Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 100 Vanya Bebas


__ADS_3

*tet


tet*


Terdengar suara bel gerbang rumah Marcell berbunyi. Salah satu penjaga disana keluar dari pos dan menghampiri pintu kecil disana.


srek


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya penjaga itu lewat lubang kecil yang ada di pintu. Penjaga itu melihat seorang laki-laki berseragam Hitam-hitam seperti bodyguard majikannya.


''Kami ingin bertemu dengan Nona Vanya.'' ucap orang itu. penjaga tampak bingung, namun ia teringat dengan ucapan majikannya jika jangan pernah membiarkan orang lain masuk ke dalam rumah nya.


''Maaf, Tuan. Tanpa ijin dari Tuan Marcell, anda tidak bisa menemui Nona Vanya.


Tanpa menunggu lebih lama laki-laki yang merupakan anak buah dari Leon itu segera menyemprotkan cairan ke dalam penglihatan penjaga itu. Seketika membuat penjaga itu berteriak kesakitan hingga memicu reaksi kedua temannya sesama penjaga.


Argh


Melihat penjaga itu mundur, membuat salah satu anak buah Leon langsing memasukkan tangan kanannya disana dan menarik tuas yang digunakan untuk membuka pintu.


''Ada apa?'' Teman penjaga itu tampak berlarian keluar dari pos saat mendengar teriakan temannya.


''Hei, siapa kalian?'' Sentak satu penjaga lainnya saat melihat beberapa orang berseragam Hitam-hitam memasuki gerbang.


Dua orang dari bodyguard itu langsung menerjang penjaga rumah dan membekukannya. Tak perlu waktu lama ketiga penjaga rumah itu kini sudah dalam keadaan terikat dan juga mulutnya di balut dengan plester hitam.


Ada sekitar sepuluh bodyguard yang masuk kedalam sana. Mereka berjalan menuju ke rumah utama. Setengah dari mereka terlibat perkelahian dengan keempat bodyguard yang ditugaskan oleh Marcell untuk menjaga Vanya.


*bugh


bugh


Argh


bugh


bugh*


Suara pukulan dan teriakan terdengar dari perkelahian mereka. Sedangkan lainnya memasuki rumah untuk mencari keberadaan dari Nona mereka.

__ADS_1


''Katakan! Dimana kamar Nona Vanya,'' ucap salah satu bodyguard pada pelayang yang ada di sana. Jelas tak ada keramahan di wajah mereka yang berseragam Hitam-hitam tersebut.


Seluruh pelayan saat ini sudah dikumpulkan di ruang tamu disana. Tak ada yang berani menjawab pertanyaan dari salah satu orang itu.


grep


''Katakan! Atau aku tidak akan segan-segan meskipun kalian disini merupakan seorang wanita.'' ucap bodyguard itu lagi sambil mencengkeram seragam milik salah satu pelayan disana.


''I-itu, Tuan.'' jawab pelayan itu sambil menunjuk kesalah satu pintu yang ada di bawah. Tiga orang bodyguard meninggalkan gerombolan pelayan itu dan berjalan menuju pintu kamar Vanya.


Sedangkan kedua bodyguard yang lain menjaga gerombolan pelayan tersebut.


Di dalam kamar Vanya tengah menikmati pemandangan di balik jendela nya sambil sesekali membayangkan hidupnya kelak. Untuk keluar dari rumah itu saja sulit apalagi jika hidup di luaran sana.


Samar-samar Vanya mendengar suara perkelahian dari luar rumah. Vanya sejenak diam, berusaha mendengarkan lagi. Benar, ia mendengarnya dengan jelas.


'Sepertinya ada yang berkelahi diluar sana. Aduh, siapa yang datang sekarang? Bagaimana aku bisa menjalankan rencanaku?' batin Vanya sambil menatap botol kaca kecil yang ada di atas meja rias.


Tak mau ambil pusing, Vanya pun tidak menghiraukan lagi apa yang di dengarnya itu. Saat ia tengah asyik dengan lamunannya, terdengar suar ketukan dari luar pintu.


*tok


Ceklek*


''Selamat malam, Nona.'' sapa ketiga orang berseragam Hitam-hitam sambil membungkukkan badan mereka saat Vanya membuka kamar pribadinya. Vanya tampak mengerutkan dahinya melihat penampilan mereka. pakaian yang sama, memiliki sikap yang sangat menghormatinya.


''Siapa kalian?'' tanya Vanya. Ia tak merasa takut sedikitpun. Ia mengira jika mereka merupakan bodyguard yang disewa Marcell untuk mengawasinya.


