
Alam Mimpi Avril
Sejak melihat seberkas sinar yang ada di ujung jalan sana, Avril dengan sekuat tenaga terus melangkahkan kakinya menyusuri jalanan.
'Mom, Ella pulang, Mom. Buka mata Mommy, Ella ingin merasakan pelukan Mommy'
'Bangun, Sayang. Malaikat kecil yang selama ini kita rindukan kini telah berada di sini. Bukankah dulu kamu ingin membuatkannya baju dari hasil rajutan tanganmu sendiri? Ayo bangun, Sayang. Realisasikan keinginanmu itu,'
Sambil berjalan, Avril terus mendengar suara-suara yang berasal dari putri dan suaminya itu. Bahkan kini Avril berjalan dengan deraian air matanya yang tak mampu ia bendung lagi. Ia semakin bersemangat demi untuk bisa berkumpul kembali dengan keluarga tercintanya.
''Tunggu Mommy, Sayang. Mommy akan segera datang dan memelukmu," meski Avril merasakan pegal dikedua kakinya, tapi ia tak menghiraukannya. Ia terus memaksakan kakinya melangkah menuju sinar cahaya yang kini terlihat kian dekat.
'Ella sangat mencintaimu, Mom. Sangat mencintaimu dan juga merindukanmu,'
Semakin berkorbar kini semangat Avril kala mendengar ungkapan cinta bercampur rindu dari putri kecilnya itu. Dengan mengepalkan kedua tangannya, Avril mencoba mempercepat jalannya hingga kini ia bisa berlarian disana. Seakan mendapatkan tambahan tenaga, Avril terus membawa dirinya mendatangi ujung jalan tersebut.
tes
Meski di alam bawah sadar, tapi Avril bisa merasakan dan mendengar apa yang terjadi di sekitarnya. Semakin lama sinar itu semakin dekat, semakin dekat, hingga membuat kedua sudut bibir Avril terangkat.
''Mommy datang, Sayang. Mommy datang,'' teriak Avril disela-sela ia berlarian di sana.
Setelah berlarian tanpa henti, kini Avril bisa melihat sebuah pintu yang ada di tengah-tengah sinar cahaya yang menyilaukan mata tersebut. Tangis bahagia dialami oleh Avril saat melihat pintu emas itu yang seakan menyambut kedatangannya di sana.
'Ayo, Ell. Biarkan Mommy istirahat,'
'Ella pergi dulu, Mom. Mommy istirahat saja ya? Ella sangat menyayangi Mommy,'
Mendengar suara Vanya (Ella) yang ingin meninggalkan dirinya, membuat Avril menggila. Ia menambah kecepatan larinya hingga membuatnya kini bisa meraih gagang pintu itu.
"Ah,"
Kedua mata Avril tertutup seketika saat ia memutar handle pintu tersebut, cahaya yang mengelilingi pintu itu semakin bercahaya terang hingga membuat Avril merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya.
Avril merasakan seperti dihempaskan dengan sangat keras. Tubuh Avril seakan lemah tak berdaya, tak seperti beberapa saat yang lalu saat ia masih berlarian menuju cahaya.
Karena Avril terlalu merindukan putri kecilnya, membuat bibirnya menyebutkan namanya.
''E-ella,"
__ADS_1
"El-ella,"
Tanpa ia sadari, Avril telah berhasil keluar dari alam bawah sadarnya. Suaranya yang memanggil Vanya (Ella) seketika membuat sang pemilik nama dan belahan jiwanya terkejut bukan main.
...----------------...
Perlahan Vanya (Ella) berjalan menuju tubuh sang Mommy. Kedua matanya kini sudah meneteskan air matanya. Seakan tak percaya, Vanya (Ella) melihat wanita cantik itu tengah tertidur pulas sepanjang hidupnya.
Leon menuntun Vanya (Ella) untuk duduk di kursi yang disediakan di samping ranjang itu. Setelah duduk, Vanya (Ella) mengangkat kedua tangannya meraih tangan pucat milik Avril. Sentuhan lembut dan usapan pada punggung tangan Avril membuat tangis Vanya (Ella) tak terbendung lagi.
*Hiks
Hiks
Hiks*
''Mom, Ella pulang, Mom. Buka mata Mommy, Ella ingin merasakan pelukan Mommy,'' mohon Vanya (Ella) pada sang Mommy.
Vanya (Ella) pun memberikan ciuman-ciuman kecil pada punggung tangan itu.
