Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 74 Menyusul Vanya


__ADS_3

Beberapa jam yang lalu


Wijaya group


''Apa pekerjaan ku setelah ini?'' tanya Arga kepada asistennya. Saat ini keduanya berada di dalam ruangan kerja milik Arga setelah menghadiri meeting bersama salah satu clien yang berasal dari luar kota sekaligus makan siang.


''Nanti pukul dua kita ada rapat umum bersama para manager dari semua bagian, Tuan. Selain itu hanya mengecek berkas-berkas yang membutuhkan tandatangan Tuan saja. Berkas-berkas nya sudah saya siapkan, Tuan.''ucap Dinda menjelaskan pekerjaan Arga.


Arga menganggukkan kepala.


''Hm, masih ada sekitar satu jam. Berikan berkas-berkas itu padaku sekarang,'' titah Arga.


''Baik, Tuan. Akan saya ambilkan.'' ucap Dinda. Lalu ia segera mengambilkan berkas-berkas yang ia telah siapkan di meja kerjanya.


''Ini, Tuan.'' ucap Dinda seraya meletakkan berkas-berkas tersebut.


''Thanks, Din. O iya, setelah ini tidak ada pekerjaan yang penting kan?'' tanya Arga.


''Tidak ada, Tuan.'' jawab Dinda.


''Bagus. Bagaimana dengan pesawatku?'' tanya Arga.


''Sudah saya siapkan nanti pukul lima sore, Tuan.'' jawab Dinda. Arga memerintahkan Dinda untuk menyiapkan keberangkatan dirinya menyusul wanitanya hari ini. Sengaja Arga tak memberitahu Vanya karena ingin memberinya kejutan. Padahal tadi siang ia berkata pada Vanya jika ia akan menyusul Vanya lusa.


''Bagus. Aku akan disana selama seminggu. Tolong handle semua pekerjaan. Nanti akan ada bonus untukmu, Din. Dan jangan sampai si tua itu tahu aktivitas ku,'' tegas Arga kepada Dinda.


''Baik, Tuan. Tapi kalau untuk masalah Tuan besar, saya tidak bisa memastikannya, Tuan. Mungkin saya hanya bisa berkata jika Tuan ada pekerjaan di luar kota. Bagaimana, Tuan?'' tanya Dinda memberi usul.


Arga yang mendengar usulan dari asistennya itu hanya bisa menganggukkan kepala. Ia juga tahu bagaimana peringai Papanya yang selalu tahu apapun yang ia kerjakan. Ia hanya berdoa semoga kali ini Papanya itu tidak mengetahui hubungannya dengan Vanya. Setidaknya jangan sekarang, mengingat hubungan keduanya masihlah rumit.


''Baiklah, kalau begitu. Sudah kamu selidiki dimana hotelnya?'' tanya Arga.


''Sudah, Tuan. Saya juga sudah memesankan satu kamar untuk Tuan,'' jawab Dinda. Arga tampak tersenyum puas mendengar ucapan sang asisten yang selalu tanggap dan cepat menjalankan segala perintahnya.


''Kamu tahu jam berapa dia biasanya pulang? Aku ingin memberikannya sebuah kejutan,'' tanya Arga.


''Sesuai pengamatan anak buah saya yang ada di sana, Nona Vanya pulang pukul enam, Tuan.'' ucap Dinda.


''Good job, Dinda. Kamu memang selalu bisa aku andalkan,'' ucap Arga memuji kinerja asistennya.

__ADS_1


''Terimakasih, Tuan.'' ucap Dinda sambil sedikit membungkukkan badan.


''Baiklah, kembalilah bekerja, Dinda. Kita tuntaskan pekerjaan kita hari ini.'' ucap Arga sambil meregangkan otot-otot badannya.


''Baik, Tuan.'' jawab Dinda. Lalu ia pun segera undur diri dari ruangan itu.


detik demi detik berlalu. Tak terasa kini waktu sudah menunjukkan pukul empat lebih tiga puluh menit. Arga pun sudah keluar dari ruangan meeting diikuti oleh seluruh karyawannya.


''Ikut aku ke ruangan, Din. Ambil berkas-berkas tadi. Sebagian yang penting sudah aku selesaikan. Untuk sebagian belum. Kau saja yang menyelesaikannya.'' ucap Arga sambil berjalan cepat di lorong perusahaannya.


Dinda di belakang juga mengikuti langkah besarnya. Untung wanita beranak dua itu menggunakan setelan celana, membuatnya begitu mudah dalam melangkah.


''Baik, Tuan.'' jawab Dinda.


