahwa Nona sedikit tak enak badan akibat kelelahan. Dan mereka memundurkan jadwal pemotretan hingga nanti setelah jam makan siang, Nona."


"Thanks, God. Sorry ya sudah membuat kalian khawatir. Aku juga mau berterima kasih sama kalian karena sudah membantu menjelaskan kepada mereka," ucap Vanya yang sedikit tak enak hati pada kedua asistennya tersebut.


"Tidak apa-apa, Nona. Tapi Nona sekarang tidak apa-apa kan?"


"Nggak papa, kok. Yasudah, aku tutup teleponnya ya. Aku akan hubungi kalian lagi jika nanti aku sudah siap-siap," ucap Vanya.


Arga yang mendengar semua percakapan mereka tersenyum penuh kemenangan saat menyadari waktunya bersama Vanya semakin banyak pagi ini.


"Iya, Nona."


Setelah mendengar ucapan dari asistennya, Vanya langsung mematikan panggilan tersebut. Saat ia hendak berbalik, dengan cepat Arga merengkuh tubuh Vanya dari belakang. Vanya tersentak hingga membuat tubuhnya terdorong kedepan hingga mencapai korden jendela. Arga dengan cepat melumuri seluruh jari jemari tangan kanannya dengan air liurnya sendiri.


Akh..


Vanya mendesah keras saat tangan kanan Arga berhasil bermain di inti miliknya. Mengobrak-abrik pertahanan tubuh Vanya secara kasar namun terasa sangat nikmat baginya.


Tubuh Vanya menempel sempurna di korden dengan kedua buah dadanya tertekan disana.


Bisa dibayangkan bagaimana rasanya diatas mendapat serangan bersamaan dengan miliknya yang dibawah sana juga tak lepas dari serangan tangan kekar Arga.


*Eungh...


Akh* ...


Tak mampu lagi menahan lebih lama, Arga langsung menarik tubuh Vanya sedikit kebelakang dan mulai menghentak dengan kuatnya.


Vanya hanya bisa pasrah mendapat serangan tiba-tiba dari laki-laki perkasa yang sialnya adalah kekasih gelapnya itu. Tak bisa dipungkiri permainan Arga lebih panas dari Marcell yang notebene adalah kekasihnya sendiri.


Hubungan diam-diam yang mereka ciptakan membuat percintaan mereka terasa lebih menantang. Apalagi Arga yang memiliki libi** yang besar sangat bahagia mendapatkan Vanya yang bisa mengimbangi permainannya.


Era**** dan desa*** mulai kembali terdengar di dalam kamar mewah itu. Baik Arga dan Vanya sama saling bergerak liar demi mencapai tujuan yang mereka inginkan.


Tak puas dengan posisi itu, Arga segera membalik tubuh Vanya dan mengangkatnya sambil memasukkan kembali miliknya.

__ADS_1


Menggendong sambil kembali menghentak tubuh Vanya membuat Arga semakin bersemangat, apalagi melihat wajah Vanya yang sudah memerah karena terbakar api gelora cinta mereka.


''Oh, God. Ini sangat nikmat sekali, baby.'' ucap Arga yang sangat candu dengan tubuh Vanya. Dengan Vanya ia merasakan miliknya yang terasa terjepit dengan kuat.


''Lebih dalam, Honey,'' pinta Vanya yang seketika membuat geram Arga. Tentu ucapan yang dilontarkan Vanya kepadanya membuat Arga semakin terbakar.


Dengan cepat ia membawa tubuh Vanya kembali menuju ranjang dan memulai permainan panasnya yang sebenarnya.


''Seperti ini, baby? huh?'' tanya Arga sambil berulangkali menghentak keras dan dalam.


''Yah, seperti itu. Eugh ... I like it, Honey.'' sahut Vanya dengan suara tak kalah merdunya.


Bahkan tak jarang ia dibuat menjerit akibat hentakan keras Arga yang mencapai titik terdalamnya.


''Fu**. Tubuhmu canduku, baby. Sh**. Eugh,'' teriak Arga sambil terus mengaduk-aduk tubuh Vanya. Saat dirinya mulai merasakan hampir sampai, dengan cepat ia membalik tubuh Vanya hingga membelakanginya.


Dibawanya tubuh Vanya hingga ke pinggir ranjang, kakinya menjuntai kelantai, namun kepalanya di tekan di ranjang sambil kedua tangan Vanya berada di atas kepalanya. Arga mulai kembali memasukinya dan menyerangnya dengan sangat keras dan cepat hingga menimbulkan suara penyatuan mereka yang sangat nyaring ditelinga.


Tangan kiri Arga menggenggam kedua tangan Vanya yang ada diatas kepala, sedang tangan kanannya memegang pundak kanan Vanya. Arga menambah kecepatannya saat gelombang kenikmatannya akan datang.


''Hon, aku..'' ucap Vanya terputus saat mendengar suara Arga yang menyahutinya.


''Together, baby.'' sahut Arga sambil terus menerus mengaduk dan menekan kuat-kuat tubuh molek Vanya yang kini sudah bermandikan keringat sama seperti tubuhnya.


*Akh ...


Eungh* ...


Kedua insan itu sama-sama berteriak ketika gelombang cinta mereka terlepas dan tersalurkan. Tubuh saling menegang sampai bergetar hebat bersamaan hingga kemudian keduanya ambruk dengan posisi Arga masih diatas punggung Vanya. Bahkan tubuh keduanya masih saling menyatu.


*Hosh


Hosh*


Deru napas keduanya saling memburu, namun mereka saling tersenyum penuh kemenangan saat sama-sama mencapai puncak nirwana cinta mereka.


"I love you, baby."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2