Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 53 Aku belum siap,


__ADS_3

Ah


Arga menghempaskan tubuh Vanya di ranjang miliknya. Dengan cepat Arga membuka jas yang dipakainya, dilemparkan jas itu ke sembarang arah. Ia menghampiri Vanya dan menin..dihnya.


Arga kembali Melu...mat bibir sek ...si itu dengan rakusnya. Vanya yang sudah hanyut dalam permainan itu, kini juga mulai membalasnya.


Sesapan demi sesapan keduanya lakukan bahkan terdengar nyaring ditelinga. Semakin lama ci...uman itu semakin membara,rambut keduanya hilang sudah kendali dalam tubuh mereka.


Tangan kekar Arga mulai bergerak dan merengkuh pinggang Vanya. Arga sudah berada di atas tubuh Vanya saat ini. Pikiran warasnya sudah hilang, hanya kepuasan yang kini jadi fokusnya. Apalagi melihat Vanya yang sekarang tampak membalas perasaannya.


Arga melepaskan ci... umannya. Bangun sejenak lalu membuka kemejanya dengan cepat, kemudian melemparkannya ke sembarang arah hingga terpampang lah tubuh kekar Arga yang terdapat beberapa tatto yang dimilikinya.


Gluk


Vanya meneguk ludahnya sendiri melihat pemandangan indah di depan matanya itu. Ia tak mau munafik, ia sangat terpesona karenanya. Bahkan pipinya memanas membayangkan hal-hal kotor dengan otaknya.


Arga kembali Melu . mat bibir Vanya dan tentu Vanya juga membalasnya tak kalah panas. Perlahan tangan Arga mulai meraba kemeja yang dikenakan oleh Vanya.


Ci...uman Arga kini bergerak kebawah menuju leher jenjang Vanya. Vanya mendongak, memberikan akses untuk Arga. Bahkan ia tak sadar jika tangan Arga mulai membuka kancing demi kancing kemeja putih yang ia kenakan itu.


eugh

__ADS_1


De..sah Vanya mulai terdengar di telinga Arga. Membuat Arga semakin bertambah naf..su melihatnya. Setelah semua kancing baju itu terbuka, Arga mendudukkan tubuh Vanya dan dengan gerakan cepat ia membalik posisi keduanya hingga kini Vanya berada di pangkuan Arga.


Arga menikmati ci.. umannya itu bahkan beberapa kali ia menyesap dalam-dalam kulit putih Vanya hingga terbentuklah bekas kemerahan disana.


Dengan cepat Arga membuka baju Vanya dan melemparkannya. Arga meraba punggung indah Vanya lalu tangan kekarnya mencapai pengait kain penutup kedua aset indah milik Vanya.


klek


Suara pengait yang terlepas, hingga membuat kedua aset itu seketika terlihat jelas dikedua mata Arga. Arga melepaskan ci..uman itu dan merasa takjub dengan bulatan penuh di depan matanya itu.


Vanya mengikuti arah pandang Arga. Seketika kedua matanya terbelalak melihat tubuh atasnya yang kini sudah tak tertutup lagi.


"So beautiful," ucap Arga lalu melu...mat kembali bibir Vanya. Arga mengambil tangan Vanya lalu meletakkannya melingkar di lehernya. Kemudian tangan kanannya mulai menyentuh kulit halus Vanya hingga berakhir di salah satu gundukan itu.


"Ah," de...sah Vanya kembali terdengar merdu saat tangan Arga mulai meremas miliknya. Lalu dengan cepat Arga melepaskan tautan mulut mereka beralih menuju puncak kiri yang kini sudah menegang itu.


Arga melahap rakus puncak itu sambil tangan kanannya yang kian kuat meremas sebelah kirinya. Kepala Vanya mendongak, mulutnya menganga, matanya terpejam menikmati semua permainan yang diciptakan oleh Arga padanya.


Arga membalik tubuh Vanya hingga kini berada dibawahnya. Tangan kiri Arga mulai menyentuh celana jeans yang dipakai Vanya. Membuka pengait dan resletingnya. Vanya seketika tersadar lalu mendorong tubuh Arga hingga membuat Arga menghentikan aktivitas nya.


''Jangan, Arga. A-aku masih belum siap,'' ucap Vanya yang merasa dirinya sudah ada angkat jauh dengan Arga. Arga yang tadinya sudah berada di pucuk seketika merasakan kepalanya pening karena has..ratnya tak berhasil terlampiaskan.

__ADS_1


Arga menyatukan keningnya dengan kening Vanya. Ia masih berusaha mengatur napasnya yang masih memburu saat ini. Ini pertama kalinya bagi Arga harus meredam kobaran bara naf..su yang tadinya memenuhi diri dan jiwanya.


''Baiklah. Untuk saat ini cukup sampai disini. Tidurlah, aku akan memelukmu,'' ucap Arga lalu mengecup kening dan bibir Vanya. Lalu ia beranjak dari sana dan berjalan menuju kamar mandi milik Vanya.


Vanya langsung menarik selimut tebalnya dan menutupi tubuhnya hingga mencapai lehernya. Ia membalikkan badannya memunggungi pintu kamar mandi.


''Ah, syukurlah. Untungnya Arga melepaskan ku,' batin Vanya yang tidak sampai kebablasan dengan Arga. Ia masih tak yakin dengan Arga, apalagi ia masih menjadi kekasih Marcell saat ini.


Kedua pipi Vanya memanas kembali saat pikirannya kembali teringat akan ci...umannya dengan Arga tadi. Ia tak mengelak jika ia lebih merasa membara dengan Arga daripada Marcell. Entahlah, mungkin karena sikap Marcell selama ini padanya. Membuat rasa cintanya pada Marcell kini sudah menghilang.


Kadang ia menginginkan sikap Marcell kembali halus padanya seperti saat keduanya masih tahap perkenalan dulu. Tapi kemudian Vanya tersadar jika Marcell-nya kini sudah berubah kala dirinya tahu jika ia bukanlah yang pertama untuk Vanya.


'Tapi itu juga bukan salahku dan Marcell tak mau mendengarkannya. Aku terlanjur sakit hati padamu, Marcell. Sakit sekali apalagi saat ia mulai bermain-main dengan para wanitanya dibelakang ku,' batin Vanya mengingat perjalanan cintanya dengan Marcell.


Lamunan Vanya buyar saat ia merasakan sebuah tangan yang melingkar di perut ratanya. Apalagi kecupan dari bibir dingin Arga di bahunya.


Cup


''Apa yang kamu pikirkan, honey?''


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2