
Setelah berusaha menolak Arga, akhirnya Vanya bisa lepas dan kini ia sedang berjalan menuju ruang make up yang ada di lantai bawah.
'Untung saja aku bisa terlepas darinya. Haih, pesonanya memang tak main-main. Siapa yang tak terpikat dengan tubuhnya yang sexy itu. Oh my God! Apa-paan aku ini, bisa-bisanya aku berpikiran ke arah sana. Sadarlah, Vanya. Sadarlah,' batin Vanya yang berusaha mengusir bayangan Arga yang kini memenuhi otaknya.
*tok
tok
tok
Ceklek*
Sesampainya di depan pintu, Vanya membukanya. Betapa terkejutnya ia melihat semua orang telah sampai disana. Para sahabatnya pun sudah berada di depan kaca mereka masing-masing dan sedang dirias oleh pihak MUA yang bertanggung jawab atas acara tersebut.
''Kemana aja sih, Nya? Ditungguin dari tadi juga.'' sembur Renata saat melihat kedatangan Vanya dari pantulan cermin yang ada di depannya. Seketika membuat semua orang yang sedang di rias menoleh ke arah Vanya.
''Sorry, gue tadi sakit perut banget,'' kilah Vanya disertai cengengesan. Ia merasa tak enak karena mereka menunggu kedatangan nya sejak tadi.
'Ish, semua gara-gara Arga.' gerutu Vanya dalam hati yang kesal dengan perilaku Arga hingga membuat dirinya terlambat datang.
''Sudah-sudah. Vanya, mulailah bersiap, Sayang. Mejamu di sebelah sana,'' ucap Mama Clarissa kepada Vanya sambil tangan kanannya menunjuk ke arah meja yang ada di sampingnya. Memang hanya meja itu yang masih kosong.
''Baik, Tante.'' ucap Vanya lalu ia segera menempati tempatnya dan mengikuti semua arahan dari salah satu perias disana.
Di kamar Vanya
''Haih. Susah sekali mendapatkannya. Tapi itu semakin membuatku tergila-gila padanya. Vanya, Oh God! Membayangkan saja bisa membuatku on. She's make me crazy,'' ucap Arga sepeninggalnya Vanya. Ia masih senantiasa tidur terlentang setelah kalah dengan Vanya.
__ADS_1
Ia tak menyangka jika Vanya mempunyai pendirian yang kuat hingga tak tergoda dengan rayuan-rayuan mautnya. Padahal jika wanita lain, tak perlu Arga menggoda mereka senantiasa dengan senang hati menyerahkan tubuh mereka dengan cuma-cuma.
*tringg
tringg
tringg*
Suara dering ponsel menyentak Arga. Dengan malas ia beranjak dari tempat tidur itu dan menyambar ponsel miliknya yang ada di atas nakas. Ia menghela napasnya kala kedua netranya menangkap sebuah nama yang terpampang di layar pipih itu.
''Hm,'' gumam Arga saat ia mengangkat panggilan itu sambil berjalan menuju ke arah jendela kamar.
''Sorry, Son. Papa nggak bisa hadir di acara Daniel hari ini. Tapi nanti malam Papa usahakan bisa hadir. Karena hari ini Papa ada meeting dengan salah satu relasi bisnis yang datang dari LN.'' Ucap Arya Wijaya.
Pandangan mata Arga masih menatap lurus ke depan seraya masih mendengarkan ucapan sang Papa.
''Baiklah,'' sahut Arga.
''Aku tidak akan pulang jika pembicaraan yang Papa maksud adalah mengenai pernikahan.'' ucap Arga tegas. Ia sudah muak dengan semua tingkah Papa yang selalu berusaha menjodohkan dirinya denga wanita di luaran sana.
''Ti-tidak, Arga. Baiklah, Papa tutup dulu teleponnya,'' ucap Arya Wijaya lalu panggilan terputus.
Arga hanya tersenyum tipis mendengar ucapan dari sang papa. Ia yakin jika memang itulah yang diinginkan oleh Papanya.
Namun sayang Arga masih belum memikirkan ke tahap itu. Ia hanya senang bermain-main di luaran sana tanpa terikat dengan wanita.
Tapi Arga tak tahu jika wanita yang saat ini ia kejar-kejar itu adalah tipe wanita yang sangat menjunjung tinggi sebuah komitmen. Oleh karena itu, ia menjadi korban kebengisan Marcell saat dirinya telah menjadi kekasihnya.
__ADS_1
Setelah menerima panggilan dari sang Papa, Arga langsung berjalan keluar dari kamar. Namun ia terlebih dulu menjulurkan kepalanya, menengok ke kanan dan ke kiri, melihat apakah ada orang lain atau tidak. Ia tak mau jika ada orang yang memergoki dirinya keluar dari kamar Vanya.
Setelah dirasa aman, Arga keluar dari kamar itu dan segera menuju kamarnya untuk bersiap-siap untuk acara pemberkatan yang dilaksanakan beberapa jam kemudian.
Beberapa jam kemudian
Terlihat Daniel sudah berdiri menunggu kedatangan calon istrinya itu. terlihat wajah gugup dari Daniel itu.
sedangkan yang lain seperti Alvin, Arga , David dan Alex juga sudah duduk di deretan kursi paling depan yang diperuntukkan bagi keluarga sang pengantin itu. mereka terlihat sangat gagah menggunakan setelan tuxedo warnanya sama-sama biru Dongker.
''Eh, eh. Lihat tuh muka Daniel! Kelihatan gugup banget. Hi-hi-hi,'' bisik Alvin kepada Arga dan David yang ada di sampingnya.
Kedua laki-laki itu langsung mengalihkan pandangan mereka ke atas altar. Dan benar saja, raut muka Daniel terlihat kaku sambil menautkan kedua telapak tangannya.
sstt ... sstt...
Bisik Alvin kearah Daniel. Tak beberapa saat kemudian Daniel melihat ke arah ketiga sahabatnya.
''Tarik napas bro. Jangan gugup,'' ucap Alvin kepada Daniel. Sedangkan Arga dan David hanya memperlihatkan kepalan tangan keduanya ke arah Daniel seakan memberi kode semangat padanya.
Setelah itu terlihat Daniel berulang kali menghela napas agar bisa mengurangi rasa gugup yang menderanya. Ia juga tak habis pikir, disaat ia dihadapkan dengan tander bertriliunan, ia tak pernah merasa gugup. Tapi saat ini, menikahi seseorang membuat dirinya gugup setengah mati.
Danish yang merupakan putra pertama Daniel dengan Annisa saat ini juga sudah bersama tuan Wang dan nyonya Wang (orang tua angkat Valerie). Danish terlihat sangat tampan menggunakan setelan tuxedo yang senada dengan milik ayahnya itu. Baik Daniel dan Danish saat ini menggunakan tuxedo berwarna hitam.
beberapa saat kemudian terdengar suara pintu utama yang mengarah ke taman yang saat ini digunakan untuk acara pemberkatan itu terbuka menandakan kedatangan dari mempelai wanita.
seketika semua orang yang ada di sana beserta tamu undangan berdiri dari duduknya untuk menyambut kedatangan sang pengantin wanita itu.
__ADS_1
Ceklek
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...