
SPC 128
Seperti yang sudah direncanakan, kini Vanya dan Arga sudah sampai di apartemen milik Leon saat hari sudah malam. Keduanya tampak saling berpegangan tangan saat tiba di sana. Leon belum bereaksi, ia hanya diam sambil mempersilakan keduanya untuk masuk ke dalam sana.
"Buatkan minum, Ell." Titah Leon kepada Vanya (Ella). Sebenarnya Vanya berat jika harus meninggalkan Arga bersama kakaknya. Tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perintah dari Leon.
"Baiklah," dengan langkah gontai, Vanya berjalan meninggalkan ruang tamu itu untuk segera menuju ke dapur.
Sepeninggal Vanya, Leon memberikan tatapan tajam kepada kekasih dari adiknya itu.
"Apa kau mencintai adikku?" Tanya Leon to the point'. Arga yang mendengar pertanyaan itu seketika mengangguk cepat. Tak ada sedikitpun keraguan yang terpancar dari wajah laki-laki itu.
"Ya. Sangat mencintainya," jawab Arga dengan tegas.
"Jika kau memang mencintainya, kenapa kau membiarkan adikku mendapatkan perlakuan buruk dari laki-laki brengsek seperti Marcell, huh?" Tanya Leon yang seketika membuat Arga tersentak.
'Jadi, dia sudah tahu hubungan Vanya dengan dia?' batin Arga. Ia tak menyangka jika Leon sampai mengetahuinya.
"Ya, itu memang kesalahan terbesarku. Kesalahanku yang membiarkan Vanya terus bersama dengan laki-laki itu. Tapi sebelumnya aku sudah ingin membawa Vanya pergi darinya. Tapi Vanya menolak. Dia jugalah yang ingin hubungan kami dirahasiakan. Meski sebenarnya aku tak menyukai itu," jawab Arga apa adanya. Ia memang kurang setuju saat Vanya memilih untuk merahasiakan hubungan keduanya. Padahal seringkali Arga meminta Vanya untuk meninggalkan Marcell, tapi nyatanya Vanya berkata jika ia belum siap
Mengingat konsekuensi yang akan dihadapinya begitu banyak.
"Jadi kamu bilang jika semua itu salah Ella?" Tanya Leon mengintimidasi Arga. Namun laki-laki itu seakan tak merasa ciut nyalinya meski mendapatkan tatapan tajam dari Leon.
"Ya. Memang salah Vanya," bahkan Arga tak ragu untuk menyalahkan adik laki-laki itu karena peristiwa dulu. Leon yang mendengarnya seketika melototkan kedua matanya. Ia tak menyangka jika Arga tipe orang yang tegas dan to the point'. Tak ada basa-basi ataupun sekedar menutupi kesalahan Ella. Justru dengan berani Arga menyudutkan wanita itu.
__ADS_1
Tepat saat Leon ingin membuka mulutnya kembali, Ella terlebih dulu datang hingga membuat Leon mengurungkan niatnya. Setelah meletakkan tiga gelas di atas meja Ella segera duduk di samping Arga yang duduk bersebrangan dengan Leon.
Namun sebelum ia itu terjadi, dengan cepat Leon menarik tangan Ella hingga membuat wanita itu cemberut dan mau tak mau akhirnya duduk di sebelah kakaknya.
Melihat Leon mengangkat gelasnya dan minum, Arga dan Vanya melakukan hal yang sama. Keduanya meminum minuman keduanya dengan saling pandang. Seakan keduanya saling melemparkan kode.
'Apa Kakakku tanya sesuatu padamu?' tanya Vanya dalam hati sambil menatap lekat ke arah Arga. sedangkan Arga yang tak mengerti dengan gerakan mulut Vanya hanya bisa mengendikkan bahunya. Vanya hanya bisa menghela napasnya melihat hal itu.
"Aku hanya akan mengatakan sekali ini saja." Ucap Leon tiba-tiba hingga membuat Arga dan Vanya saling pandang lalu keduanya berlatih menatap ke arah Leon.
"Jaga Ella dengan seluruh hidup dan nyawamu. Karena aku tak akan membiarkanmu hidup damai jika kau melukainya meski hanya seujung kukupun. Aku akan membuatmu hidup tak ingin dan matipun tak mampu," Leon mengatakan itu dengan suara beratnya. Ia tak main-main dengan ucapannya. Kedua matanya menatap tajam pada Arga.
Arga yang mendengar ultimatum dari calon kakak iparnya itu hanya bisa mengangguk. Ia pun juga tak akan membiarkan orang lain berusaha melukai Vanya. Cukup Marcell, kesalahan terbesar yang dilakukan Arga pada Vanya. Ia tak ingin lagi melihat. Vanya mengeluarkan air mata kesedihan disaat bersamanya.
