
Vanya akhirnya bertemu dengan adik-adiknya yang berada di panti asuhan Pelita Kasih. Raut wajah semuanya terlihat sangat bahagia menyambut kedatangan sang pahlawan mereka. Bagi penghuni panti, Vanya merupakan sosok pahlawan mereka yang selalu berdiri di depan mereka dan selalu berada di samping mereka dikala susah dan senang.
Setelah membagikan seluruh barang bawaannya, kini Vanya duduk di gazebo belakang rumah panti bersama ibu-ibu pengurus panti. Mereka tengah menikmati waktu mereka sambil melihat anak-anak panti yang tengah bermain bersama di halaman.
Tawa anak-anak yang sedang bermain itu lantas menular kepada Vanya. Tanpa ia sadari ia turut menyunggingkan senyumnya kala melihat adik-adiknya bahagia.
"Apa kau bahagia, sayang?" tanya Bu Meri - pemilik panti asuhan tersebut. Ia bertanya sambil mengelus punggung tangan Vanya yang saat ini tengah duduk disampingnya.
Vanya yang mendengarnya tersenyum tipis lalu mencium punggung tangan Bu Meri.
"Bahagia, Bu. Kenapa Ibu menanyakan itu?" tanya Vanya heran lalu ia menyandarkan kepalanya di bahu sang Ibu.
"Tidak apa-apa, Nak. Ibu hanya berpikir entah mengapa saat Ibu melihat wajahmu, Ibu seperti kehilangan Anya Ibu yang dulu." ungkap Bu Meri sambil merangkul pundak Vanya.
Seketika Vanya menahan napas kala mendengar penuturan dari wanita paruh baya tersebut.
"Ma-maksud Ibu apa? Anya tidak mengerti," ucap Vanya berusaha bohong. Ia merasa kalau Bu Meri menyadari perasaannya.
'Apa Ibu merasakan apa yang aku rasakan? Ibu Meri merupakan sosok Ibu yang selalu ada buatku. Bahkan jika sesuatu terjadi padaku, Bu Meri pasti juga merasakannya. Sebegitu kuatnya ikatan batin yang terjalin diantara kami berdua.' batin Vanya sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
"Kamu tahu, Nak. Hati seorang Ibu pasti selalu peka terhadap apa yang dirasakan oleh anaknya. Walau kamu bukan anak kandung Ibu, tapi Ibu-lah yang merawat kamu dari kamu masih bayi hingga dewasa.
Ibu hanya ingin bilang, lakukan apa yang bisa membuatmu bahagia, Nak. Tinggalkan apa yang menurutmu itu tidak membahagiakanmu. Jika sekiranya kamu lelah dengan pekerjaanmu, ambillah cuti beberapa hari. Perhatikan dirimu sendiri, sayang. Jangan terlalu memforsir diri, mulailah turuti apa kata hatimu. Sebenarnya kebahagiaan diri sendiri adalah prioritas utama dalam hidup. Walau sebanyak apapun yang kamu miliki di dunia ini, tapi kamu tidak bahagia atasnya, bagaimana kamu bisa menikmati hidup, sayang ? Kamu mengerti kan, maksud Ibu?" ucap Bu Meri panjang lebar kepada Vanya.
"Anya mengerti, Bu." sahut Vanya sambil memberikan sebuah kecupan di pipi Bu Meri. Sungguh, ia sangat berterima kasih kepada Tuhan sudah mempertemukan dirinya dengan Bu Meri. Sosok penyayang serta pelindung bagi Vanya.
di tempat lain
"Fakta apaan? tanya Arga.
"Loe tahu dari mana?'' tanya Arga. Ia sedikit tertarik dengan pembahasan kali ini.
"Gue mendapat informasi dari Raymond, kenalan gue yang kebetulan berteman dengan Jo," ucap Alvin. Arga menyunggingkan senyum seringainya mendengar fakta tersebut.
"Bagaimana? Apa kita harus datang ?" tanya Alvin.
"Of course, kita tidak mungkin mengecewakannya, Bukan? Dia sudah ngundang kita, dan sedang kewajiban kita untuk memenuhi undangan itu. Lagipula gue mau lihat, ada maksud apa dia datang kemari? Sangat mencurigakan,'' ucap Arga.
__ADS_1
"Em, baiklah kalau begitu. Nanti satu mobil saja sama gue," ucap Alvin yang kemudian diangguki oleh Arga.
"Hm,"
Lalu keduanya tampak mengobrol santai menikmati weekend mereka. Alvin yang merupakan seorang dokter di salah satu rumah sakit milik keluarga besarnya, hari ini memang dirinya bebas tugas. Sehingga ia bisa menikmati weekend nya bersama sang sahabat.
*drrrtt
drrrtt
drrrtt
Kedua manusia itu tampak menoleh ke arah meja yang terdapat ponsel milik Arga. Alvin dan Arga sama-sama mengeryitkan dahinya.
Entah apa yang dipikirkan oleh kedua orang itu melihat sebuah nama yang terpampang jelas di layar pipih milik Arga.
"Halo, Pa?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1