''Kami diperingatkan untuk membawa anda, Nona. Tuan kami ingin bertemu dengan Nona Vanya.''ucap salah satu diantaranya. Vanya semakin dibuat heran dan bingung.


'Marcell? Bukannya ia sudah berangkat tadi? Kenapa tidak jadi?' batin Vanya yang mulai takut jika rencananya diketahui olehnya.


''Marcell? Dia gak jadi berangkat?'' tanya Vanya.


''Bukan, Nona. Mari Nona, ikut kami. Jangan lupa bawa barang-barang berharga Nona,''imbuh bodyguard itu. Vanya kini memicingkan matanya menatap mereka. Ia yakin ada yang tidak beres disana.


''Lalu siapa? Atau jangan-jangan kalian suruhan Arga ya?'' tanya Vanya.


''Sebaiknya anda ikut kami, Nona. Agar Nona bisa mengetahui siapa yang ingin menemui Nona,'' sahut bodyguard itu lagi sambil memberikan jalan bagi Vanya.

__ADS_1


'Apakah mereka orang suruhanmu, Arga? Aku sangat berharap hal itu.' batin Vanya.


Tanpa pikir panjang, Vanya lalu menurut apa kata bodyguard itu. Ia segera kembali masuk ke dalam kamarnya. Berganti pakaian dengan pakaian yang lebih panjang dan tebal mengingat saat malam udaranya dingin.


Setelah itu, Vanya segera mengambil tas miliknya. Memasukkan beberapa dokumen pentingnya seperti paspor, dompet, dan beberapa peralatan makeup nya. Merasa sudah cukup dan lengkap, Vanya bergegas keluar dari kamarnya.


Diluar pintu ia sudah di sambut oleh ketiga bodyguard itu.


''Sialakan, Nona.'' ucap salah satu dari ketiganya. Vanya hanya mengangguk lalu berjalan diikuti oleh ketiganya di belakang Vanya.


*tap


tap*


Vanya berjalan menuju kearah ruang tamu. Ia begitu kaget saat melihat para pelayang dikumpulkan di sana. Vanya sampai melototkan kedua matanya saat melihat wajah ketakutan di wajah para pelayan itu.


'Sebenarnya mereka suruhan siapa? Kenapa sampai nekat kesini.' batin Vanya. Ia menelan ludah kasarnya saat mulai merasa ikut takut seperti para pelayan itu.


Tanpa ia sadari, Vanya berhenti di sana. Ia menatap ke arah para pelayan itu dengan tatapan iba. Ingin sekali ia membantu mereka tapi jelas mereka tidak akan sanggup.


''Mari, Nona.'' suar bodyguard tadi membuyarkan lamunan Vanya.


''I-iya.'' ucap Vanya lalu ia kembali berjalan menuju ke arah pintu masuk. Saat kakinya keluar dari pintu, Kedua mata Vanya terbelalak sampai menutup mulutnya dengan tangannya karena tersentak melihat pemandangan disana.


'Itu kan bodyguard yang disewa Marcell, kenapa sampai seperti itu? Sebenarnya mereka ini siapa? Aku jadi sedikit takut,' batin Vanya yang melihat keempat bodyguard Marcell babak belur dan du diantaranya sampai kehilangan kesadarannya. Kelima bodyguard yang menjaga bodyguard Marcell juga membungkukkan badan mereka kepada Vanya.


Vanya semakin bingung, ia merasa dirinya seperti Nona muda dari sebuah keluarga terpandang.


'Kenapa mereka seperti itu padaku? Aku merasa seperti Nona muda yang kaya raya saja,' batin Vanya.


Lalu Vanya pun kembali berjalan menuju ke arah gerbang rumah Marcell. Istana emas yang mengurungnya selama seminggu penuh itu. Wajah Vanya seketika berbinar saat ia sudah berada di luar pagar.


'Akhirnya aku bebas. Terimakasih, Tuhan. Engkau mengabulkan doaku. Thank's God,' batin Vanya yang lega karena bisa terbebas dari cengkeraman Marcell.


Vanya kembali berjalan sesuai arahan salah satu bodyguard itu. Terlihat ia digiring menghampiri sebuah mobil yang ada di pinggir jalan.


Saat ia hampir sampai, pintu mobil belakang itu tampak terbuka. Dari dalam sana muncullah seorang laki-laki gagah. Vanya tampak memicingkan matanya menelisik kearah laki-laki itu. Seketika kedua mata Vanya terbelalak saat melihat wajah tampan laki-laki itu.


''Bukankah dia....''

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2