Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 106 Sebuah cahaya


__ADS_3

Disebuah kamar mewah, terlihat seorang wanita cantik terbaring lemah dengan berbagai selang dan alat bantu untuk menunjang hidupnya. Tak ada siapapun yang menemaninya disana.


tit tit tit


Suara monitor detak jantung yang terdengar di dalam kamar tersebut. Wanita itu telah tidur selama puluhan tahun lamanya. Ia menjelma menjadi putri tidur yang sesungguhnya di dunia nyata. Seakan tak peduli dengan hidupnya, wanita itu memilih untuk tidur daripada menatap indahnya dunia.


ceklek


Suara pintu kamarnya terbuka, terlihat seorang laki-laki gagah datang dan menghampiri putri tidur tersebut. Meski umurnya tak lagi muda, tapi laki-laki itu masih tampan dan berwibawa. Laki-laki itu kemudian duduk di kursi yang ada disebelah kiri tubuh wanita itu.


''Baby, kamu pasti akan senang sebentar lagi. Putri kita - Ella sudah ketemu. Leon akan membawanya kemari, kita akan berkumpul bersama-sama,'' ucap laki-laki paruh baya yang tak lain adalah Christofer Nerotouw. Saat ini ia tengah bicara dengan istri tercintanya - Avril Anargya. Meski Avril koma, tapi Chris senantiasa mengajaknya berbicara. Ia yakin di alam bawah sadarnya, Avril mendengarkan semua apa yang dibicarakannya.


''Bangunlah dari tidurmu, baby. Kamu sudah terlalu lama tidur dan tak menghiraukan aku sama sekali. Belum puas kah kamu menghukum ku selama ini, hm? Kalau belum, bangunlah dan pukul aku sepuas mu, Sayang. Aku akan menerimanya dengan senang hati. Namun meski begitu aku tak pernah meninggalkanmu, baby. Aku sangat mencintaimu,'' ujarnya sambil mengelus punggung tangan Avril yang berada di atas perutnya.


Meski Avril koma, tapi tubuhnya hingga kini masih terawat. Chris menyewa dua orang perawat wanita untuk menemani Avril disaat dirinya tidak berada di rumah. Dulunya kamar mereka ada di lantai atas, tapi selama koma Avril menempati kamar tamu yang ada di lantai bawah.


Chris memilih untuk mengalah menemani Avril disaat malam, setelah pagi menjelang ia akan kembali ke kamar mereka untuk mulai beraktivitas. Chris tak mau jika kamar mereka dimasuki oleh orang lain selain keluarganya sendiri. Oleh sebab itu, Chris menempatkan Avril disana.


''Kata Leon, mereka akan tiba nanti malam, Sayang. Hari ini aku akan ke kantor mengerjakan beberapa pekerjaan. Setelah selesai aku akan pulang dan kita akan berkumpul bersama. Okay?'' hanya suara Chris yang memenuhi dalam kamar tersebut. Namun ia tak ambil pusing, ia tetap saja terus berbicara seolah-olah dirinya dan Avril tengah mengobrol seperti saat Avril masih sadar dulu.


''Kalau begitu, aku berangkat dulu ya? Cepatlah bangun, Sayang. I love you so much, my love.'' ucap Chris seraya memberikan sebuah kecupan di kening wanita tercintanya itu. Setelah itu Chris beranjak dari sana dan pergi dari kamar itu.


ceklek


Chris sudah pergi dari sana. Tanpa ada yang tahu ada pergerakan dari jari jemari Avril. Kedua kelopak matanya yang masih tertutup kini terlihat bergerak ke kanan dan kiri.


Dalam mimpinya, Avril menemukan sebuah pintu yang selama ini ia cari. Ia terjebak di dalam sebuah tempat yang tak pernah ia tahu dimana. Selama ini ia hanya berjalan tak tentu arah dalam sana. Avril pun juga mendengar setiap perkataan yang dikatakan oleh suaminya itu. Tapi sekedar untuk menjawab atau mengangguk ia tak mampu.

__ADS_1


Meski di dalam mimpinya ia berteriak sekuat tenaganya, tapi tak bisa terdengar oleh orang lain yang ada di dunia nyata. Kadang ia merasa putus asa dengan hidupnya yang telah lama mati. Tapi lagi-lagi suaminya selalu menguatkannya. Chris selalu memberikan semangat padanya, kata-kata cinta yang selalu terucap dari bibirnya membuat Avril terus memupuk semangat yang kian menipis dalam dirinya.


