
"Halo Pa," sapa Arga saat menerima panggilan dari sang papa.
"Dimana?"
"Masih di apartemen. Ada apa?" tanya Arga. Ia melihat ke arah Alvin yang menatap penuh arti kepadanya seolah bertanya pada dirinya perihal yang dibicarakan oleh Arya Wijaya.
"Bisa pulang sekarang? Papa mau bicara denganmu, dan ini penting."
Arga mengeryitkan dahinya mendengar ucapan dari papanya. Sepenting apakah hingga membuat laki-laki yang berusia setengah abad itu ingin segera menemui putra semata wayangnya itu.
"Bicara apa, Pa? Tidak bisakah dibicarakan lewat telepon saja?" tanya Arga yang berusaha untuk menghindar. Ia masih enggan untuk pulang ke rumah itu. Rumah dimana semua kenangan dari terindah hingga terburuk itu tercipta.
"No, Son. We have to meet right now, (Tidak, Nak. Kita harus bertemu sekarang juga)"
'Apa yang diinginkan oleh nya? Haruskah aku kembali ke rumah itu? rumah dimana semua kenangan buruk itu terjadi.Tapi aku juga tidak bisa mengabaikan perintah nya,' Arga terus bertarung dengan hatinya. Disaat ia ingin bertemu dengan papanya, tapi disisi lain ia tak mau kembali ke rumah itu. Rumah dimana menyebabkan dirinya membenci wanita.
Arga akhirnya menghela napasnya, mencoba untuk menuruti kemauan sang papa.
"Baiklah, Arga akan pulang sekarang," jawab Arga pada akhirnya menuruti perintah dari Arya Wijaya.
Setelah Arga mengatakan itu, panggilan tersebut langsung diakhiri oleh orang yang ada di seberang sana.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Alvin.
"Gue disuruh pulang sama bokap," jawab Arga.
"Mau ngapain lagi tuh bokap mau ketemu sama loe? Jangan-jangan loe mau dijodohin lagi kayak waktu itu," ucap Alvin yang menebak maksud dari permintaan papa Arga yang ingin bertemu sekarang.
"Who know's," ucap Arga sambil mengendikkan bahu. Sejujurnya ia juga malas kalau menuruti kemauan sang papa jika menyangkut tentang hal asmaranya.
"Ck, menyebalkan. Yasudah kalau begitu, gue pergi saja," ucap Alvin lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Hm, pergilah. Gue juga mau siap-siap dulu," ucap Arga yang kemudian juga beranjak dari sana dan pergi ke kamar.
Setelah tiga puluh menit kemudian, Arga sudah bersiap dan pergi meninggalkan apartemen tersebut.
'Mobil siapa nih,' ucap Arga dalam hati. Ia mulai merasakan tak enak dalam hatinya. Arga bisa menyimpulkan bahwa ada tamu yang kini berada di dalam rumah papanya.
Tak mau memikirkan hal itu, kini Arga turun dari mobilnya setelah memarkirkan mobil itu di samping mobil milik sang tamu.
Dengan menggunakan setelah santainya, Arga berjalan memasuki ruang mewah tersebut. Sayup-sayup ia bisa mendengar suara beberapa orang yang tengah tertawa dari dalam sana. Semakin lama semakin terdengar jelas kala langkah kaki Arga sudah berada di dalam sana.
Deg
__ADS_1
Arga seketika menghentikan langkahnya kala kedua netranya menangkap sosok wanita yang kini masih tertawa bersama dengan orang yang ada di sana. Untuk beberapa saat Arga terdiam, hingga sebuah suara yang menginterupsi hingga membuat keempat orang yang ada di ruang tamu itu menoleh kearah pintu masuk.
"Tuan Arga? Silakan masuk, Tuan." sapa seorang pelayan pada Arga.
Melihat kedatangan putranya, membuat Arya Wijaya bangkit dari duduknya dan memanggilnya untuk segera mendekat padanya.
"Arga? sini, Nak. Papa kenalkan kamu dengan tamu papa," ucap Arya Wijaya hingga membuat Arga mau tak mau mendekat ke arah papanya.
'Oh, sh....it. Ngapain dia kesini,'
Sesampainya di samping papanya, Arga masih memperlihatkan wajah datarnya. Ia semakin merasa malas untuk duduk bersama mereka mengingat ada seorang wanita yang sangat dibencinya.
"Arga?" panggil seorang wanita cantik yang memakai sebuah dress ketat berwarna merah itu. Saking ketatnya, pakaian yang dikenakannya bisa memperlihatkan bentuk tubuhnya dengan jelas. Mempunyai tubuh tinggi dan body goals membuat wanita itu tampak seperti model papan atas.
Ketiga orang tua disana tentu terkejut kala menyadari bahwa anak-anak mereka ternyata sudah saling kenal. Bahkan Arya Wijaya tampak tersenyum tipis melihat ekspresi wanita itu yang bahagia melihat anak laki-laki nya.
"Kalian sudah saling kenal, Laura?" tanya sang Papa kepada putrinya.
Laura A. Allison merupakan seorang desainer muda dan pemilik dari butik yang bernama Allie Boutique. Ia juga merupakan putri semata wayang dari pasangan James Allison dan Jane Sitorus. Di usianya yang kini menginjak di angka dua puluh tujuh tahun ini, ia telah memiliki beberapa cabang butik yang tersebar di beberapa negara. Sedangkan sang papa - James Allison adalah pengusaha sukses yang bergerak dalam bidang teknologi elektronik, Allison Company.
"Tentu saja. Iya kan, Arga?"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...