Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 95 Tentang Marcell


__ADS_3

Marcell melihat Vanya yang menghampiri Arga tampak geram. Rahangnya mengeras hingga terdengar suara gemeletuk gigi-giginya menahan amarahnya yang kian meninggi.


''Akhirnya aku menemukanmu, baby.'' suara lembut Arga pada Vanya.


Bahkan tatapan mata Arga tampak berseri dan penuh cinta saat menatap Vanya.


Vanya hanya bisa menangis saat melihat keadaan Arga yang kini sudah sangat mengenaskan. Darah dan lebam dimana-mana, membuat hatinya ikut merasakan sakit.


I love you


Gerakan bibir Vanya saat mengatakan itu tanpa suara membuat Arga tersenyum bahagia. Ia sangat bahagia hanya dengan mendengar atau melihat Vanya.


Saat Vanya dan Arga saling pandang, tiba-tiba saja Marcell menghampiri keduanya dan dengan cepat ia menarik rambut Vanya hingga membuatnya mendongak dan meringis.


Argh


Arga yang melihat wanita yang dicintainya itu tengah diperlakukan bagai hewan oleh Marcell seketika membuat darahnya mendidih.


''Berani-beraninya kau, Vanya. Sini kamu,'' desis Marcell sambil menyeret tubuh Vanya memasuki rumah.


''Lepaskan tanganmu darinya, brengsek!'' teriak Arga sambil berusaha bangun dari tempat nya. Namun belum sempat ia berdiri dengan tegak, kedua bodyguard itu kembali menyerang tubuh Arga hingga membuatnya sampai muntah darah.


*Uhuk


uhuk*


Perlahan-lahan kedua mata Arga terasa berat. Namun pandangannya masih mengarah pada tubuh Vanya yang diseret bagaikan seekor hewan. Tangan kanan Arga terulur dengan posisi tubuhnya yang tengkurap berharap bisa menggapai wanita yang dicintainya itu. Kedua bodyguard itu masih terus menendangnya tanpa ampun meski Arga sudah tak bertenaga lagi.


Arga sampai meneteskan air matanya saat melihat wanita yang dicintainya itu mendapatkan perlakuan yang tak semestinya itu.


'Maafkan aku, Vanya. Seharusnya aku membawamu pergi sebelum laki-laki brengsek itu membawamu. Maafkan aku, Vanya.' batin Arga dan sejurus kemudian ia pun merasakan dunianya menggelap hingga kehilangan kesadarannya.

__ADS_1


'Andai aku diberikan kesempatan sekali lagi untuk membahagiakannya, aku pasti akan mmbuatnya selalu tersenyum dalam hidupnya. Dan aku akan menjaganya dengan seluruh jiwa dan ragaku untuknya.'


''Lepaskan, Marcell. Lepaskan. Argh,'' teriak Vanya sambil mencengkeram kuat lengan Marcell yang masih menarik rambutnya. Bahkan tubuhnya kini diseret memasuki rumah.


Brak


Sesampainya di dalam rumah, Marcell langsung membanting tubuh Vanya di meja kaca ruang tamu.


*prangg


Argh*


Suara pecahan kaca bersautan dengan suara teriakan Vanya yang terdengar sangat memilukan. Bagaimana tidak, seorang wanita yang mempunyai tenaga jauh di bawah laki-laki dihempaskan sekuat tenaga oleh Marcell. Tak ada yang berani mendekat ke arah keduanya. Bahkan para pelayan yang biasanya berkeliaran kini sudah tak nampak.


Hilang sudah kewarasan laki-laki itu saat ini. Ia dibutakan oleh api cemburu nya saat ia melihat bagaimana Vanya khawatir dengan laki-laki lain di depan matanya. Hingga membuatnya menjadi tak terkendali seperti saat ini.


''Sakit,'' lirih Vanya. Lelehan air mata mengalir deras dari kedua matanya. Luka yang kemarin belum sembuh sepenuhnya, kini kian terasa akibat bantingan Marcell. Tubuhnya terasa seperti dijatuhkan dari ketinggian beribu meter di atas lantai. Terkena pecahan-pecahan kaca membuat tubuhnya tergores.


''Sakit, hah?'' bentak Marcell sambil mencengkeram kuat rahang Vanya. Vanya hanya memejamkan matanya. Tak Sudi ia menatap wajah Marcell saat ini.


bugh


bugh


Argh


Teriak Marcell sambil mencengkeram kuat rambut nya sendiri karena frustasi. Frustasi karena ia kembali menyakiti Vanya hingga membuat wanita itu kehilangan kesadarannya.


