Sang Penakluk Cassanova

Sang Penakluk Cassanova
Bab 52 I can't Arga!


__ADS_3

Ceklek


Tubuh Vanya menegang saat melihat wajah tampan Arga. Masih dengan ponsel di telinga, kedua insan tersebut tetap diam sambil saling pandang. Apalagi penampilan Vanya yang menggunakan bathrobe itu. Wajah fresh tanpa polesan makeup sedikitpun membuat Vanya semakin mempesona.


'Sh...it!' umpat Arga saat merasakan miliknya bereaksi melihat pemandangan di depan kedua matanya itu.


Beberapa saat kemudian Vanya tersadar dari lamunannya. Jantungnya berdegup kencang melihat Arga yang mendatangi kamarnya ditengah malam seperti ini.


''A-Arga? A-ada apa kesini?'' tanya Vanya tergagap. Ia merasakan udara disekitarnya berkurang, membuatnya seakan tercekat saat ini. Langkah Arga mendekati lalu ia segera menarik pinggang Vanya hingga membuatnya menempel pada tubuh kekarnya.


''I Love you, Vanya.'' setelah mengatakan itu dengan cepat Arga mendekatkan wajahnya dan menci...um bibir Vanya.


Cup


Kedua mata Vanya melotot mendapatkan perlakuan itu. Tubuhnya membeku, pikirannya melayang jauh entah kemana. Arga yang melihat tak ada penolakan dari Vanya kembali mendekatkan wajahnya dan meletakkan tangan kanannya di belakang tengkuk Vanya.


Arga Melu..mat bibir ra...num itu dengan lembut. Vanya yang masih terdiam membuat Arga tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia mendorong tubuh Vanya kebelakang hingga membuatnya masuk ke dalam kamar milik Vanya.


Arga menyandarkan tubuh Vanya di dinding sebelah pintu kamar itu setelah menutupnya rapat.

__ADS_1


'Kenapa tubuh ku tak menolak Arga? Kenapa aku justru merasakan debaran aneh seperti orang yang jatuh cinta? Tidak mungkin kan aku jatuh cinta padanya? Oh come on, Vanya. Ini seharusnya tidak terjadi. Tapi aku tak mampu menolaknya,' batin Vanya bergejolak saat ini.


'Entahlah. Toh Marcell juga sudah menghianatiku. Aku hanya ingin mengikuti naluri ku saja,' imbuh Vanya lalu perlahan ia membalas ci...uman itu.


Arga yang merasa Vanya juga membalasnya merasa bahagia. Kedua manusia tersebut terus saling bertukar Saliva bahkan yang tadinya lembut kini semakin membara.


Tanpa sadar Vanya mengangkat kedua tangannya menyusuri dada bidang Arga, semakin keatas hingga akhirnya Vanya mengalungkan kedua tangannya di leher laki-laki itu.


Merasa sudah hampir kehabisan pasokan napas mereka, Arga pun melepaskan ci...uman itu lalu menyatukan keningnya dengan kening Vanya.


Hosh ... hosh ...


Deru napas keduanya saling bersautan, seakan berlomba saling menghirup dalam-dalam napas mereka. Bahkan Vanya saat ini masih memejamkan matanya, merasakan kembali ci..uman panas mereka.


''I love you, Vanya.'' ucap Arga disela-sela napas ngos-ngosannya. Mendengar ucapan tersebut membuat Vanya membuka kedua matanya.


Kini Vanya sedikit mendorong dada bidang Arga hingga keduanya berhadapan. Kedua mata Vanya menatap mata Arga dalam-dalam, seakan mencari kebohongan atas ucapan yang terlontar dari mulut Arga. Namun ia tak menemukannya.


''I can't, Arga.'' ucap Vanya lalu menundukkan kepalanya, menghindari tatapan mata Arga yang seakan menembus relung hatinya. Ia menggelengkan kepalanya menolak ucapan dari Arga. Ia tak boleh membalas perasaan Arga padanya. Ia milik Marcell. Ia tak akan pernah dilepas oleh laki-laki itu.

__ADS_1


''Why?'' tanya Arga sambil terus menatap Vanya yang masih menundukkan kepalanya. Namun Vanya hanya bisa geleng-geleng kepala tak memberikan alasan yang jelas kepada Arga.


''Hey, look at me!" titah Arga sambil menyentuh dagu Vanya dan mendongakkan kepalanya agar menatap wajahnya.


''Tak bisakah kau tinggalkan laki-laki itu? Dia menyakitimu, Vanya. Dia tak pantas untukmu.'' ucap Arga sambil menatap lekat ke arah kedua mata Vanya.


''Kita tak mungkin bisa bersama, Ar. Aku miliknya dan kamu tahu hal itu. Dia tak akan pernah mau melepaskan ku,'' ucap Vanya dengan mata yang kian memerah. Tak lama kemudian kedua mata indahnya mulai berkaca-kaca menatap Arga.


''Asalkan kamu mau bersamaku, aku akan melindungi mu, Vanya. Aku janji padamu,'' ucap Arga sambil memegang kedua tangan Vanya. Ia berharap Vanya mau membukakan pintu hatinya untuk dirinya.


''A-aku..'' belum sempat Vanya meneruskan ucapannya, Arga dengan cepat melahap bibir tipis itu dengan rakusnya. Vanya yang tadinya diam kini mulai membalasnya. Kedua tangannya kembali melingkar di leher Arga.


''I love you,'' ucap Arga disela-sela ci.. umannya.


Arga dan Vanya terhanyut dalam ci..uman penuh gairah tersebut. Keduanya saling memejamkan mata, merasakan perasaan yang mengalir diantara keduanya.


Tak puas dengan posisi itu, Arga pun melepaskan ci...uman tersebut. Kedua mata mereka sudah saling berbalut hawa naf..su yang kian membara.


Pandangan mata Arga menatap lekat ke arah manik mata Vanya yang kini kian sayu. Deru napas mereka saling memburu. Tanpa ba bi bu, Arga langsung menggendong tubuh ramping Vanya dan membawanya menuju ranjang kamar tersebut.

__ADS_1


*Ah


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...


__ADS_2