
Sesampainya di lobi bandara, Vanya bisa melihat laki-laki tegap memakai kacamata hitam tengah berdiri sambil memegang ponselnya di telinganya. Meski posisinya membelakangi pintu bandara, tapi Vanya masih bisa mengenali pemilik dari tubuh tersebut.
Marcell. Vanya yakin jika laki-laki itu adalah Marcell, kekasihnya. Meski berat, tapi Vanya harus melangkah mendekatinya.
''Marcell?'' panggil Vanya.
Mendengar suara Vanya, seketika Marcell menoleh. Ia meletakkan telunjuk tangan kanannya di depan bibirnya, mengkode Vanya agar diam. Vanya hanya menganggukkan kepala melihatnya.
''Oke, Tuan. Kita bisa membicarakannya nanti saat kita bertemu.'' ucap Marcell kepada lawan bicaranya.
'' .... ''
''Baik, Tuan.'' setelah mengatakan itu, Marcell menjauhkan ponselnya tanda panggilan itu telah berakhir. Lalu ia berbalik sambil memasukkan ponselnya di saku jasnya.
''Sudah?'' tanya Vanya.
''Hm. Tuan Abraham dari Beautyglow ingin bertemu. Sepertinya akan ada kerjasama dengan pihaknya.'' jawab Marcell dengan wajah yang berbinar. Dihubungi oleh salah satu perusahaan besar di bidang kecantikan, tentu menjadi sebuah kesempatan emas bagi Marcell. Dan ia tak akan melewatkannya begitu saja.
''Benarkah?'' tanya Vanya sambil berjalan bersama Marcell menuju parkiran. Marcell juga mengambil alih koper milik Vanya.
''Hm. Bersiaplah, Mungkin mereka akan mengambil salah satu dari kalian untuk dijadikan brand ambassador produk mereka. Jangan lewatkan kesempatan ini, Vanya.'' sahut Marcell. Vanya hanya menganggukkan kepala mendengar ucapan dari sang kekasih.
Tanpa kedua sadari ada sepasang mata yang memperhatikan setiap langkah dan interaksi antara keduanya.
'Sial. Vanya lebih memilih pulang bersama nya daripada denganku,' geram Arga saat melihat Vanya yang pergi dengan Marcell.
Hatinya sangat kesal dan cemburu melihat bagaimana Marcell bisa menguasai Vanya sepenuhnya. Kedua tangan Arga sampai mengepal saat melihat mobil Marcell mulai berjalan meninggalkan tempat itu.
''Aku harus segera mulai bertindak. Ya, semakin cepat semakin baik,'' ucap Arga lalu ia bergegas meninggalkan area bandara.
''Kita makan dulu?'' tanya Vanya saat melihat Marcell membelokkan mobilnya di area parkir sebuah restoran.
''Ya. Aku belum sempat sarapan pagi tadi. Dikantor lagi sibuk,'' ucap Marcell. Vanya hanya mengangguk sambil mulai melepaskan seat belt nya.
__ADS_1
Setelah terparkir dengan rapi, keduanya pun segera memasuki restoran tersebut. Karena memang masih pagi, suasana dalam restoran itu nampak lengang. Vanya pun hanya mengikuti langkah Marcell saat laki-laki itu berjalan dan mengambil tempat duduk yang berada di dekat jendela sebelah kiri.
''Sepiring Croffle with honey sama secangkir coffe less sugar. Kamu apa, Nya?'' tanya Marcell saat ia selesai dengan pesanannya. Vanya tampak memilah-milah mana makanan yang ingin ia makan saat ini.
''Hm, sandwich satu sama hot tea satu,'' ucap Vanya akhirnya sambil menyerahkan buku menu kepada pegawai restoran tersebut.
''Baik, mohon di tunggu sebentar ya, Tuan, Nona. Saya permisi dulu,'' sahut pegawai perempuan itu dengan ramah. Setelah itu, pelayan tersebut segera pergi meninggalkan meja Vanya dan pergi ke belakang.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, Vanya dan Marcell berkutat dengan ponsel mereka masing-masing.
''O iya, bagaimana dengan keadaan Jonathan Crush?'' tanya Marcell pada Vanya.
''Lukanya gak parah. Hanya terserempet sedikit. Mobil yang satunya lebih parah. Aku sampai mendonorkan darah ku karena dia kehilangan banyak darah,'' ucap Vanya menceritakan kejadian di Singapura kemarin.
''Donor berapa kantong?'' tanya Marcell lagi.
Saat hendak menjawab, Vanya menundanya karena melihat seorang pelayan yang berjalan mendekati mejanya sambil membawa sebuah nampan.