''Bi? Bi?'' teriak Marcell. Bibi pelayan berlari tergopoh-gopoh menghampiri Marcell di sana.


''I-iya, Tuan?'' sahut Bibi.

__ADS_1


''Hubungi dokter sekarang juga,'' titah Marcell.


''Baik, Tuan.'' setelah mengatakan itu, Bibi segera pergi dari sana dan menghubungi dokter pribadi Marcell. Sedangkan Marcell langsung mengangkat tubuh Vanya dari pecahan-pecahan kaca dari meja tersebut. Membawa tubuh pingsan itu ke dalam kamarnya.


''Mengapa kau selalu menguji kesabaran ku, Vanya? Kau sangat mengenal bagaimana temperamen ku selama ini. Bahkan aku hampir saja membunuhmu barusan. Kenapa, Vanya? Kenapa? Tak bisakah kau kembali menjadi Vanya-ku yang dulu? Wanita penurut yang selalu sabar menghadapiku? hah?'' ucap Marcell sambil mengelus pipi lebam Vanya. Beberapa saat kemudian ia beranjak dari sana dan pergi meninggalkan kamar itu.


''Tuan?'' panggil salah satu bodyguardnya saat Marcell sudah berada di luar pintu.


''Ada apa?'' tanya Marcell dingin.


''Bagaimana dengan laki-laki itu, Tuan? Saat ini dia tidak sadarkan diri, Tuan.'' ucap bodyguard itu.


''Bawa dia pergi dari sini. lemparkan tubuhnya ke depan perusahaan nya. Juga dengan mobilnya.'' sahut Marcell.


''Baik, Tuan.'' setelah mengatakan itu, kedua bodyguard nya segera membawa tubuh Arga dan juga mobilnya meninggalkan rumah itu.


Marcell menunggu kedatangan dokter pribadinya di sofa ruang tamu. Disana juga terlihat dua pelayannya tengah sibuk membersihkan pecahan-pecahan kaca dari meja tersebut.


Marcell tampak merenung, memikirkan segala yang terjadi pada dirinya dan kehidupannya. Masih segar diingatan Marcell kala dulu ia berusaha mendekati wanita bernama Vanya Avriella. Wanita cantik yang cenderung diam, lembut, dan baik hati.


Hari-hari ia lewati bersama Vanya yang saat itu masih baru dalam dunia modeling. Marcell jugalah yang membimbingnya untuk bisa mencapai puncak tangga popularitas seperti yang Vanya inginkan sekarang ini. Namun semua perlakuan lembut Marcell sirna kala ia menyadari jika Vanya tak ada bedanya dengan wanita-wanita di luaran sana. Marcell bukanlah yang pertama bagi Vanya.


Semenjak saat itu Marcell berubah. Sikap lembut yang selama ini ia tunjukkan kepada Vanya hanyalah topeng belaka. Dengan tega menyakiti hati dan juga Vanya menggunakan tangannya sendiri.


Apakah salah Marcell? Ya, tapi tak sepenuhnya. Disini Marcell juga tak menyadari akan apa yang ada pada dirinya. Semenjak kecil ia selalu disuguhkan dengan kekerasan demi kekerasan yang dilakukan oleh Ayahnya pada Ibunya sendiri. Bahkan didepan kedua matanya, ia menyaksikan bagaimana menyeramkannya Ayah kandung Marcell menyiksa raga Ibunya hingga meregang nyawa.


''INGAT MARCELL. TAK ADA WANITA DI DUNIA INI YANG HANYA MENCINTAI SATU LAKI-LAKI SAJA. SEMUA WANITA ITU SAMPAH. MAKA DARI ITU, AYAH INGATKAN LAGI PADAMU. JANGAN PERNAH KAU MEMBERIKAN SELURUH HATIMU UNTUK SEORANG WANITA JIKA KAU TAK INGIN BERAKHIR SEPERTI AYAH. CAMKAN ITU, MARCELL!"salah satu dari kata-kata yang ditanamkan oleh sang Ayah yang terus terngiang di dalam benak Marcell.


Bahkan hingga ajalnya tiba , Sang Ayah masih saja mewanti-wanti putranya itu seperti apa yang selama ini ia ajarkan. Tepat diumur delapan tahun, Ayah kandung Marcell meninggal dunia menyusul Ibunya yang telah lebih dulu meninggal.


Setelah kedua orang tuanya meninggal, Marcell diboyong oleh keluarga dari pihak Ayahnya hingga ia diangkat menjadi anak oleh orang tuanya sekarang yang bernama John Darwin dan Evelyn Matthew.

__ADS_1


John Darwin sendiri merupakan adik dari Ayah Marcell yang bernama Jadon Darwin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2