
Suasana di dalam sebuah kamar mewah masih terlihat tegang. Tampak sepasang manusia masih berada di atas sebuah ran..jang dengan si wanita yang masih menutupi tubuh po ..losnya dengan selimut. Sedangkan laki-lakinya sudah mengenakan kolor dan duduk di pinggiran ran...jang.
Selain mereka berdua tampak seorang wanita satu lagi yang berdiri tak jauh dari ran...jang itu dan menatap tajam keduanya.
''Van?'' panggil Marcell. Ia beranjak dari duduknya dan hendak menghampiri Vanya. Namun dengan cepat Vanya menghentikannya.
''Stop, Marcell. Aku belum selesai,'' ucap Vanya sambil mengisyaratkan tangannya kepada Marcell untuk berhenti. Keduanya tampak diam, lalu tiba-tiba suara Laura menyela keduanya.
''Lalu bagaimana denganmu, Vanya? Bukankah kamu juga wanita Marcell?'' tanya Laura dengan tidak tahu dirinya. Marcell yang mendengar hal itu seketika mendidih.
''Tutup mulutmu, Laura. Jangan coba-coba mencampuri hubunganku dengan Vanya.'' gertak Marcell sambil menunjuk kearah Laura. Laura tersentak mendengar suara keras Marcell. Ini pertama kalinya ia mendengar Marcell mengeluarkan suara keras. Padahal Marcell selalu hangat dengan semua orang, bahkan cenderung ramah dan humoris.
Vanya yang melihat ketakutan Laura langsung terbahak-bahak.
Hahaha
''Sepertinya kamu belum mengenal Marcell lebih jauh, Laura. Aku sarankan untukmu agar lebih dulu mengenal Marcell luar dalam jika kamu ingin menjadi wanitanya. Lalu untuk pertanyaanmu tadi, aku akan menjawabnya.'' ucap Vanya kemudian menghela napasnya sebelum kembali mengeluarkan suaranya.
''Kamu bertanya pada ku, bukan? Bagaimana jika aku menjawabnya karena terpaksa. Apa kamu mempercayainya, Laura?'' ucap Vanya santai.
''VANYA!'' suara Marcell menggelegar di dalam kamar itu saat mendengar jawaban dari mulut Vanya. Sejenak Vanya memejamkan matanya mendengar teriakan Marcell yang memekakkan telinganya. Namun sedetik kemudian ia membuka matanya dan ia tersenyum lagi menatap ke arah Laura yang tampak bergetar hebat karena ketakutan.
''See? Baru segini kamu sudah ketakutan, Laura. Kamu yakin masih ingin bersama Marcell? Kamu ingin tahu lagi Marcell itu seperti apa orangnya, hah? Aku akan memperlihatkannya padamu sekarang.'' Ucap Vanya santai lalu ia berjalan kearah Marcell yang masih berdiri di samping ranjang itu.
Vanya menatap lekat kedua mata Marcell begitu juga sebaliknya.
''We are done, Marcell Darwin.'' ucap Vanya tegas sambil tersenyum miring kepada Marcell. Mendengar perkataan itu seketika emosi Marcell membuncah. Dengan gerakan cepat ia menggenggam erat kerah baju yang dikenakan Vanya dan mendekatkan wajah cantiknya kearah wajahnya. Karena tubuh Vanya yang lebih pendek darinya, membuat Vanya tampak berjinjit dibuatnya.
''Apa kamu bilang?'' tanya Marcell dengan giginya yang terdengar bergemeletuk.
__ADS_1
''We are done.'' jawab Vanya. Tak perlu menunggu waktu lama lagi Marcell membanting tubuh Vanya kesamping hingga membuat pinggang Vanya menabrak nakas.
Brakk
Marcell kembali menghampiri Vanya lalu dengan cepat ia meraih rambut cokelat Vanya dan menariknya kebelakang. Lalu dengan cepat Marcell menam..par kedua pipi Vanya secara bergantian.