'Aku harus semangat. Aku tak boleh menyerah seperti ini. Aku harus menemukan jalan keluar untuk bisa keluar dari sini. Aku sangat merindukan suami dan anakku. Ayo semangat, Avril. Kamu bukan wanita lemah lagi, kamu punya suami yang sangat mencintaimu dan juga anakmu yang telah lama menanti kembalinya dirimu. Semangat, Avril. Semangat,'


Dengan sekuat tenaga Avril berjuang di dalam mimpinya. Berjalan sepanjang jalan hingga kedua matanya menangkap sebuah cahaya yang berada jauh di ujung sana.


'Itukah pintu keluar dari sini? Bisakah aku kembali melalui itu? Aku harus cepat kesana, seluruh keluarga ku sudah menunggu kepulangan ku.' batin Avril dengan semangat yang menggebu-gebu.


Kembali di Indonesia


Setelah melalui perjalanan selama hampir satu jam lamanya, mobil yang ditumpangi oleh Vanya dan Leon beserta anak buahnya kini sudah sampai di kawasan bandara internasional Soekarno-Hatta.


Mereka melewati proses demi proses untuk bisa masuk ke dalam pesawat pribadi milik Leon. Vanya yang baru kali ini melihat dengan jelas pesawat pribadi seperti itu hanya bisa menganga.


''I-ini punya siapa, Kak?'' tanya Vanya saat mereka sudah berada di dalam pesawat tersebut.






Kedua mata Vanya sesekali masih mengedar memandangi setiap kemewahan yang terpampang nyata di sana.


Tak bisa ia bayangkan berapa jumlah nol yang ada di belakang nominal harga dari pesawat pribadi ini.

__ADS_1


'Sangat mewah. Apakah aku memang berasal dari keluarga yang sangat kaya raya?' pikir Vanya dalam hati.


Tak beberapa lama kemudian pesawat Bombardier Global 7000 yang ditumpangi mereka lepas landas. Vanya sangat menikmati waktunya saat ini. Meski dalam hatinya yang terdalam masih ada secuil rasa yang tertinggal di negara yang telah membesarkan nya itu. Tanpa ia sadari Leon memperhatikannya. Meski pandangan mata Vanya melihat ke arah luar jendela pesawat, tapi kosong. Vanya tengah melamunkan sesuatu yang hingga membuatnya tak mendengar kala suara Kakaknya memanggil namanya.


'Apa yang kau pikirkan, baby? Apa kau tidak senang kita akhirnya bisa bersatu kembali, hm? Meski senyummu nyata, tapi aku tahu dalam hatimu tak sebahagia raut wajahmu.' batin Leon saat melihat adik perempuannya yang duduk di depannya itu.


Disaat Leon tengah sibuk memperhatikan Vanya, Vanya justru sibuk dengan lamunannya sambil menatap jauh ke luar jendela.


''Excuse me, Sir. Apa anda membutuhkan sesuatu?'' seorang pramugari cantik mendatangi Leon. Membuat laki-laki itu mengalihkan pandangannya dari Vanya.


Vanya yang mendengar ucapan kedua orang itu seketika ikut tersadar. Ia pun kemudian ikut memesan minuman pada pramugari tersebut.


''Ell?'' panggil Leon. Vanya mendongak mendengar suara Kakaknya.


''Ya?''


''Are you happy, right now?'' tanya Leon. Vanya yang mendengar pertanyaan itu seketika mengeryitkan dahinya.


''Tentu. Ada apa, Kak? Kenapa Kakak bertanya seperti itu padaku?'' kini Vanya berganti bertanya kepada Leon. Tampak laki-laki itu menggeleng sambil tersenyum tipis.


''Tidak ada. Hanya memastikan saja, baby. Jangan pikirkan yang lain, saat ini fokuslah dengan kesembuhan hati dan ragamu. Kita akan segera berkumpul menjadi satu keluarga yang utuh,'' ucap Leon pada Vanya. Meski Vanya tak begitu mengerti akan maksud perkataan sang Kakak, tapi Vanya tetap tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


''Iya, Kak. Tak ada yang penting bagiku saat ini selain bertemu dan bersama Kakak, Daddy, dan Mommy.'' sahut Vanya seraya tersenyum manis pada Leon. Terlihat Leon ikut tersenyum lalu mengangguk.


Setelah beberapa saat kemudian, Leon mengajak Brian yang juga duduk bersama mereka untuk pergi menuju ruangan yang lebih private dengan meja besar di sana. Keduanya tengah membicarakan tentang bisnis mereka, meninggalkan Vanya yang masih setia duduk dan kembali pada lamunannya.


'Selamat tinggal, semuanya. Jika memang ada kesempatan, aku akan kembali mengunjungi kalian semua. Terutama kamu, Ar. Aku percaya jika memang kita jodoh pasti akan bertemu kembali,'

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2