"Tentu. Aku akan mempertaruhkan segalanya untuk membuatnya bahagia," ucap Arga dengan tegas. Leon tersenyum tipis mendengar ucapan tersebut.
Vanya yang melihatnya seketika terkejut. Dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah sang kakak.
"Kak," panggil Vanya. Namun Leon hanya menatap Vanya dengan tatapan mata tajamnya. Vanya kemudian menundukkan kepalanya. Dalam kepalanya penuh dengan ketakutan nya dengan apa yang dilakukan oleh Leon.
"Tentu. Jika memang Vanya hanya bisa bahagia dengan kematianku, aku bersedia mati untuknya." Jawab Arga dengan tatapan mata yang berpindah kepada Vanya. Vanya yang tadinya sibuk dengan pikirannya seketika tersadar dan langsung menatap ke arah Arga.
Kedua mata Vanya tampak berkaca-kaca setelah mendengar perkataan dari Arga. Keduanya saling mengunci pandangan mereka satu sama lain tanpa memedulikan Leon yang masih berada di sana.
Namun dalam hati Leon merasa lega saat mengetahui sang adik berada di tangan yang tepat. Ia tahu bagaimana sepak terjang Arga selama ini. Tak pernah sekalipun Arga menghianati adiknya meski keduanya terpisah beberapa tahun.
__ADS_1
'Berbahagialah, adikku sayang. Kini saatnya kamu untuk menikmati hidupmu kedepan dengan penuh kebahagiaan dari laki-laki yang benar-benar mencintaimu. Namun meski kakak melepaskanmu, tapi kakak akan terus mengawasi kalian dari jauh.' batin Leon yang ikut bahagia melihat Vanya bahagia dengan pilihannya. Perlahan ia menurunkan pis*tol itu dan memasukkan ke dalam sakunya kembali.
"Ehem," deheman dari Leon seketika membuat kedua insan itu gelagapan. Keduanya lupa jika masih ada Leon diantara mereka. Vanya terlihat memerah karena malu, sedangkan Arga tampak biasa saja. seakan tak terjadi apapun.
"Jangan bahagia dulu. Kau harus bertemu dengan Daddy dan Mommy dulu," ucap Leon seakan memberitahu Arga bahwa pemegang kewenangan masih berada di tangan kedua orang tuanya.
"Ya. Aku akan segera mendatangi Tuan dan Nyonya Nerotouw," ucap Arga yakin. Leon hanya menganggukkan kepala mendengar ucapan tersebut. Ia pun melirik kearah jam tangannya.
"Kalau begitu, pulanglah. Kita akan pergi besok untuk bertemu dengan orang tua kami," ucap Leon yang mengusir Arga secara terang-terangan.
Vanya yang mendengar ucapan tersebut seketika tak suka dan menatap tajam sang kakak. Namun Leon seakan tak tahu akan wajah masam Vanya. Meski dalam hati ia sangat bahagia melihatnya, tapi ia bersungguh-sungguh saat mengatakan itu. Cukup semalam ia kecolongan membiarkan pergi bersama Arga. Untuk sekarang tidak lagi sebelum keduanya melangsungkan pernikahan mereka.
Melihat Arga yang masih diam terpaku di tempatnya, membuat Leon mengeryitkan dahi. Ia juga bisa melihat wajah ketidakrelaan yang terpancar dari wajah Arga dan Vanya. Leon hanya bisa menghela napasnya.
"Tunggu apa lagi? Pergilah," ucap Leon sekali lagi. Arga yang mendengarnya hanya bisa mengangguk dengan lesu. Baru saja ia bisa bersama dengan sang kekasih, kini ia harus berpisah lagi karena permintaan Leon. Ia tidak bisa berbuat apa-apa mengingat Vanya memang masih belum menjadi miliknya seutuhnya.
"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Besok aku akan kesini lagi," ucap Arga. Lalu ia beranjak dari tempat duduknya diikuti oleh Vanya. Leon tampak menatap ke arah sang adik.
"Mau kemana?" Tanya Leon sambil memegang tangan kanan Vanya. Vanya gelagapan, segera ia mencari alasan pada kakaknya itu.
"A-aku akan mengantar Arga sampai depan," jawab Vanya seraya melepaskan tangannya dari genggaman Leon. Ia pun berjalan menyusul Arga yang sudah berjalan lebih dulu. Namun sebelum ia berjalan lebih jauh, ia seketika berhenti saat mendengar ultimatum dari kakaknya.
"Satu langkah lagi, kakak tak akan merestui hubungan kalian,"
Duar
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...