Ting


Pintu lift terbuka dan kedua orang penting itu segera memasukinya.


Ting


Lift terbuka kembali. Dinda masih setia mengikuti langkah Arga hingga memasuki ruangannya.


''Baik, Tuan.'' Tak perlu menunggu waktu lama lagi, Dinda bergegas mengambil tumpukan berkas itu dan membawanya keluar dari ruangan atasannya. Ia mengecek kembali berkas-berkas tersebut sebelum menyimpannya di dalam rak.


tring


Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel milik Dinda. wanita itu segera mengambilnya dan membuka isi pesan itu.


Ia melihat nama mata-matanya yang ia kirim untuk mengawasi Vanya di negara Singapura.


Kedua mata Dinda terbelalak saat melihat Vanya berinteraksi dengan lawan modelnya dalam pemotretan kali ini. Dinda yang melihatnya hanya bisa menghela napasnya.


''Bagus. Untung saja Nona Vanya menolak ajakan laki-laki itu. Kalau tidak, aku tak tahu apa yang akan dilakukan oleh Singa Gila itu jika mengetahuinya,'' ucap Dinda sambil meletakkan kembali ponselnya.


''Mengetahui apa?'' suara berat milik Arga mengagetkan Dinda. Bahkan Dinda sampai mengelus dadanya melihat kedatangan Arga yang tiba-tiba.


''Ti-tidak ada apa-apa, Tuan.'' ucap Dinda sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya. Mata Arga menyipit, ia tahu jika asistennya tersebut tengah menyembunyikan sesuatu darinya.


''Ck, aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku, Dinda. Bicaralah atau ...'' belum sempat Arga meneruskan ucapannya, Didna segera beranjak dari tempat duduknya dan memperlihatkan ponsel miliknya.

__ADS_1


'I-iya, Tuan. I-ini. Tadi saya mendapatkan informasi dari anak buah saya jika Nona Vanya menolak ajakan dinner Tuan Jonathan Crush.'' ucap Dinda menjelaskan.


Arga mengambil ponsel itu dan mengamati foto yang ada di sana. Senyumnya menyeringai saat melihatnya.


''Kirimkan foto itu ke nomorku.'' ucap Arga.


''Baik, Tuan. ''Setelah mendengar ucapan tersebut, Arga segera pergi meninggalkan perusahaan menuju ke rooftop perusahannya yang sudah ada helikopter yang saat ini menunggunya.


Perjalanan Arga sangat lancar. Ia tiba di sana pukul enam lebih sepuluh menit. Orang suruhan Dinda juga sudah datang menjemput Arga di bandara.


''Langsung menuju ke hotel atau mau kemana dulu, Tuan?'' tanya laki-laki yang menjadi sopir pribadi Arga selama berada di sana.


''Langaung hotel aja,'' ucap Arga sambil menyandarkan tubuhnya.


''Baik, Tuan.''


Mobil itu pun segera melaju membelah kota yang menjadi pusat icon dari negara tersebut. Hanya perlu waktu sekitar dua puluh menit, mobil itu kini sudah memasuki area pelataran sebuah hotel berbintang, tempat menginap Vanya dan juga dua asistennya.


''Sudah sampai, Tuan.'' ucap sopir.


''Hm,'' sahut Arga. Lalu ia segera turun dari mobil tersebut.


Arga memasuki pintu utama hotel tersebut dan menuju ke meja resepsionis.


''Ada yang bisa kamu bantu, Tuan?'' tanya salah satu resepsionis.


''Kamar atas nama Arga Wijaya,'' jawab Arga.


'' Ini, Tuan.'' ucap resepsionis sambil memberikan sebuah kartu akses kamar kepada Arga. Setelah mendapatkan kartu tersebut, Arga segera meninggalkan meja itu. Namun belum juga melangkah jauh, ia teringat sesuatu. Kemudian ia berbalik ke meja resepsionis lagi.


''Bisa kalian kasih tahu dimana kamar milik Vanya Avriella?'' tanya Arga. Kedua wanita resepsionis itu terlihat saling pandang sebelum akhirnya menjawab pertanyaan itu.


''Maaf, Tuan. Kami tidak bisa memberitahukan kamar pelanggan kami sembarangan. Namun jika Anda memang mengenal beliau, Anda bisa menunggunya di sana. Saat ini Nona Vanya belum kembali,'' ucap salah satu resepsionis sambil menunjuk ke arah kursi tunggu yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


''Baiklah,'' jawab Arga lalu ia meninggalkan tempat itu.


''Aku tunggu saja dia disini. Kita lihat bagaimana wajah terkejutmu melihat kedatanganku, baby.''


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2