Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 81 Siapa Vanya Avriella?


__ADS_3

Eugh


Suara lenguhan terdengar di dalam kamar perawatan sebuah rumah sakit xx yang ada di negara Singapura.


Seorang laki-laki berpakaian hijau tosca khas seragam pasien terlihat mengerjapkan kedua matanya. Perlahan-lahan bergerak lalu membuka memperlihatkan sepasang manik matanya yang berwarna hijau terang. Kedua alisnya berkerut menatap sekelilingnya hingga suara pintu kamar tersebut terbuka.


Ceklek


"Oh, God. Kamu sudah sadar, Son? Bagaimana keadaanmu?" suara berat seorang laki-laki menginterupsi laki-laki yang terbaring lemah itu.


''Daddy?'' ternyata Daddy-nya lah orang yang masuk itu. Laki-laki itu bisa melihat raut wajah sang Daddy melihat ke arahnya.


''Dimana aku, Dad? Kenapa Daddy ada di sini?'' tanya laki-laki itu. Ia berusaha mengingat-ingat sesuatu hingga ingatannya kembali pada saat ia pulang dari bertemu relasi bisnisnya yang kebetulan berada di negara tersebut. Namun di tengah perjalanan, rem mobilnya blong hingga membuatnya tak bisa menahan laju mobilnya yang terlanjur cepat hingga membuatnya menyerempet sebuah mobil lain dan menabrakkan mobilnya ke pembatas jalan.


''Are you okay, Leon?'' tanya Daddy kepada putranya yang saat ini tengah memegang kepalanya yang masih berbalut perban itu.


''It's okay, Dad. Don't worry, Okay? By the way, bagaimana dengan mobil yang aku tabrak, Dad?'' tanya laki-laki bernama Leon itu kepada sang Daddy.


''Tenang saja, Son. Daddy sudah mengurus semuanya. Daddy juga sudah mulai menyelidiki kecelakaan yang menimpamu kemarin. Em, Son. Apa Daddy boleh tanya sesuatu padamu?'' ucap Daddy kepada Leon. Terlihat jelas wajah pria yang sudah berumur itu tampak ragu dan gelisah. Leon tampak bingung namun juga penasaran dengan ekspresi yang diperlihatkan oleh Daddy-nya itu.

__ADS_1


''Ada apa, Dad? Apa ada hal yang serius menyangkut pengendara mobil itu? atau pada diriku?'' tanya Leon yang mulai merasa ada perasaan takut jika ada yang tak beres dengan dirinya ataupun pemilik mobil yang ia tabrak.


''No, bukan masalah itu, Son. Ini lain lagi,'' jawab Daddy Leon yang bernama Christofer Nerotouw tersebut.


''So? Apa, Dad? Langsung saja Dad, jangan buat aku jadi bingung.'' ucap Leon yang tak sabar dengan apa yang diucapkan oleh Daddy-nya itu.


''Saat kamu di bawa ke sini, apa kamu tahu siapa yang membawamu? Atau apakah kamu kenal dengan seorang wanita bernama Vanya? Vanya Avriella?'' tanya Chris. Kedua alis Leon berkerut saat mendengar pertanyaan dari Chris. Apalagi membawa nama seorang wanita yang tak ia kenal. Leon seketika menggelengkan kepalanya.


''Tidak, Dad. Aku tidak mempunyai kenalan wanita dengan nama itu. Memangnya kenapa?'' tanya Leon sambil ia terus berusaha mengingat nama-nama wanita yang pernah berkenalan dengan dirinya. Namun tak ada satupun di antara mereka yang bernama Vanya Avriella.


Chris bisa melihat ketegasan dari jawaban yang diucapkan oleh putranya. Jadi Chris bisa menangkap jika memang putranya itu tak ada kaitannya dengan wanita itu.


''Oh come on, Dad. To the point' saja, Okay? Jangan buat Leon semakin pusing mendengar perkataanmu yang tak jelas itu,'' ucap Leon sambil mulai memejamkan matanya. Ia masih merasa jika kepalanya sedikit pusing. Mungkin itu pengaruh dari luka yang mengenai kepalanya tersebut.


''Oke, Daddy akan cerita. Kemarin saat kecelakaan itu terjadi, ada seorang wanita yang mengantarkan kalian kesini. Menurut dokter, wanita itu adalah teman dari korban yang kamu tabrak itu. Lalu disaat yang sama, kamu kehilangan banyak darah dan kebetulan sekali stok darah di rumah sakit ini sedang kosong. Kamu tahu kan jika golongan darah mu itu sama dengan golongan darah mamamu? Kala itu, wanita bernama Vanya itu mendengar percakapan dokter dan seorang perawat tentang hal itu. Lalu wanita itu menawarkan bantuan dengan mendonorkan darahnya yang juga kebetulan memiliki golongan darah yang sama dengan darahmu.'' ucap Chris mulai menjelaskan kepada putranya itu. Leon mendengarkan dengan seksama. Ia mulai menangkap apa yang tengah terjadi saat ini.


''So?'' tanya Leon.


''Kau tahu, Son? Dokter mengatakan jika kecocokan golongan darah kalian sembilan puluh sembilan persen. Namun wanita bernama Vanya itu tidak mengetahuinya karena pada saat itu ia kelihatannya sedang buru-buru jadi tak menunggu proses semuanya selesai. Menurutmu, siapa wanita bernama Vanya itu? Sangat impossible jika wanita itu merupakan kerabat kita. Kamu tahu sendiri jika kita tidak mempunyai siapa-siapa kecuali mamamu, right?'' Leon seketika membeku setelah mendengar semua perkataan yang terlontar dari mulut Chris. Ia mulai berspekulasi sendiri mengira-ngira siapa gerangan wanita yang telah mendonorkan darahnya itu untuknya.

__ADS_1


Namun, beberapa saat kemudian ia terbelalak sambil tiba-tiba menggelengkan kepala. Seolah-olah mungkinkah apa yang ada dipikiran nya itu kenyataan atau hanya sekedar angannya saja.


'Mungkinkah? Bahkan kami tak bisa melacak keberadaan dulu. Aku sangat berharap jika dia benar-benar masih ada di dunia ini, Tuhan. Mungkinkah dia?' batin Leon. Pikirannya berputar-putar tanpa berhenti. Memikirkan berbagai macam kemungkinan besar yang terjadi saat ini.


Namun semua masih tampak abu-abu. Ia masih harus menyelidiki semua agar jelas. Tanpa ia sadari kedua manik matanya mulai terasa pedas. Ia sangat berharap jika Tuhan memang masih memberikannya kesempatan untuk bisa menemukannya.


'Tuhan, aku sangat berharap keajaiban mu memang benar adanya. Aku berdoa untuk mamaku dan juga dia,


''Kamu kenapa, Leon?'' tanya Chris saat melihat reaksi yang ditunjukkan oleh putra semata wayangnya itu. Leon seketika menatap lekat ke arah kedua mata hazel milik Daddy-nya.


''Mungkinkah dia, Dad?'' tanya Leon dengan suaranya yang tercekat. Ia menatap lekat ke arah mata sang Daddy. Chris yang tidak maksud dengan ucapan putranya hanya bisa menautkan kedua alisnya.


''Apa maksud mu, Son? Dia? Dia siapa?'' tanya Chris. Ia tak mengerti arah pembicaraan mereka saat ini.


''Mungkinkah dia adalah Ella, Dad? Mungkinkah Ella masih hidup?''


Deg


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2