Benar saja. Pelayan itu membawakan pesanan Vanya dan Marcell.
''Dua kantong.'' jawab Vanya santai sambil mencicipi teh panasnya. Marcell menatap ke arah Vanya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
''Bukankah itu terlalu banyak?'' tanya Marcell.
''Dia kehilangan banyak darah dan membutuhkan sedikitnya dua kantong. Sedangkan pihak keluarganya belum datang karena tengah berada di negara lain. Kalau tidak segera ditangani, dia bisa kehilangan nyawanya. Kebetulan saat itu aku mendengar percakapan seorang dokter dengan bawahannya. Makanya tanpa pikir panjang, aku menawarkan diri untuk menyumbangkan darahku untuk membantunya.'' jawab Vanya sambil mulai mengambil sepotong sandwich dan memakannya.
''Oh, tapi kamu gak papa? gak pusing?'' tanya Marcell.
''Hm, sempat pusing. Maka dari itu, aku menunda keberangkatan ku.'' jawab Vanya.
''Kalau begitu istirahatlah nanti setelah tiba di apartemen. Aku tak akan mengganggumu. Sebagai gantinya nanti malam aku akan datang.'' ucap Marcell. Vanya hanya diam mendengar ucapan dari Marcell. Ia tentu tahu apa maksud dari ucapan Marcell itu.
Setelah menikmati sarapan berdua, Marcell dan Vanya segera meninggalkan restoran tersebut. Beberapa menit kemudian keduanya sampai di lobi apartemen.
__ADS_1
''Turunlah,'' ucap Marcell setelah mobil itu berhenti sempurna.
''Hm. Hati-hati di jalan,'' sahut Vanya seraya bersiap untuk turun dari mobil.
Saat ia hendak membuka pintu mobil, tangannya ditarik oleh Marcell hingga berbalik menatapnya.
''Kenap...'' belum sempat Vanya meneruskan kalimatnya, Marcell lebih dulu membungkam mulut Vanya dengan mulutnya.
Vanya awalnya tersentak hingga beberapa detik kemudian ia pun membalas ciuman Marcell. Ciuman berlangsung hingga beberapa saat kemudian hingga Marcell melepaskan diri setelah merasa puas. Meski sebenarnya belum karena miliknya malah bereaksi karena ciuman itu.
''Pergilah,'' ucap Marcell. Vanya hanya menganggukkan kepala lalu benar-benar keluar dari dalam mobil. Setelah mobil Marcell pergi, Vanya melangkahkan kakinya memasuki lobi apartemen.
Namun baru beberapa langkah, tubuh Vanya terhenti. Ia membeku di tempatnya dengan tatapan mata membulat sempurna saat melihat seorang laki-laki yang tengah menatapnya dengan tatapan mata tajamnya.
glek
Vanya hanya bisa meneguk ludah kasarnya saat melihat wajah tampan laki-laki yang juga merupakan kekasihnya itu, meski statusnya hanya sembunyi-sembunyi.
''A-Arga ?''
Vanya seketika menunduk sambil berusaha mengatur detak jantungnya yang berdegup kencang saat ini. Perlahan ia berjalan mendekat, karena memang Arga tengah berdiri tepat seluruh dengan arah Vanya menuju lift.
''A-Arga? Ka-kamu ada di sini?'' tanya Vanya pada Arga setibanya di depan laki-laki itu, masih dengan menundukkan kepala.
''Kenapa? Terkejut melihat ku disini, hm?'' tanya Arga dengan nada menekannya. Vanya semakin dibuat takut mendengar suara dinginnya.
''Bu-bukan begitu. Ha-hanya sedikit terkejut,'' jawab Vanya. Arga tersenyum sinis mendengar ucapan dari Vanya. Arga memang mengendarai mobil miliknya menuju apartemen Vanya. Namun ia tak melihat mobil Marcell di parkiran. Itu artinya keduanya masih belum sampai.
Apalagi Arga sempat bertanya pada pihak keamanan apartemen mengecek kepulangan Vanya. Namun para penjaga apartemen berkata jika Vanya belum kembali. Oleh karena itu Arga memilih menunggunya. Menunggu wanita yang dicintainya itu selama hampir satu jam lamanya. Saat ia merasa lelah dan ingin naik ke atas, ia melihat sebuah mobil berhenti di depan lobi.
Arga seketika menahan amarahnya saat melihat Vanya yang berciuman mesra dengan Marcell di dalam mobil. Ia cemburu, bahkan membuat Vanya merasa sangat ketakutan saat melihat wajah garang yang tengah menatapnya tajam.
''Ikut aku,''
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...