Chris dan Leon yang berada di sana juga ikut larut dalam kesedihan Vanya (Ella). Dengan sigap Leon memeluk tubuh sang adik dari belakang saat merasakan Vanya (Ella) kian larut dalam tangisnya hingga tersendat-sendat.
''Kuatkan dirimu, baby. Kendalikan perasaanmu. Mommy pasti bisa mendengar suara dan tangismu,'' lirih Leon. Ia berbisik di telinga Vanya (Ella) sambil mengelus puncak kepala sang adik.
*cup
cup
cup*
Vanya (Ella) perlahan bangkit dari duduknya dan mendekatkan wajahnya ke wajah mommy-nya. Kemudian Vanya (Ella) memberikan kecupan-kecupan pada dahi, kedua mata Avril, dan kedua pipinya. Bahkan setetes air mata Vanya (Ella) jatuh mengenai pipi kiri sang Mommy.
''Ella sangat mencintaimu, Mom. Sangat mencintaimu dan juga merindukanmu,'' bisik Vanya (Ella) tepat di telinga Avril.
Chris yang tak mau Ella terlalu lama menangis, ia pun mengajak Leon dan juga Ella pergi meninggalkan kamar itu.
''Ayo, Ell. Biarkan Mommy istirahat,'' ajak Chris sambil memegang kedua bahu Vanya (Ella). Memberikan sebuah remasan disana, menyalurkan rasa tenangnya pada sang putri.
Vanya (Ella) hanya bisa menganggukkan kepalanya, menurut apa kata sang Daddy.
__ADS_1
Vanya (Ella) berdiri dari duduknya, membungkukkan badannya kearah wajah cantik mommy-nya.
''Ella pergi dulu, Mom. Mommy istirahat saja ya? Ella sangat menyayangi Mommy,'' bisik Vanya (Ella) seraya kembali memberikan sebuah kecupan di kening Avril.
Leon berjalan lebih dulu keluar dari sana. Dibelakangnya ada Chris yang merangkul tubuh Vanya (Ella) dari samping kiri.
Saat Vanya (Ella) berbalik dan hendak melangkah meninggalkan tempat itu, ia merasakan sesuatu pada jemari tangannya. Seketika ia terhenti, membeku di tempat. Chris yang menyadari hal itu ikut berhenti dan menatap ke arah Vanya (Ella).
''Ada apa, Sayang?'' tanya Chris pada Vanya (Ella) yang masih belum beranjak.
deg
Vanya (Ella) semakin dibuat deg-degan saat merasakan jemari tangan lain yang menyentuh dan memegang tangan kanannya.
''E-ella'' terdengar lirihan dari arah belakang Vanya (Ella) dan Chris.
Bahkan Chris juga dibuat tersentak mendengar suara itu. Meski lirih, tapi karena kondisi kamar tersebut hening sehingga membuat keduanya mendengar suara itu.
''El-ella?'' lagi. Vanya (Ella) kini yakin dengan apa yang ia dengar tersebut.
Dengan cepat wanita itu berbalik ke arah sang Mommy.
Betapa terkejutnya saat melihat jemari tangan kiri mommy-nya tengah memegang tangan kanannya. Ditambah suara lirih yang juga berasal dari mulut wanita itu semakin membuat Vanya (Ella) tersentak.
''Ho-honey?''
''Mom-mommy?''
Chris dan Vanya (Ella) seketika seperti kehilangan kendali pada tubuh keduanya.
Leon yang menyadari ada yang aneh dengan Daddy dan adiknya seketika mendekat ke arah keduanya. Namun setibanya disana, kedua mata Leon melotot melihat pemandangan di depannya. Tak pikir panjang, laki-laki itu berbalik dan berlarian menuju arah pintu kamar tersebut.
Tak beberapa lama kemudian terlihat Leon datang beserta dua orang dokter dan juga dua perawatnya. Dokter itu menyuruh Leon untuk membawa Chris dan Vanya (Ella) pergi meninggalkan kamar itu. Meski berat, tapi Chris mematuhi perintah sang dokter yang telah menangani istrinya selama sepuluh tahun terakhir.
Diluar kamar Chris, Leon, dan Vanya (Ella) tak ada yang bicara. Ketiganya larut dalam pikiran mereka masing-masing. Bahkan Chris dan Leon saat ini tengah berjalan mondar-mandir disana demi mencoba menenangkan diri keduanya.
Tak beberapa lama kemudian terlihat pintunl kamar tersebut terbuka, menampilkan kedua dokter dengan raut wajah yang tak bisa mereka artikan.
''Bagaimana, dokter?'' tanya Chris yang tak sabar menanti ucapan sang dokter.
__ADS_1
''Begini, Tuan....''
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...