*Plak
Plak*
''Kita tidak akan pernah berakhir, Vanya. Jangan memancing amarahku jika tak ingin seperti yang sudah-sudah.'' bentak Marcell pada Vanya. Bukannya takut, Vanya malah tersenyum. Dan itu semakin membuat Marcell terbakar jiwa kasarnya.
*Bugh
Bugh
Pukulan demi pukulan Vanya dapatkan dari Marcell hingga membuat wajah cantik Vanya lebam hingga mengeluarkan darah di kedua sudut bibirnya.
Tak mau membuat Vanya kehilangan nyawa, Marcell melampiaskan amarahnya yang masih tersisa pada barang-barang yang ada di sekitarnya.
*Argh ...
prang ...
prang* ...
Barang-barang yang berada di sekitar Marcell kini sudah hancur karena dibanting olehnya. Dalam diamnya Vanya tampak tersenyum lalu perlahan ia berusaha bangkit dari duduknya. Sedangkan Marcell masih berusaha mengatur deru napasnya yang masih memburu.
''Bagaimana, Laura? Kamu sudah melihatnya, bukan? Inilah Marcell Darwin sesungguhnya jika kamu belum mengenalnya. Dan apa kamu yakin bisa betah dengan laki-laki seperti itu? Pikirkan itu baik-baik, Laura.'' ucap Vanya kepada Laura yang masih bergetar hebat saat ini. Melihat wajah pucat Laura membuat Vanya tertawa dalam hati. Lalu ia membalikkan badannya dan pergi meninggalkan kamar itu.
__ADS_1
''Berhenti. Mau kemana kamu, Vanya?'' tanya Marcell saat Vanya sudah hampir di ambang pintu.
''Pergi dari sini. Aku sudah muak melihat kalian. Lanjutkan lagi permainanmu, Marcell. Tapi aku hanya berpesan satu hal. Bersikap lembut lah pada Laura setelah ini,'' ucap Vanya sambil tersenyum miring lalu pergi meninggalkan kamar itu tanpa menutup pintu tersebut.
*Ah .... ampun .... jangan .... ah ...
ja..lang... rasakan ini ... huh ....
sakit .... ampun* ....
Samar-samar Vanya mendengar teriakan dari Laura yang kesakitan. Ia yakin jika saat ini Marcell tengah menyetu...buhi Laura dengan sangat kasar. Itulah harga yang harus didapatkan jika sudah membangunkan sisi kejamnya Marcell. Laki-laki itu tak akan pandang bulu dalam melampiaskan amarahnya.
''Selamat menikmati nerakamu, Laura.'' gumam Vanya lalu ia pergi meninggalkan Mansion mewah tersebut.
Dengan menyetop sebuah taksi, ia pergi meninggalkan tempat itu dan menuju apartemen miliknya.
''Ini, Pak. Terimakasih,'' ucap Vanya saat ia memberikan ongkos kepada supir taksi itu. Setelah itu Vanya keluar dari mobil tersebut dan melangkahkan kakinya memasuki lobi apartemennya. Dengan menggunakan masker hitamnya, Vanya menyembunyikan luka lebamnya agar tidak dilihat oleh orang lain.
Ting
Pintu lift terbuka, Vanya melangkahkan kakinya memasuki ruangan sempit itu dengan wajahnya yang menunduk. Ia merasa melewati seseorang karena melihat sepasang sepatu hitam mengkilat saat ia hendak masuk ke dalam sana.
Namun ia tak mau ambil pusing dan tetap masuk ke dalam lift. Setibanya di dalam lift, ia segera memencet nomor 15 dimana apartemen miliknya berada.
Saat pintu lift itu akan tertutup rapat, sebuah tangan menyela hingga membuat pintu lift itu kembali terbuka lebar. Vanya yang melihat itu seketika mendongak. Kedua mata Vanya terbelalak melihat siapa yang kini memasuki lift yang sama dengan dirinya itu.
''Oh, sh ...it,''
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1